Follow Us @riafasha

Thursday, July 1, 2010

Tentang Rani + Izin Pergi

Aku menyukai pantai lebih dari segalanya. Aku… menyukai aroma ombak yang membuatku lebih tenang kala hati sedang gundah. Aku menyukai siluet senja yang menggambarkan kesejukan hati di antara kicauan camar. Hampir setiap senja tak pernah kulewati untuk menikmati anugrah indah yang bisa kulihat dari kasih sayang Sang Pencipta lewat kedua mataku.

Pantai, membuatku tak pernah sendiri. Sejak kecil aku seringkali bercengkrama bersama para nelayan. Hampir setiap nama nelayan aku hafal, mulai dari Sang Nahkoda hingga awak kapal. Tentu saja, karena kakek ku adalah Seorang Pelaut Handal. Aku sangan bangga dengan kakekku. Setiap senja aku menunggu kakek di dermaga. Jika cuaca sedang bagus maka tangkapan akan lebih banyak, dan kesempatan itu tak akan kusia-siakan. Aku biasanya meminta udang besar untuk dipanggang bersama Rani. Rasanya enak sekali lho.

Oh ya.. aku hampir lupa untuk menceritakan sahabat pantaiku. Ia cantik tapi tak terurus. Namanya Rani, wajahnya serupa magnet, membuat senyum sulit tersungging di bibirnya. Ibuku seringkali melarang untuk berteman dengan Rani. Tapi aku tak pernah mau menurutinya. Karena Ibu sendiri yang pernah bilang berteman itu tak memandang status dan penampilan.

Rambutnya cepak, tangannya kasar karena seringkali mengerjakan pekerjaan laki-laki. Kalau melihatnya dari jauh semua orang akan mengiranya seorang laki-laki hehehe….

Rani anak pertama dari empat bersaudara, adiknya masih sangat kecil. Ibunya seorang buruh cuci, sedangkan ayahnya seorang awak kapal. Sama seperti kakekku, Cuma bedanya ayah Rani seringkali tidak bertanggungjawab terhadap keluarganya. Kakek kadang bercerita tentang perangai Ayah Rani yang suka mabuk dan suka memukuli istrinya.

Aku kasihan sekali pada Rani, di umurnya yang tergolong masih belia, ia harus menjadi tulang punggung keluarga. Kadang-kadang ia menjualkan ikan tangkapan para nelayan. Sering juga aku melihatnya menawarkan kantong plastik pada para pembeli di pasar. Aku miris melihatnya, seharusnya ia bisa menikmati masa-masa sekolah, bermain bersama teman-teman. Semua itu hanya sebuah mimpi bagi seorang Rani.

Pernah disuatu senja aku melihat Rani menhela air mata sambil menatap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Aku bertanya-tanya… tapi itulah Rani yang kukenal, ia takkan mampu berbagi duga padaku. Ia lebih senang mendengar ceritaku tentang sekolah, tentang teman-temanku yang nakal.

“Sha cerita lagi, apa saja pelajaranmu di sekolah?”
“Hmm.. tadi Asha belajar Planet Ran. Ternyata ada banyak lho…” aku melihat mata Rani berbinar. Namun tak bisa berkata apa-apa.
“Rani mau Asha ajarin?? Nanti asha bawa bukunya ya?” Rani hanya tersenyum simpul dengan mata berkaca-kaca saat aku menawarkan mengajarinya.

Aku berjanji besok siang akan mengajarinya tentang planet-planet. Aku yakin dia pasti suka dengan pelajaran tentang IPA, apalagi tentang antariksa. Karena dia sering bercerita tentang arti rasi bintang yang bisa membantu nelayan di malam hari. Begitu juga tentang pesan-pesan alam yang tampak di sekitar pantai. Seperti lumba-lumba yang meloncat-loncat di tengah laut siang hari itu menandakan akan terjadi badai.

Pernah aku berfikir, kalau saja ada yang mau menyekolahkan Rani, ia pasti akan menjadi sangat pintar. Tidak sekolah saja ilmunya sudah luas sekali. Malah dia yang sering membuatku berfikir jauh lebih luas tentang kehidupan ini. Membuatku semangat untuk menggapai cita-cita. Karena hidup ini bukan hanya antara sekolah-rumah-dan pantai saja.

“Asha tau apa yang ada dipulau sebrang itu?” Rani menunjuk sebuah pulau dari ujung dermaga pada suatu sore. Aku hanya menggelengkan kepala.

“Bagaimana mau tahu, kalau kita tidak kesana. Begitu juga dengan keberhasilan. Bagaimana mau berhasil kalau kita tidak mencoba.” Saat itu hanya mengiyakan, walaupun otak ku belum bisa mencerna apa yang dimaksud Rani. Kalau istilah kami pada saat itu aku ini disebut “telmi” alias Telat Mikir. Hehee..

***
Keesokan harinya aku menunggu Rani di tempat biasa kami bertemu. Aku duduk di sebuah batu karang yang agak besar sambil menikmati udara sore itu. Wah.. ternyata sedang pasang kering. Aku sudah tak sabar menunggu Rani, karena biasanya kami suka mencari kerang dan lokan ketika pasang kering.
Sudah 1 jam aku menunggu, tapi Rani tak kunjung tiba, aku mulai bertanya-tanya. Rani kemana ya? Tak seperti biasanya ia telat.. aku bersabar menunggu, hingga senja telah tiba. Hufft.. Rani tak datang. Aku memberanikan diri datang kerumahnya. Tapi.. belum sempat aku masuk, suara ribut dari dala rumah terdengar, buyi piring pecah berkali-kali dan diikuti tangisan pilu, aku merinding mendengarnya dan berlari pulang.

Hari demi hari aku menunggu Rani, tapi aku tak meilihatnya sama sekali di Pantai, aku mulai cemas. Ada apa dengannya? Apa dia dipukul ayahnya? Pikiran-pkiran buruk mulai merasuki. Tapi aku mencoba untuk tenang, sembari berharap Rani akan baik-baik saja. Aku tak hilang akal, kutanya setiap nelayan yang biasa diambil ikannya untuk dijual oleh Rani, tapi mereka tak ada yang mengetahui, kemana Rani pergi??

3 bulan telah berlalu, aku mendapat kabar burung bahwa Rani telah pindah entah kemana. Sungguh aku kecewa karena ia tak memberi kabar kepadaku. Apa aku tak dianggap sebagai sahabatnya lagi?? Aku duduk memandangi ombak. Rani sangat misterius. Ia jarang.. bahkan tak pernah bercerita tentang perasaannya padaku. Kalau saja ia mau berbagi apa yang dirasakannya, mungkin aku bisa memberikan solusi, atau setidaknya menghiburnya.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah tepukan halus dipundakku. Seungguh tak terduga siapa yang kulihat itu,.itu Rani. Wajahnya terlihat tirus. aku sangat merindukannya. Kupeluk tubuh Rani erat, dan tak terasa air mataku mengalir. Ia terlihat berbeda, tubuhnya terlihat lebih berisi, tapi tak ada semangat terpancar diwajahnya.

Ia menggenggam tanganku erat, ditariknya nafasnya dalam-dalam. Perlahan ia mulai bercerita bahwa ia, ibu dan adik-adiknya pergi melarikan diri karena tak tahan akan perlakuan keji ayahnya. Aku pun melihat bekas pukulan di wajah Rani. Sungguh, iba sekali aku melihatnya.

Ditariknya aku ke bibir pantai. Memainkan kakinya pada ombak kecil. Lalu ia menangis sambil memegang perutnya.
“Rani hamil sha…” bagai halilintar menyambar jantungku. Mana mungkin? Ohh.. aku seolah tak percaya apa yang kudengar saat itu.
“ha? Kok bisa.. gx mungkin Rani??” Aku menatapnya seolah tak percaya.
“Maafin rani sha.. rani malu.. rani mau mati saja. Kenapa ini harus terjadi sama Rani.” Ia memukul-mukul kepalanya.. aku berusaha menenangkannya walaupun aku pun sangat terguncang. Tak tahu apa yang harus ku katakana. Aku yang saat itu anak SMP hanya bisa melihatnya menangis.

Senja itu tak seindah perasaan hatiku. Sulit sekali kucerna keanehan hidup ini. Seorang ayah menjerumuskan anaknya sendiri untuk pekerjaan hina di sebuah diskotik. Ingin sekali aku memarahinya. Kenapa tidak melawan?? Kenapa tidak berontak Rani???namun aku hanya bisa memeluknya. Berharap bebannya sedikit berkurang.

Perut rani semakin membesar. Orang-orang disekitar pantai mengejeknya. Mengata-ngatainya. Malah memfitnah nya bahwa ia adalah seorang anak nakal yang terlibat pergaulan bebas hingga hamil. Hingga kabar itu pun sampai pada keluargaku. Ibu dengan keras melarangku untuk berteman dengannya, takut aku tertular pergaulan bebas. Aku sakit mendengarnya, Rani tidak salah, ia hanya korban. Aku menangis setiap kali mendengar ejekan terutama dari Ibu-Ibu yang suka nya hanya ngomongi orang. Aku berharap Allah memberikan jalan terbaik buat Rani, sudah cukup penderitaan nya di hidup ini.

***

Hari-hari berlalu. Allah telah menggoreskan takdirnya untuk Rani. Setelah anaknya lahir. Ada seorang pemuda yang bersedia menikahinya. Saat itu umurnya masih 16 tahun. Aku bahagia melihatnya. Aku berdoa semoga ia akan bahagia bersama suami dan anaknya. Ia adalah guru alamku. Aku belajar dari sosok tegarnya. Jarang sekali ia mengeluh atas cobaan hidupnya. Semoga kekuatan jiwanya itu bisa tertular kepadaku.

** cerita ini mengenang seorang sahabat kecil yang banyak mengajarkan makna kehidupan kepadaku.



PENGUMUMAN
maaf teman-teman chika izin pergi dulu yah.. insyaAllah berangkatnya besok 2 Juli-6 Juli 2010. karena ada tugas sebagai entri data di KPU Provinsi. karena tanggal 3 Juli Provinsi Bengkulu akan mengadakan Pemilukada..
jangan kangen yah hehe^^
chika pergi tak kan lama **heleh**
dan maaf gx bisa blogwalking^^

24 comments:

  1. Entri data ini kan kerjaan sampinganpara mahasiswa :10
    selamat bertugas yaa..

    ReplyDelete
  2. Ya semuanya memang harus kita terima dengan ikhlas,, semua adalah kehendaknya,, kita hanya bisa berdoa dan memohon semoga kehidupan kita senantiasa bahagia dan selalu dalam lindunganya....

    ReplyDelete
  3. ceritanya mengharukan benget mabk... :11

    Oke cepet balik ya mbaaa... :14

    ReplyDelete
  4. ceritanya keren..... ok..
    km pergi untuk kembali kan?? hehe... ^^

    ReplyDelete
  5. cerita beneran? jadi terharu......

    ReplyDelete
  6. awas... jangan disalahgunakan wewenang dalam menyampaikan amanat rakyat di KPU.. :)

    gpp kok, saya tunggu BWnya besok2...! hehehe

    ReplyDelete
  7. Jadi tokoh Rani ini nyata..? Ya Allah, betapa berat hidup yg harus dijalaninya, semoga kini kebahagiaan menjadi bagian dari hari2nya. Amin.

    ReplyDelete
  8. Selamat bertugas... semoga sukses ya..

    ReplyDelete
  9. >> Cerita yang sangat mengharukan dik, semoga tidak akan pernah ada lagi kisah2 seperti ini ya... :) met sibuk2 di KPU, tetap Semangat!! ^_^

    ReplyDelete
  10. kasian rani...


    ok chika, hati2 ya....

    ReplyDelete
  11. Ane ikut terharu gan hiks hiks hiks. Mantap ceritanya, semangat terus ya

    ReplyDelete
  12. Mbaa chikaa jangan lama lama ninggalin blognyaa.. elok nunggu postingan terbarunya mba chika.. :D

    ReplyDelete
  13. ceritanya bagussss bgtt... *_*

    jangan lama ya perginya.. aku tunggu kedatanganmu kembali.. hehehe..

    ReplyDelete
  14. Wah chika mau pergi yach ...hks...hiks....hhe......klo udah selesai nGblog lagi yuah ... wah cerita tentang Raninya bikin merinding......emank sekarang Rani dimana???

    ReplyDelete
  15. jangan lupa oleh2 ya..dan met menunaikan tugas.:)

    ReplyDelete
  16. Sedih jg bcaY....seperti novel2 gitu..hehe

    ReplyDelete
  17. wah kenapa gak coba bikin buku aja mba....... hebat

    ReplyDelete
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    ReplyDelete
  19. @mba yusnita.. :30 iyah mba.. sambil2an cari uang lumayan jugah hihiiii

    @bisnis internet
    iyah :10 kita harus mengambil hikmah dalam setiap kejadian yang ada

    @nuy
    hehehe :)
    ini dah balik kok nuy :13

    @arif chasan...
    hehe makasih ya :10
    iyah kok dah balik juga^^

    @khoirul
    iyah cerita beneran :10
    dari seorang sahabat

    @azzaynal..
    okeh deh :10

    @vitha
    iyah :10 makasih yahhh

    @kakvesanti
    hahaha.. :30 insyaAllah
    gx punya niat juga buat menyelewengkan :13

    @mba reni
    iyah mba tokoh rani itu nyata
    yup^^ makasih mba

    @cerita hujan...
    iyah chika juga berharap gx akan ada cerita kayak itu lagi
    yup^^
    nih dah pulang

    @siroel..
    iyah rul :13

    @indahnya kebersamaan
    hehe jangan nangis donk :13

    @elok..
    hehe iyah gx lama2 kok :D
    ini juga dah pulang

    @ieyaz..
    hehee
    iyah dah pulang kok^^

    @mba fanny
    baik mba :10

    @ferdinand///
    yey sedih ya chika pergi hihii :30
    iyah donk... chika gx mungkin hidup tanpa ngeblog :17
    skarang Rani dahh gx ada lagi :10

    @tukang colong...
    hehe emang mau oleh2 apa :13

    @herry
    hehe.. makasih ya :10

    @danil..
    hemmm.. belum diberi kesempatan untuk menerbitkan buku :10
    udah dicoba berapa kali tapi gx diterima hehee :13

    ReplyDelete
  20. Ditunggu tanggal maennya ya hehehe, makasih udah sempat ngucapin selamat ke blog Q, thank ya sobat

    ReplyDelete
  21. @mba yusnita.. :30 iyah mba.. sambil2an cari uang lumayan jugah hihiiii

    @bisnis internet
    iyah :10 kita harus mengambil hikmah dalam setiap kejadian yang ada

    @nuy
    hehehe :)
    ini dah balik kok nuy :13

    @arif chasan...
    hehe makasih ya :10
    iyah kok dah balik juga^^

    @khoirul
    iyah cerita beneran :10
    dari seorang sahabat

    @azzaynal..
    okeh deh :10

    @vitha
    iyah :10 makasih yahhh

    @kakvesanti
    hahaha.. :30 insyaAllah
    gx punya niat juga buat menyelewengkan :13

    @mba reni
    iyah mba tokoh rani itu nyata
    yup^^ makasih mba

    @cerita hujan...
    iyah chika juga berharap gx akan ada cerita kayak itu lagi
    yup^^
    nih dah pulang

    @siroel..
    iyah rul :13

    @indahnya kebersamaan
    hehe jangan nangis donk :13

    @elok..
    hehe iyah gx lama2 kok :D
    ini juga dah pulang

    @ieyaz..
    hehee
    iyah dah pulang kok^^

    @mba fanny
    baik mba :10

    @ferdinand///
    yey sedih ya chika pergi hihii :30
    iyah donk... chika gx mungkin hidup tanpa ngeblog :17
    skarang Rani dahh gx ada lagi :10

    @tukang colong...
    hehe emang mau oleh2 apa :13

    @herry
    hehe.. makasih ya :10

    @danil..
    hemmm.. belum diberi kesempatan untuk menerbitkan buku :10
    udah dicoba berapa kali tapi gx diterima hehee :13

    @indahnya kebersamaan
    hehe iyah makasih juga

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)