Solitude

11:57:00 AM



mencintai dan dicintai bukan perkara mudah...
kau harus memberikan utuh-utuh hatimu

           kepercayaanmu

menjaga dirimu
lebih-lebih hatimu
dari siapapun dan rasa apapun yang menawarkan bahagia untukmu


pada saat yang sama
hujan masih turun dengan cara yang sama
masih dengan kerinduan dan kealpaan yang sama

hanya aku yang berbeda
menatap rintiknya lalu membucahkan tangis

tak reda hingga sesak!

aku gagal mencintai dan dicintai untuk kesekian kalinya


utuh-utuh 
namun tak cukup



entah aku yang tak pantas dicintai
atau memang aku belum siap untuk mencintai 
lagi-lagi dicintai...

hingga kadang dalam detik yang hilang
aku menyesali kenapa harus ada rasa 

harusnya tak pernah
hingga tak ada sakit

I'll forget everything
memories
everyplace 
every moment

I'll get better things to do
without you

without love

 




aku hanya

9:23:00 AM

aku tak tahu


apa yang harus ku katakan

sungguh....

lebih-lebih yang harus kulakukan


aku hanya menginginkan hujan turun

membasahi remah-remah mimpiku yang hampir alpa

aku hanya merindukan percikan buih lautan

atau kicauan burung di puncak dempo

aku merindukan diriku 5 tahun yang lalu


cerita chika

Love in Rain

9:26:00 AM

Love in Rain
chika Rei

Langit begitu kelam, hujan rintik turun perlahan, aku terburu-buru melewati lorong sepi untuk segera kembali ke rumah. Mama pasti mencemaskanku. Harusnya aku tak pulang selarut ini, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Bulu kudukku merinding jadinya saat teringat cerita Uncle Peter tentang hantu-hantu yang bergentayangan di saat hujan rintik. Hantu-hantu itu akan mengikuti gadis perawan kota hingga ke rumah. Menakutinya, hingga gadis-gadis kota menjadi stress dan akhirnya meninggal.
“PRAAANG!”
“Aaaa!” aku berlari ketakutan saat tiba-tiba sebuah suara keras dari arah belakang mengejutkanku. Pikiran-pikiran aneh berkelebat di fikiranku. Aku terus berlari tanpa melihat ke belakang sedikitpun. Entahlah, aku merasa ada seseorang yang mengikuti ku dari belakang. Semakin lama, aku merasa ia semakin dekat. Tidak salah lagi, ada orang di belakangku, bunyi derap langkah berat nya semakin kentara. Ya Tuhan, aku seperti tersesat di kota hantu.
“Hei!” aku berhenti sesaat. Lalu mencoba mengambil nafas dalam-dalam. Berharap yang kudengar hanyalah ilusi.
“Kau baik-baik saja?” aku menoleh ke belakang. Sebuah bayang mendekatiku. Lalu memberikan sebuah kantong plastik berwarna hijau yang ternyata tak sadar kutinggalkan di jalanan karena begitu ketakutan.
“Terima kasih!” ucapku seadanya.
“Light!” aku menerawang begitu jauh saat lelaki jangkung berwajah asing itu menyebutkan namanya. Matanya memancarkan sinar yang tak dapat kudefenisikan. Sinarnya menembus mataku, lalu masuk ke dalam ruang kosong hatiku yang bahkan belum terjamah. Aku hampir tak berkedip dan tergagap.
“A… Anie!” aku tersenyum kaku. Antara ragu dan terpukau.
“Nama yang indah.” Tak ada sedikit ragu pada senyum lelaki bernama Light yang saat ini ada didepanku. Wajahnya mengingatkan ku pada tokoh Death Note dan juga pada tokoh Edward . Hmm, tapi dia tak terlihat dingin sedikitpun. Namun, sepertinya dia akan mengusik hariku.
“Salam kenal!” Light mengulurkan tangan dan aku semakin tak menentu, walaupun akhirnya kuraih juga tangannya yang terasa begitu kaku dan sedikit dingin. Ada keraguan yang entah darimana datangnya, kekagumanku diikuti perasaan aneh dengan sosok asing didepanku.
“Kenapa pulang begitu larut,” Light tersenyum lagi.
“Kau juga kenapa ada disini!” aku membalas denga sewot.
“Hahaa dasar gadis pemarah!” Light mengucek rambutku. Aku pun membalas nya. Kubuat rambutnya yang ikal itu menjadi berantakan. Lelaki aneh yang membuatku ikutan menjadi aneh. Belum genap15 menit aku mengenalnya. Namun ia sudah seperti orang yang mengenalku lebih dari siapapun.
“Ini rumahmu?” Tanya Light saat kami telah tiba didepan rumahku.
“Yup!”
“Baiklah, masuklah, sudah malam. Orang tua mu pasti mencemaskanmu.”
“Lalu, kau kemana?”
“Tentu saja pulang,” Light tertawa geli melihat tingkahku.
“Ya sudah sana pulang!” aku mendorongnya menjauhi pintu rumahku.
“Kau masuk dulu, baru aku pulang!” ia terus saja tertawa, membuatku tambah berang.
“Hei! Kau pulang dulu baru aku masuk!”
“Oh… tidak bisa hahahaa…” Light berkedip genit lalu berlari menjauh sambil mencibirku. Ih, lelaki aneh ini. Awas saja kalau bertemu lagi, tak akan kumaafkan.
“Heiii!” aku meneriakinya saat melupakan sesuatu.
“Apa!” Light berteriak dari kejauhan.
“Terima kasih!”
“Terimakasih nya besok saja di Café Lolyta jam 4 sore hahaaa!” bayang Light semakin menjauh dan tak terlihat.
Sejenak aku tertegun. But what?  Terimakasihnya besok saja di Café Lolyta? Ah… Light! Ini berarti dia minta ditraktir. Hufft. Dasar lelaki aneh!
***
@ Lolyta Café
Aku selalu menikmati suasana seperti ini. Di saat jalanan kota dibasahi oleh hujan, segelas coklat panas disuguhkan oleh Madam July, pemilik Lolyta Café.
“Untuk gadis manisku tersayang,” begitu selalu ia ucapkan saat menyuguhkan coklat untukku. Saat itu aku hanya bisa tersenyum malu, karena banyak pengunjung yang melihatku.
Aku seringkali memilih duduk di sudut ruangan, menikmati jalanan basah dan orang-orang Rain City yang terlihat begitu terburu-buru. Sesekali aku menikmati music yang dimainkan Shane, bocah jalanan yang lihai bermain biola. Aku begitu mencintai aroma kota ini, kota yang dinamai Rain City karena tiap harinya selalu turun hujan. Pernah Mama mengajakku untuk pindah, namun aku menolak. Tak ada yang lebih indah selain hidup disini. Aku tak akan kemana-mana.
You’re always gonna be my love
I’ll remember to love
You taught me how
You’re always gonna be the one
Now and forever
Ah, itu Light. Ia melambai-lambai dari luar Café sambil memainkan gitar. Apa-apaan lelaki itu. Sok romantis, aku jadi tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkahnya berjoget sambil bernyanyi. Madam July melirik padaku.
“Anak muda yang begitu bersemangat, sepertinya dia tertarik pada gadis manisku,” Madam July berkedip padaku, dan aku semakin kikuk dibuatnya.
“Hei hentikan, dasar lelaki aneh!” aku berteriak dari dalam. Namun Light masih terus bernyanyi dan memanggil namaku. Madam July malah tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah kami berdua yang saling berteriak. Uh, lama-lama aku bisa dibuat malu oleh lelaki sinting satu ini. Aku beranjak dari tempat duduk, namun tiba-tiba aku melihat segerombolan orang berbaju hitam mendekati Light lalu membawa Light menjauhi café.





  bersambung

giveaway

If You were Mine, I'm Yours

9:34:00 AM



Jika kau jadi milikku
Aku pun menjadi milikmu
Seperti mimpi yang kita rajut dalam setiap desahan do’a
di sisi bias-bias pelangi


jika kau jadi milikku
tangis, haru, air mata akan menjadi satu
dan tak akan ada ragu
karena kau ada sisiku

jika kau jadi milikku
aku pun jadi milikmu
bukankah ini mimpi kita
kau 
dan 
aku

if you were mine
I am yours :)

postingan ini diikutsertakan di BLOGGER CONTEST "IF YOU WERE MINE
a novel by Clara Canceriana 

Ray and Rain

7:51:00 AM



jika hujan adalah rindu
maka pelangi adalah penantian
dan...
jika rintik adalah tangis
anggap saja aku menangis menantimu

Tik..tik..
Tes…tes…

Kupejamkan mata… membiarkan tetesnya mereguk hangat yang baru saja penuh di mataku.  Ingin kubasah pada sejuknya yang tak pernah alpa. Tak pernah dusta bahkan selalu ada untukku disaat tak siapapun mengingatku.
Hujan. Menawarkan rindu yang tak kunjung sirna. Rindu yang  sama untuknya. Jihan, gadis manis dan senyumnya membuatku luluh. Hingga remuk dan runtuh. Namun kini tinggal bayangan, kenangan kelam.

Aku memanggil hujan, berteriak pada mega “Tumpahkanlah, ledakkan sesak yang membuncah dan ingin pecah” aku telah kembung dengan kata bernama “cinta”, enyahkanlah rasa dari diriku. Aku tak sanggup harus menjadi pesakitan seperti ini.

Hujan semakin menderu beradu dengan teriakanku yang kian pilu.

“Maaf!” ada keraguan pada matanya saat mengatakan kata yang tak pernah kuinginkan. Ia tahu aku akan hancur. Bahkan lebih dari itu, aku serasa hilang tanpanya. Ia menangis menatapku kosong. Lalu berteriak…

“Ray, you can without me!” ia memukul pundakku yang rapuh. Mengguncang-guncangku yang tak sanggup lagi untuk berkata.

“Without you!”

Tidak. Tidak akan semudah itu dan tak akan pernah Jihan. Utuh-utuh ku berikan hati ini untukmu, bahkan tak ada yang tersisa untuk diriku sendiri. Kau yang pertama dan kau yang selalu ada. Membuka matapun aku tak sanggup jika bukan karenamu.

“Jihan!” aku memanggil namamu untuk yang terakhir kalinya. Berharap kau menoleh lalu menangis di bahuku, kembali padaku.

Kau tak menoleh. “Maaf” hanya itu yang kau katakan dan pergi.  Hanya bayangmu kian menjauh di antara ilalang.
Aku kaku, berdiri menanti hujan menghilangkan rasaku. Kau dan takdir seolah mempermainkanku. Kenapa harus ada rasa sedalam ini? Untuk apakah kata “sayang” yang tak pernah alpa darimu. Inikah?

Kupejamkan mata yang kian menghangat.

Biarkan saja hujan yang berkata. Anggap saja aku telah sirna. Berlayarlah tanpaku, dan kukatakan lagi, aku akan menanti, hingga hujan menghilangkanku. Rasaku. Dan dirimu.

Izinkanlah aku tumpah!

arghh.... suaraku tak mencapaimu
aku kan merelakanmu
wahai nada tertinggi... penyemai haru
namun... akan kurampungkan sketsa rindu
dan ku kembalikan padamu....
tiadakan aku…
bahkan dalam mimpimu


Keychain Onigiri from Keven

10:43:00 AM

assalammualaikum wr.wb
apa kabar semuaya???
udah lama chika gx ngeblog hehee
sangaaaaat lama :D
begitu juga dengan blog walking

cuma mau berbagi cerita
kemaren chika dapat kejutan hehee

masih ingat dengan lomba first love yang diadakan Keven

alhamdulilah yah "lebih dari sesuatu"nya syahrini , tulisan chika yang ini  jadi salah satu pemenangnya ^^

nahhh hadiahnya dapet gantungan hape onigiri yang imut banget

nahhh penasaran gimana hadiahnya yukkk liatinnn
si anak  beruang megangin hadiahnya

nahh sekarang onigirinya udah nangkring di hape chika

hehee... makasih ya buat keven buat hadiahnya^^
dan makasih juga buat Sequin Sakura yang udah mensponspori hadiah nya

hehee
yang mau punya onigiri yang imut ini bisa pesen aja langsung  ke Sequin Sakura

hehee sekian dulu critanyaaa :D


Ayah: Tinta Cinta yang Tak Akan Pernah Usang

2:10:00 PM


Ayah: Tinta Cinta yang Tak Akan Pernah Usang

Pada dua pertiga malam dalam sujudku berserah,
kala mencarimu lewat lorong-lorong sepi hati,
hati hati gelisah mencarimu,
dimanakah Engkau kasih, di mataku
atau 
di hatiku,

mengapa hati tak sujud padahal aku sedang tahajud,
jalan yang kau tunjuki sudah kurambah,
zikir yang kau tawarkan sudah kumamah,
tapi kau tak jua kutemui kasih,
sebelum sunyi datang menyilang aku ingin rebah di pangkuanmu, selamanya, selama lamanya
dalam kalimahMu:
LAILLAH HAILLALLAH MUHAMMAD DHARASULLULLAH

(Harlisman Fasha)

Aku mengaminkan do’a yang ayah selipkan pada bait puisnya. Do’a yang sekaligus menjadi pengharapannya untuk sebuah akhir. Ayah selalu begitu, tak banyak berkata, tapi banyak berkarya, walaupun himpitan ekonomi terkadang membuatnya bekerja ekstra keras lalu mengenyampingkan hobinya yang kini ia tularkan padaku: “menulis”.

“Menulis tak akan buatmu jadi kaya,” begitu kadang Ibu menyindir hobi “menulis”. Lagi-lagi ayah tak pernah banyak berkata, namun menciptakan syair pada selembar kertas, pada malam, pada sebuah sunyi yang tak berdentang.

Wahai Pesajak!
Mari kita ber-andai-andai
dari ketidak mengertian
pada dunia galau di saat kita kawinan
Kita berangkat dari rimba keterasingan
menuliskan kata yang menawarkan goda
lahir dari lamunan anak kita
saat menatap siluet di depan mata
(Harlisman Fasha)

Tidak seperti dulu, tulisan-tulisan ayah kini hanya tertumpuk pada lemari hitam dan kian usang, mengingatkan ku pada masa silam, di saat aku ditempa untuk mencintai dunia yang kini kutahu begitu indah, menulis.
***
“Masa buat puisi saja tidak bisa, malu-maluin ayah saja.” Aku tersentak saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Ayah. Saat itu aku hanya ingin ayah membantu dan mengajariku membuat bait-bait puisi yang indah seperti yang ayah buat karena besoknya Aku harus berdiri di depan kelas untuk mendapatkan nilai praktek Bahasa indonesia. Puisi yang biasanya selalu membuat hatiku bergetar saat membaca kata demi katanya. Aku ingin bisa membuat puisi seperti ayah, aku ingin teman-teman di sekolah begitu juga guruku tidak mengejekku. Tapi demi mendengar perkataan ayah, semangatku kendur, aku mundur perlahan lalu menangis di kamar. Ku buat bait demi bait kekesalan di dalam diary, lalu berjanji aku akan jadi penulis hebat, aku akan buktikan pada ayah bahwa aku bisa membuat yang lebih baik dari puisi ayah.
Akhirnya kuputuskan untuk terjun ke dunia seni dan sastra, kebetulan saat itu ada pembukaan untuk anggota baru Teater Payung Panji SMP 1 Bengkulu. Dengan segenap keberanian aku mendaftar, dan luar biasa hasilnya lebih dari yang kuharapkan. Saat itu aku diajari membaca puisi, berakting monolog, membuat puisi, membuat scenario drama dan lain sebagainya. Aku menemukan diriku saat aku berteriak di tengah pantai untuk berlatih membaca puisi. Atau pun saat aku harus berpura-pura menjadi orang gila di tengah jalan demi mendapatkan nilai ekstrakulikuler Teater. Berbagai lomba kuikuti, dan piala nya pertama kali kutunjukkan pada ayah. Tapi, lagi-lagi aku harus kecewa saat ayah tak sedikitpun memuji keberhasilanku. Ayah hanya mengangguk saat kuperlihat piala dengan bangga. Lalu pergi entah kemana.
Suatu waktu Ayah ditawari oleh Taman Budaya Bengkulu untuk membuat 5 buah puisi yang akan digabung dengan puisi-puisi penyair lainnya dalam satu buku. Dengan sedikit keberanian, aku menawarkan puisiku pada ayah untuk dilihat oleh editornya, apakah layak masuk ke dalam buku itu atau tidak. Dengan berat hati ayah menerimanya, walaupun ayah tahu, puisi ku tak akan lolos. Saat itu aku tak menyadari kata-kata ayah, apalagi memikirkan hal ini akan mempermalukan ayah.
“Yakin!” berkali-kali ayah menanyakan kesungguhanku. Berkali-kali pula aku mengangguk dan memastikannya.
Luar biasa! Hal itulah yang kurasakan saat ayah mengatakan bahwa puisiku diterima oleh editor, dan beritanya masuk di Koran hari itu, aku gembira hingga meloncat-loncat.“Di Koran hari ini ada berita kalau taman budaya Bengkulu akan menerbitkan buku antalogi puisi penyair-penyair sumatera. Diantaranya Ayah Harlisman Fasha, Azrul Thaib, dll. Dan satu lagi penyair muda Ria Mustika fasha, walaupun masih muda karya-karya tak kalah dengan penyair senior lainnya.” Ibu sepertinya tak senang saat ayah berkata seperti itu, tapi aku tak peduli. Dengan semangat aku berpamitan pada Ibu untuk latihan teater. Sebelumnya tak lupa aku menyempatkan diri mampir di kios majalah untuk membeli Koran Harian Rakyat Bengkulu, ingin sekali ku buat kliping Koran itu karena ada namaku disana.
Kuobrak-abrik Koran dengan semangat, hampir tak ada kalimat yang dilewatkan dalam ketikan Koran. Tapi, tak ada namaku di Koran itu, tak ada… yang ayah katakan bohong, memang ada berita kalau Taman Budaya akan menerbitkan antalogi buku, tapi tidak ada kata-kata “Dan satu lagi penyair muda Ria Mustika Fasha, walaupun masih muda karya-karya tak kalah dengan penyair senior lainnya.” Aku menangis tertahan, hatiku begitu sakit. Kenapa ayah berbohong? Pertanyaan itu terus kuulang berkali-kali, apa maksud ayah membohongiku. Apakah ingin membuatku senang? Bukan begini caranya… siang itu aku tak jadi berangkat ke teater, aku malu dengan Heni karena aku berjanji akan memperlihatkan kliping Koran yang ada namaku disana. Aku malah berjalan sendiri di Tapak Padri, menyendiri sambil menangisi kekalahanku.
Saat itu hubungan ku dengan ayah merenggang, aku hanya menegur ayah seadanya. Aku tahu ayah hanya ingin membuatku senang, tapi kebohongan ayah membuat luka yang dalam bagiku yang baru ingin belajar. Walaupun aku membenci keadaan itu, aku tetap menulis puisi-puisi di diaryku. Bahkan satu hari lima puisi, tapi tidak seperti biasanya kuperlihatkan pada ayah, ataupun pada teman-teman. Puisi-puisi itu hanya kusimpan sendiri, hanya untukku sendiri. Nyaliku kian ciut, aku tidak bersemangat, hingga tamat smp, aku terkenal dengan orang yang pendiam dan penakut, suka menyendiri dan menjadi orang yang tak pernah mau perduli.
Saat memasuki SMA aku kian terpuruk melihat orang-orang hebat di SMA 5, yang kami sebut sekolah Cendana karena letaknya di Jalan Cendana. Aku semakin suka menyendiri, hingga aku dipaksa masuk RISMA dan PMR. Hidupku berubah, banyak orang yang menyemangatiku, terutama teman-teman terbaikku.
“Rei, puisi-puisimu bagus, ikutkan lomba yuk.” Saat itu Ika, Ika Pasca Himawati, seorang teman dari ekstrakulikuler Karya Ilmiah Remaja memaksaku untuk ikut lomba cipta puisi. Namun, lagi-lagi kejadian silam menakutkanku. Aku takut kalah, aku takut memalukan. Namun diam-diam Ika mendaftarkan salah satu puisiku dalam Lomba Cipta Puisi tingkat SMA-Mahasiswa-Umum di Universitas Bengkulu.
“Rei selamat puisinya menang,” Ika mengedipkan matanya saat itu. Aku terharu, sangat terharu ternyata puisiku menjadi Juara I dalam Lomba cipta puisi, semua orang menyalamiku. “Kamu punya bakat, jangan disia-siakan, suatu saat nanti Rei akan jadi penulis hebat.” Kata-kata itu terus kuingat hingga kini, hingga semangatku bangkit lagi. Bahagia rasanya menjadi juara, saat aku dipanggil ke depan lapangan Upacara untuk disalami oleh Kepala Sekolah. Aku tak menyangka aku bisa menjadi juara, aku bahkan tak percaya aku bisa.
Ayah pun mulai mendukungku, terutama saat memasuki dunia kuliah. Aku memenangkan juara 1 kontes blog di Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Mataku mulai terbuka lebar, semua hal yang dilakukan ayah tak lain agar menempaku menjadi berani untuk menjadi lebih baik. Dan aku selalu ingat puisi ayah yang sengaja dituliskannya untukku dan adik-adikku yang terus memacuku untuk tak berhenti menulis, untuk terus menulis apapun yang ingin kutulis, bukan karena ingin terkenal, bukan untuk mencari uang. Tapi demi kecintaan terhadap dunia menulis.
Anakku
Senandungkan terus lagu itu
Sebelum sunyi datang menyilang
Jangan pernah henti bernyanyi
Saat ajal menjemputku nanti
Aku ingin rebah di pelukmu
Dalam kalimah
Laillahaillallah
Muhammad dharasullullah
Sampai menutup mata
Selamanya
Hingga akhir masa-

Dan demi kecintaanku pada dunia menulis yang telah dikenalkan ayah padaku, diam-diam kukumpulkan puisi-puisi dan cerpen-cerpen ayah yang tersebar dibeberapa buku antaloginya, dan juga yang sudah diterbitkan di media lainnya. Lalu dengan segenap kebanggaan, kubuat sebuah buku untuk ayah, walaupun hanya dengan penerbit indie. Melalui nulisbuku, akhirnya ayah mempunyai buku kumpulan puisi dan cerpennya Aku Ingin Rebah di Peluk-Mu, sebuah kado cinta ku untuk ayah yang mungkin tak sebanding dengan perjuangannya padaku bagai tinta cinta yang tak kan usang oleh apapun J
  


belajar nulis

Thanks for Standing Here

10:51:00 AM


Thanks for Standing Here

just gonna stand there and watch me burn,
well that’s alright because I like the way it hurts… 
Just gonna stand there and hear me cry,
well, that’s alright because I love the way you lie… 
I love the way you lie..

Pada sebuah ruangan berantakan namun kosong. Hanya satu playlist di notebook yang terdampar dipojok ruangan. Semakin lama semakin bising.
Napasku terengah, memburu, bahkan serasa ingin membunuh. Ini malam, bahkan terasa seperti perang yang tak kunjung berakhir. Dari balik pintu-pintu besi ada tatapan tajam menghujam, layaknya ingin menikam jantungku hingga tak berdetak. Sedikit pun.
Aku diam, duduk bertameng kekalutan. Rambutku acak tak tentu, lalu mengumpat hujan yang tak kunjung reda. Hujan lalu menawarkan kerinduan. Namun aku menanggapinya dengan penat dan sesak.
Arghh.. aku berteriak dan menghempaskan tubuhku di antara tumpukan potret yang memuakkan. Wajah itu tersenyum, aku kembali berteriak. Kenapa aku harus tetap mengingatnya! Menjijikkan… ingin kubunuh bayangnya.
Ku robek potret itu satu persatu, membakarnya hingga menjadi debu. Lalu dingin kembali menyelimutiku. Tak bisa dipungkiri aku menangisinya…

I hate you, But I really love you… sulit mengakui sebuah kejujuran yang pahit. Tapi rindu lebih meraja dari sebuah kebencian.
Bukankah sejak awal sudah kukatakan hentikan semua ini jika kau tak lagi mencintaiku. Lepaskan bahkan campakkan saja aku. Namun, rasa yang bernama cinta itu terlalu membuatku melambung. Mencintaimu hingga kembung, lalu pecah menjadi benci yang kupikir akan abadi.
“Heii… kau cemburu, dia hanya sepupu jauhku,” saat itu aku tak pernah berpikir kau akan membohongiku. Kau merangkul bahuku dan mengajakku mengelilingi komedi putar.

“Please… come back!” aku nanar mengingat kata-katamu yang entah tulus atau tidak. Bryan, aku tak pernah menginginkan ini. Aku tak pernah berharap aku akan mencintaimu sejauh ini. Aku tak pernah berharap, kau akan mempertahanku sekuat ini. Dan aku berharap, harusnya ada pria lain yang membuatku bisa melepasmu.


“Ini salahku Calise, aku mohon!” Hei… kenapa kau terus menggenggam tanganku dan menatap mataku hingga ku hampir luluh. Ini tak seperti pertemuan kita di sebuah perkemahan akhir pekan. Saat kita memandang lurus pada bukit batu yang terjal. Kali ini sama sekali tak indah.
 Dan di saat yang sama, aku menanam benci. Wajah pucat yang menunggumu di seberang sana, adalah satu-satunya wajah yang tak pernah ingin kulihat. Mei, gadis bermata sipit perawakan cina yang menyimpan hatimu sebagian, harusnya tak semakin merusak mood-ku.  
“Salahkah aku membencimu!” kau pasrah namun masih penuh harap saat melepas genggaman tanganmu lemah. Aku tak mengelak saat kecupan hangat kau layangkan di rambutku yang basah oleh tetesan hujan. Kau meninggalkanku, tanpa menoleh. Hujan semakin deras dan aku mengumpat keras-keras.

“Arghh…. Dam*!” tak pernah ada yang melihatku seliar ini. Begitupun Steve, satu-satunya sahabat kecil yang tak pernah mengatakan tidak untuk seorang Calise yang selalu menginginkan “iya”.
“Please Stop Calise, ini bukan kamu,” Steve memelukku. Memintaku untuk tenang, sama seperti saat aku harus kehilangan Papa dalam sebuah kecelakaan.
“I’m your brother” begitu katanya. Namun kali ini, aku tak bisa tenang seperti dulu. Ini bukan kehilangan yang harus diikhlaskan. Ini kehilangan yang membuatku mendendam.

Aku hanya bisa menangis sesenggukan di bahu Steve. Hingga larut tiba. Hujan masih berdentang hingga suara Steve hanya samar-samar kudengar. Suaranya terdengar tulus dan menyejukkan. Harus kuakui, Steve sedikit membuatku tenang. Thanks Steve.
“Tak masalah siapa yang meninggalkanmu Calise, but I am here,” aku hanya mendengar samar lalu terlelap di bahu Steve.
Dan tanpa kusadari Bryan datang, ia berang.
Aku gelagapan saat itu juga.
“Ternyata kau seperti ini, bukankah aku telah berjanji Calise untuk kembali, lalu kenapa” muka Bryan merah padam. Di angkatnya kerah baju Steve, dan malam itu dua orang lelaki yang kusayangi penuh luka dan darah. Aku marah pada diriku sendiri.
“Hentikan Bryan… Steve sudahlah…”
“Dia menyentuhmu Calise, aku tak akan memaafkan itu”
“Bryan, tapi apa yang kau lakukan dengan gadis itu, Steve hanya menenangkanku” aku berteriak semakin keras.
“Bohong”
“Kau yang berbohong”
Pada siapa lagi tangis akan ku labuhkan. Steve telah terkapar, dan Bryan     dijemput wanita sipit sok perhatian itu. Lalu aku menangis pada malam.
***
Tak pernah sesakit ini memendam benci dan rindu dalam saat yang bersamaan. Ini seperti kau menjadi gelas rapuh dan pada saat yang sama harus terisi air panas dan air es. Tentu saja kau akan retak dan berderai, lalu pecahannya membuat luka yang tak kan sembuh hanya dalam waktu semalam. Apalagi malam dengan rintik rindu yang kian menggebu.
Bryan:
Aku sakit Calise. Melihat kau bersandar dibahunya, seperti inikah sakit yang kau rasakan saat aku menggandeng tangannya, bukan tanganmu seperti yang kujanjikan saat aku menyatakan aku mencintaimu.
Aku ingin membunuhnya Calise. Membunuh Steve yang menghapus airmatamu, seperti inikah dendam yang kau simpan saat aku melabuhkan harap pada Mei. Bukan kau Calise, seperti yang kujanjikan tiap kali kita membuka mozaik ingatan di atas perkemahan Bukit Berbatu.
Dan saat sakit dan rindu itu menyatu. Saat kau membohongiku dan aku membohongimu, aku menyukai itu. Lalu,  Aku menyadari labuhankeduanya adalah rasa yang kusimpan untukmu. Ini mungkin kesekian kalinya aku mengatakan aku mencintaimu, namun kali ini dengan janji aku akan kembali untukmu. Hanya untukmu. Dan saat aku tak ada di dekatmu, dan bukan aku yang ada disampingmu. Kuakui aku membutuhkanmu. Please come back to me!

Kulipat kertas itu dengan sesak yang memburu. Aku membohonginya jika aku mengatakan aku tak pernah merasakan tenang saat bersama Steve. Namun, aku lebih membutuhkannya. Bahkan saat ia meninggalkanku untuk Mei, ku akui, rasaku tak pun sedikit berkurang.

Dadaku kian sesak saat ku menyadari aku telah melewatkan hari tanpanya. Tak ada ia disampingku saat ini.
“Bryan!” aku menggumam pelan dari bilik jendela.
“Iya Calise” haa.. aku tertawa miris, aku mungkin telah gila saat beranggapan dia ada menjawab panggilanku.
“Calise, I’m here!”
Aku tersentak. Aku mencium aroma Bryan… aku benar-benar merasakan hadirnya saat ini. Lalu perlahan ada sentuhan lembut dibahuku. Aku menangis….
Dia ada di depanku. Untukku.
Terimakasih untuk ada disini. I love you… apapun yang kau lakukan…

*cerita yang dikirim ke nulis buku untuk project days #9 ekekee

New World, Welcome

9:44:00 AM

assalammualaikum^^
apa kabar semuanya???
dah lama banget chika gx update :p ekeke... terhitung sejak tanggal 24 september sampai tanggal 12 Oktober^^

ada apa dengan hari-hari itu???
banyak hal yang terjadi... begitu banyak, sampai kehilangan kata-kata untuk menceritakannya :D


28 september 2011
ini benar-benar hari bersejarah bagi semua wisudawan-wisudawati, wajah mereka merah merona, senyum mengambang, hmm.. sepertinya memang begitu bangga dan senang telah melewati perjuangan selama 4 tahun atau lebih.
Well, begitu pun dengan wajah para pendamping, orang tua, sanak saudara berdiri tegap saat nama anak-anaknya dipanggil satu persatu... ada yang terharu, ada yang berfoto bersama... ada yang makan bersama

Lalu bagaimana dengan chika?
cewek satu ini malah sibuk kipasan karena kepanasan di antara 1200 wisudawan hahaha.. pengennya cepet pulang, dan makan -.-' apakah tidak ingin menikmati wisuda? tidak juga, ini awal dari semuanya, awal untuk membuktikan pada ayah dan ibu, kalau perjuangan ini baru saja di mulai...

semua boleh senang saat mengenakan toga dan mendapatkan ijazah, tapi tidak untuk besok,  
sama sekali tidak

28 September pun Berlalu...
seperti yang sudah chika perkirakan, saat memasuki gerbang kampus...
hampir smua adik kelas memberi selamat, teman2 yang bergelar sarjana pun sumringah sambil berterimakasih
walapun dalam hati miris, hahaha... status tak lagi mahasiswa, berganti menjadi pengangguran sementara...

Awal Oktober
Wajah-wajah galau tersebar di seantero kampus, wajah-wajah galau yang menunggu di warnet, yang mengurus ijazah, mengurus surat keterangan lulus...

begitu galau, tak secerah wajah-wajah mahasiswa yang hilir mudik mengerjakan tugas, ataupun berlarian karena telat masuk kelas....

Nah lo salah sendiri mau tamat cepet hhahaha..  
 kenapa gx tetep jadi mahasiswa aja, masih ada sokongan dari orang tua, masih bisa enak-enakan di kampus :p

jadi inget tawaran seorang dosen ke chika
Buya Salim  : "Rei gx usah tamat tahun ini ya"
Chika         : "Lho emang kenapa buya?"
Buya Salim : "Tahun ini banyak event karya ilmiah, kamu juga bisa ikut jadi mentor mahasiswa  
                    baru, terus  ngajuin proposal pengembangan usaha ke dikti, lumayan juga itu 
                  dapatnya"
Chika         : *nyengir*

jujur sih masih banyak banget yang pengen dilakuin di kampus, tapi gx ah hehee....

Itulah pilihan :)
ketika memilih untuk menjadi sarjana, maka harus membuktikan dan mempertanggungjawabkan nya, pada siapa? gx usah muluk-muluk, pada diri sendiri aja dulu. Begitupun dengan chika, setelah tanggal 28 september itu, telah berikrar bahwa akan berusaha tak menerima sepeserpun rupiah dari ayah dan ibu,
Smoga bisa^^ doain yahh.... udah terlalu lama membuat ibu ayah susah, semoga setelah ini bisa membantu mereka, adik-adik, dan saudara chika yang telah berkorban banyak

Lalu bagaimana supaya bisa dapat rupiah, sedangkan belum ada kerja tetap? hmm.. *mikir*
Allah memang punya cara sendiri :d
Niat dan Usaha untuk mengaplikasikan niat itu ditambah doa ayah ibu ternyata emang mujarab^^

Ada-ada saja tawaran yang datang, dan chika memilih yang terbaik...
chika memilih untuk mengajar bimbel di salah satu universitas yang kerja hanya 4x seminggu dari jam 3-6 sore ^^
sebentar banget kan??
yuppp ada yang nawarin ngajar di sekolah alam dari jam 7-4 sore
ada juga perusahaan konsultan bangunan yang kerjanya dari jam 7-5 sore

Sengaja milih yang pertama karena:
1. Ada waktu untuk bantu Ibu di rumah
2. Ada waktu untuk ngurus toko J-Design Printing di kampus
3. Ada waktu untuk nulis^^

kalo chika kerja dari pagi ampe sore, bisa2 kecapean hahaha... mana chika orangnya mudah drop and sakit, ini aja 4 hari baru sembuh dari sakit :p

alhamdulillah juga gaji untuk ngajar bimbel ditambah pendapatan toko insyaAllah bisa menghidupi diri sendiri dan membantu sedikit keluarga, amin....

Mohon do'a teman-teman semua yaa
^^ semoga urusan chika lancar

salam blogger

cerita chika

Babak Baru Akan di Mulai

11:09:00 AM


2007

Ini sungguh berat, sangat berat untuk seorang remaja yang masih labil sepertiku. Kenapa orang sepertiku harus punya mimpi yang besar? Kenapa aku tak seperti anak-anak di lingkunganku, yang cukup mengatakan “yang penting sekolah”.  

Dan disaat aku mendapatkan kesempatan untuk menimba Ilmu di universitas yang ingin kutuju, Ayah dan Ibu kuanggap “merusak impian” yang telah kuidam-idamkan. Lalu kembali aku menyesalkan diriku yang terlahir sebagai seorang perempuan, “Kamu perempuan… kita tidak punya saudara di yogya, nanti siapa yang jagain” Alasan klise pikirku. Di saat orang tua lain berbangga jika anaknya mendapatkan beasiswa di salah satu universitas yang terkenal baik, Ayah dan Ibu menyuruhku untuk mundur. Bertahan di kota kecil yang ku anggap tak akan baik untuk kemajuanku. 

Aku menjadi tertutup, lalu diam mengikuti apa yang mereka inginkan. Dan akhirnya takdir mengantarkan ku pada sebuah Universitas swasta di Bengkulu yang waktu SMA tak pernah ku harap akan menjadi almameterku. Aku kian malu saat teman-teman SMA mengajak reunian, AKU TAK PERNAH DATANG, semua tak akan percaya kalau aku sekarang menjadi mahasiswa Universitas ini. 

Aku semakin tertekan dengan kondisi kampus yang jauh berbeda dengan yang kuharapkan, bahkan jika dibandingkan dengan SMA ku yang penuh dengan persaingan sehat, penuh dengan gairah berprestasi. Universitas ini terlihat begitu hampa, sangat hampa… tak ada persaingan sehat yang kuidamkan, tak ada teman-teman yang membuatku bergairah untuk berprestasi, tak ada guru yang seperti SMA dulu, perpustakaan kosong dan pegawainya pun garang.  Aku merasa begitu kosong…  dan jika ada satu permintaanku yang boleh dikabulkan, aku ingin tetap di SMA.

2008
Entah darimana awalnya, Fakultas Agama Islam mengadakan kontes blog se-Universitas. Tumben! Inilah kata yang meluncur sinis dari mulutku. Bukannya apa-apa, berdasarkan pengamatan ku, orang-orang disini biasanya sekadar mengadakan turnamen futsal dan olahraga, untuk yang ilmiah-ilmiah: jarang sekali. Well, olahraga bagus, namun bukannya motto kampus ini kampus ilmiah??? Nah lho, kok aktivitas mahasiswanya jauh banget untuk bias dikatakan ilmiah. Datang ke kampus, duduk diam dengerin dosen, terus ke mall, atau kongkow2 kemana-mana. 

Baiklah, sudah lama kurindukan lomba-lomba seperti ini yang dulu waktu SMA setiap bulan pasti ada yang kuikuti.  GLEKK!! ! ini sungguh diluar dugaan, tak kirain pesertanya ampe ratusan orang -.-‘ ehh taunya Cuma terdiri dari 10 orang, yang kesemuanya anak teknik informatika, dan chika satu-satunya dari FKIP. Lagi-lagi chika ngedumel “INI KAMPUS APA??”

Hufftthh.. kalau sahabat jadi chika pasti akan menghela nafas panjang, gimana bisa ngeliat potensi diri kalo kayak gini??? 

Masa penjurian pun berlangsung, pada saat itu chika ternyata jadi juara 1, namun sungguh pada saat itu tidak ada rasa bahagia seperti saat memenangkan perlombaan waktu SMA, uhh lagi-lagi terus membandingkan dengan masa SMA rasanya sedih banget.

Lama-lama pikiran chika mulai terbuka dan menyadari Chika gx bisa kayak gini terus, banyak hal yang mesti chika lakuin di kampus ini. Gx bisa hanya diam ngedumel kayak gini terus…

Terjawab sudah harapan-harapan itu. Walau perlahan, akhirnya chika menemukan beberapa teman yang merasakan hal yang sama. Berharap Universitas ini menjadi terisi oleh acara-acara ilmiah, walaupun perjuangannya itu menyesakkan dada (hahaha)… 

Banyangkan aja, kalo proposal buat tanding futsal langsung di ACC, kalo proposal untuk kegiatan English Competition kayak speech contest, storytelling, debate ehh,…. Sama sekali gx dikasih dana!!! Uhh… pengen rasanya marah-marah di depan petinggi-petinggi itu -.-‘

Kampus ini chika sebut kampus aneh… hanya segelintir orang yang peduli untuk membangun citra mahasiswa yang ilmiah, dan hanya segelintir orang juga yang mau peduli dengan kemajuan mahasiswanya.
Semakin aneh, waktu chika dkk menemukan dosen yang “rusak” . dulu chika pernah cerita di multiply, bisnis pembuatan skripsi, bisnis penjualan nilai, pelecehan mahasiswa dan lain sebagainya. Perjuangan kami waktu itu gx sia-sia, akhirnya si dosen itu diturunkan dari jabatannya sebagai ketua prodi. Walaupun tuntutan kami “dia harus berhenti ngajar disini”  gx diterima…  aneh kan kampus ini? Jelas-jelas buat salah masih aja dilindungi.


2011

Tak ada yang patut disesali. Allah pasti memberikan yang terbaik. I believed it, and I proved it 
Mungkin 4 tahun yang lalu chika menyesali menjadi salah satu bagian dari kampus ini, namun sekarang chika bersyukur telah ada di sini. Banyak hal yang chika dapat, dan mungkin tak akan pernah chika dapatkan jika di menjadi mahasiswa di kampus lain.

  • Keliling Sumatera pake mobil L300 bareng orang-orang hebat dalam acara MTQ Mahasiswa Nasional di Lhoksmawe…. Tak akan dilupakan.....
  •  Pelatihan SAR Hizbul Wathan bareng Mba’Inza dan teman-teman HW Se-Indonesia, Kaliurang-Gunung Merapi- ketemu Alm. Mbah Marijan…  Bagiamana mungkin di lupakan.
  • Dapet Bantuan Rp.35 jt dari Kopertis Wilayah II Dirjen Dikti Bersama Crew J-Design printing (Mb Merry, Ka Hardi, Rio) untuk mendirikan usaha Mahasiswa, adalah anugrah sebagai mahasiswa…
  • Keliling Jakarta buat nyari Bahan dan Alat untuk J-Design Printing bareng Mba Mery, kapan lagi bakal dirasakan??
  • Menjadi Broadcaster di Jazirah Fm bereng (Mas Dandi, Ka Nover, Ka Hardi, Mas Soleh, Mas Wawan, Hafiz, Asep, Toto, Mba meri, Mba Vika, Mba Emje) adalah pengalaman paling “cool” yang tak semua mahasiswa mendapat kesempatan ini.
  • Perwakilan Kampus untuk lomba proposal Kreativitas Mahasiswa (Bareng Kak Afif dan Kak Zoo) di Sekayun, Alhamdulillah juara 2… juga bakal di rindukan…
  • Jalan-Jalan ke pekalongan-semarang, ketemu akuntan-akuntan hebat di BTM Wiradesa, gx akan mungkin kalo bukan jadi mahasiswa -.-‘
  • jadi Orator saat demo menurunkan si dosen X,,, panas-panasan bareng... kapan lagi yaaaa :(

Dan banyak lagi hal yang tak bisa disebutkan semuanya…
Kini, saat-saat itu tak akan terulang lagi, dan akan menjadi hal yang begitu dirindukan…
chika tahu, bakal sangat dirindukan… 

Foto Bareng Sarjana FKIP B.Inggris bareng Ka.Prodi Pak Ivan & Abi Luqi

babak baru akan segera dimulai… 
selamat menempuh hari-hari baru untuk teman-teman yang telah meraih gelar sarjana^^
semoga ilmunya bisa bermanfaat '
karena sesungguhnya orang hebat adalah orang yang bermanfaat bagi orang disekitarnya^^


terima kasih untuk kebersamaan selama ini^^

first love

First Love ~ You're the Only One

1:57:00 PM





And I miss you, like the deserts miss the rain

Hujan. Aku selalu suka hujan, apalagi saat titik-titik airnya mengembun diantara kaca jendela kamar. Alunan nya merayu mengajakku menari bersamanya. Dari balik jendela yang basah, ada bayang Cia tersenyum melambaikan tangan. Hahaa, aku tertawa, sepertinya Cia membuatku gila.

Cia juga suka hujan, ia bahkan sering mengkhayal bermain petak umpet bersamaku kala hujan. Aku yang jaga, dia yang ngumpet. Begitu katanya, lalu berharap aku akan kebingungan mencari sosoknya yang tak kunjung tampak. Cia juga berkhayal aku akan menangis karena tak menemukannya. Lalu berfikir aku akan kehilangannya. Dan pada saat itu, Cia datang dan memergokiku, lalu aku mengakui bahwa aku takut kehilangannya. Hahaa.. aku kembali tertawa, lalu tersenyum memandangi bayangnya yang masih tersenyum dari balik hujan. Cepatlah datang Cia.

Well Cia, inilah takdir yang bahkan tak kuharap sebelumnya, namun begitu kusyukuri untuk saat ini. Tuhan emang punya cara sendiri untuk buatku lebih dewasa, ku harap Alice, Tuhan mengirimkan Cia. But, thanks God. Buket bunga telah kupersiapkan, sekiranya bisa menyandingkan senyum indahmu untuk perjumpaan kita yang tertunda. 7 tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah rindu dan penantian yang kusimpan. Bukankah begitu rindu yang juga kau rasakan? Kuharap rindu kita sama. 7 tahun juga, aku simpan keberanian untuk mengakui bahwa kau telah berhasil membuatku mengakui bahwa cinta yang selama ini membuatku terpuruk, bukan seperti yang selama ini aku rasakan. Keven yang sekarang bukan Keven yang dulu. Dan itu berkat kamu Cia. Setidaknya Tuhan sudah menakdirkan kamu untuk jadi pahlawan bagi Keven yang terpuruk. Walaupun selama ini hanya huruf-huruf dimonitorlah yang mewakili. 

Tapi aku tahu, you’re so real. J

Jika saja, dering telpon tak berbunyi, rasanya aku masih saja terus tersenyum memandangi bayang Cia dari jendela kamar.
Pagi belum beranjak, ini tak mungkin telpon dari Cia. Kami akan bertemu sore nanti.

“Hallo” suara lembut seorang wanita dari seberang yang entah dimana terdengar begitu syahdu.
“Ya Hallo”
“Keven!!!”
“Ya?”
“Ini Alice,” Mozaik ingatanku perlahan menyatu, membentuk sebuah kenangan manis. Alice, nama yang selama ini aku cari dan aku khayalkan hadirnya. Nama yang juga mempertemukanku dengan Cia, lalu kenapa tiba-tiba….

Ahh… Takdir lagi-lagi membuatku bingung. Bayang-bayang Alice berputar mengusik mood ku yang telah tertata rapi untuk Cia.
***

Bukan hanya aku dan Cia yang menyukai hujan. Alice juga, aku masih ingat saat pertama kali hati polosku terisi oleh senyum alice. Saat itu hujan baru reda, bau tanah basah yang paling aku suka tercium juga seperti saat ini.

Tempat aku duduk saat ini masih belum berubah, TK yang menyoretkan berjuta kenangan untuk bab cinta hidup ku,  namun gadis yang ada disampingku telah berubah menjadi gadis dewasa. Dan ia pun telah menemukan lelaki yang mengisi hatinya. Alice menyodorkan Ice Cream padaku, aku tersenyum.

“Rasanya, setiap yang ku lakukan selalu ada kenangan tentang kamu, Keven!” Alice melumat Ice Creamnya terburu-buru.

“Seperti ini,” aku mengedip pada Alice lalu menyoletkan Ice Cream punyaku ke pipinya.


“Ahaa… kamu masih ingat,” Alice tertawa renyah.
“Mana mungkin aku lupa.” Aku tersenyum
“Ya mana mungkin kamu lupa, walaupun sudah ada Alice yang lain,” Alice tertawa lagi.
“Bukan Alice yang lain, tapi memang orang lain. Kau juga tak akan lupa dengan Keven, si Ganteng ini kan,” aku mengedip genit.
“Mana mungkin aku lupa.” Alice sepertinya mencontoh ucapanku.
“Ya mana mungkin kamu lupa, walaupun sudah ada Keven yang lain. Hahaa…” aku tertawa. 


Lalu seketika Alice menjambak rambutku. Dan berakhirlah pagi ini dengan colet-coletan es krim dan kejar-kejaran. Ahh… Alice andaikan masa kecil yang kita habiskan berdua lebih lama. Mungkin kita tak perlu bertingkah seperti anak kecil, dan orang-orang menertawai tingkah kita yang konyol seperti saat ini.

***

Hahaa.. aku terlalu konyol jika berfikir Alice sama terpuruknya sepertiku saat kehilangannya. Mungkin ia sempat sakit kehilanganku. Namun waktu mengobatinya lebih cepat, begitupun aku. Cia mengobatiku. Aku tak sabar menyambut kedatangannya.

Perasaan ini tak bisa diungkapkan. Rindu ini membeludak di ubun-ubunku. Dadaku berguncang hebat, lalu keringatku tak berhenti mengalir. Ini terlihat berlebihan, Cia baru tiba di Indonesia sekitar pukul 04.00, namun aku telah menunggunya sejak pukul 02.00. sekarang masih pukul 03.00. satu jam lagi serasa lebih lama dari 7 tahun kerinduanku. Keven ada apa denganmu,sisi hatiku yang lain tertawa terpingkal-pingkal, dan yang satunya mendengus kesal.


Aku terlihat begitu bodoh. Bolak-balik bandara tak tentu arah. Duduk, berdiri lagi, lalu melihat-lihat kerumunan orang yang sibuk sendiri. Lalu kuputuskan untuk mencari makan di tempat terdekat, haha.. aku hampir lupa kalau seharian ini aku hanya makan ice cream bersama Alice. Betul kata orang, cinta bisa bikin orang lupa makan :p

***

Seorang gadis melambaikan tangannya padaku. Ia tersenyum, wajahnya merah merona. Aku pun tersenyum dari kejauhan. Aku tahu itu Cia, rindu yang kusimpan selama 7 tahun lamanya. Tak sabar kaki ku melangkah mendekatinya.

Gadis itu terus melambai, aku tertawa riang. Inikah indahnya sebuah pertemuan. Aku ingin segera melihat wajahnya dari dekat. Lalu menghabiskan hari, bercerita tentang aku dan dia. Hanya kami berdua.
Namun, perlahan wajah gadis itu berubah kelam, ia terlihat ketakutan dan berteriak…

“Keven…”

BRAAAK….

Entah apa yang telah terjadi padaku. Semuanya hitam lalu berubah putih. Hanya kosong dan putih yang kutemukan. Aku meronta, rasa sakit menjalari semua tubuhku. Aku mendapati diriku terkapar pada ruang kosong. Tak ada siapa-siapa… dimana Cia… harusnya saat ini aku menemuinya dibandara.

Ahh aku tersadar, aku terdampar pada sebuah tempat, yang entah aku pun tak tahu. Air mataku menitik. Benarkah ini sebuah pengakhiran akan takdirku, tak bisakah sebentar saja menemuinya. Cia, aku hanya ingin melihat senyumnya terakhir kali lalu mengatakan terimakasih padanya. Hanya itu… aku mohon…

Tak ada yang berubah selain putih, lalu aku pasrah. Aku teringat kembali kata-kata Cia  When you said that you love someone, you are making a promise. A promise, of a lifetime. Make sure you remember that.

Dan aku begitu merindukannya.
Will you?

"Keven...." Aku tersadar. Sakit menjalari seluruh tubuhku. aku baru ingat saat aku ingin menghampiri Cia, sebuah mobil menghempaskan tubuhku. Lalu aku tak ingat apa-apa. Dan sekarang, Kulihat Cia sudah berada disampingku, dan kuharap ini bukan mimpi.

Kulihat wajah Cia pasi... aku tahu dia mencemaskanku.  Cia menangis sesenggukan...

"Aku mencemaskanmu," Jika saja tanganku tak diperban ingin sekali kuhapus air matanya. Tenang saja Cia, Aku.. Keven tak selemah itu. 

Aku tersenyum. Terimakasih Tuhan untuk membuatnya ada disampingku. 

Hujan kembali jatuh membasahi rinduku yang membuncah. 
Kini Cia bukan lagi bayang diantara hujan. 
Dia ada disampingku... 
Terimakasih Tuhan


you're always gonna be my love
I'll remember to love you taught me how
you're always gonna be the one
now and forever



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba "First Love ~ Create Your Own Ending" yg diadakan oleh Emotional Flutter dan Sequin Sakura

catatan untuk Keven: 
Jujur ini cerita yang chika buat sedikit ngehayal hihii...(nah lho kan emang ngayal) :p Cerita ini sedikit harapan buat Keven dan Cia, walaupun dalam cerita Keven yang sebenarnya, takdir sudah menentukan jalannya.
 4 Jempol untuk Cerita First Love nya Keven. Chika ampe sesak bacanya :(
Smoga pembaca suka dengan cerita lanjutan ini^^


Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images