Dialog Bisu

8:58:00 AM

Senja tak seperti biasanya
Aura jingga tak kutemukan dalam persembunyiannya
Hanya samar-samar kegelapan
Tak ada camar, tak ada angin pantai yang biasa kutemui
Hanya diam membisu

Ry terkesima membaca sebuah pesan singkat yang masuk ke hapenya. Dibacanya berulang-ulang, berkali-kali pula ia berdecak kagum. Sms itu dari Rani, seorang sahabat yang tak pernah ia tahu seperti apa wajahnya, seperti apa rupanya, bahkan seperti apa kah suaranya. Lembutkah, atau keras seperti watak orang sumatera biasanya. Yang ia tahu Rani adalah seorang wanita yang begitu tertutup terhadap identitasnya, namun Ry tak pernah mempermasalahkan itu. Ry sudah cukup senang dengan persahabatannya dengan Rani. Setiap ada masalah Rani selalu bisa menenangkannya.

Perkenalan mereka berawal dari sebuah forum di Internet. Awalnya biasa saja, selanjutnya sensasinya ruaarrr biasa… hahaa… Ry yang begitu ceplas ceplos tak menyangka bisa mempunyai sahabat yang begitu pendiam dan polos.

Ry : Puisi sendiri ya Ran??
Rani : Ya iyalah, emang puisi siapa lagi…
Ry: Kirain puisi siapa gitu :D
Rani: kalau puisi orang lain pasti deh aku kasih tau pengarangnya
Ry : iya.. iya… jangan marah dong
       Oh ya Ran, minggu depan aku mau jalan-jalan ke Yogya lho, kamu tinggal disana kan. Ketemuan yuk, aku penasaran ama kamu! ^_^ sekalian ajakin aku jalan-jalan keliling jogja ya yaa…ntar aku deh yang mampir ke rumahmu.
Rani: hmm…
Ry : kenapa Ran, bisa kan… aku telpon ya sekarang, sekali ini aja ya….

Sepeluh menit Ry menunggu balasan dari Rani di yahoo chat nya, namun Rani membisu tak menjawab. Ry kebingungan, Rani selalu begini saat Ry ingin menghubunginya via telpon. Tiba-tiba diam seolah marah, jika ditanya mengapa Rani hanya menjawab seadanya, lebih suka via chat atau sms, karena lebih leluasa.

Ry : Ran maaf ya, tapi aku memang ingin bertemu, bukan untuk macam-macam kok. Ya.. tunggu aku ya minggu depan ^_^

Ry tak menyangka percakapannya dengan Ry sore itu adalah komunikasi terakhirnya dengan Rani. Sejak itu Rani tak pernah menghubunginya bahkan sekadar membalas salamnya di yahoo ataupun di sms. Ry benar-benar kebingungan. Padahal ia akan segera berangkat ke yogya, untuk siapa lagi dia kesana, selain bertemu dengan sahabat baiknya itu.
***
Ry tiba di Jogja dengan hampa, disusurinya Jl. KH Ahmad Dahlan dengan tatapan nanar, harusnya ia bisa bercengkrama bersama Rani sore ini. Tapi Rani tak kunjung menunjukkan keberadaannya. Tiba-tiba sebuah sms masuk, Ry tergopoh-gopoh mengambil hapenya.

Ry, maaf… aku hanya tak mau kamu kecewa, tapi lebih baik daripada terlambat, aku tunggu di taman dekat Keraton.

Wajah Ry sumringah, tempat ia berjalan kita tak begitu jauh dengan Keraton, setengah berlari Ry menyusuri taman. Dilihatnya segerombolan muda mudi bercengkrama. Tapi dimana Rani? Hatinya bertanya-tanya.
Tiba-tiba seorang perempuan berjilbab coklat menghampirinya. Wanita itu tersenyum simpul, menampakkan lesung pipit di kedua belah pipinya. Manis… manis sekali menurut Ry. Ry terkesima hingga tak dapat berkata-kata. Wanita itu tersenyum lalu menundukkan pandangannya.

“Rani… rani….” Tanya Ry gelagapan. Wanita itu mengangguk kecil.

“Subhanallah… dari mana kamu tahu ini aku. Kenapa tiba-tiba kamu tak menghubungiku, aku benar-benar kebingungan Ran. Tapi syukurlah kita bertemu sekarang, banyak hal yang ingin kubicarakan.” Ry masih gelagapan menghadapi Rani. Namun, tiba-tiba air muka Rani berubah, wajahnya tak secerah tadi. Dan Ry terkesiap memperhatikan air mata yang tiba-tiba mengalir dari mata indah Rani. Rani tak bicara sepatah katapun, ia menyerahkan sebuah kertas pada Ry.

Maaf Ry aku tak bisa bicara.

Ry menatap Rani sedih, selama ini Rani tak mau berkomunikasi via telpon bukan karena ia sombong, atau bahkan dia tak mau bicara pada Ry. Tapi karena keterbatasan yang tentu bukan kesalahannya.

“Rani… apa kau pikir, aku akan berhenti jadi sahabat mu hanya karena ini. Menjadi temanmu adalah indah. Aku hanya ingin berteman, tidak ada alasan lain. Bukan karena rupa apalagi suaramu.Bukankah persahabatan itu tak butuh alasan” Ry tersenyum simpul menenangkan hati Rani. Rani yang tadi terisak sekarang berubah ceria. Dipeluknya Ry erat sambari terisak. Ry pun ikut terisak.

Sebuah Percakapan bisu di Mailoboro terasa hangat. Biarlah kata tak bisa mewakilinya, namun hati mereka saling menyatu, bercengkrama dalam indahnya senja.

Untuk seorang teman yang selalu di hati.

naskah ini kemaren chika ikut sertakan dalam Lomba Long Distance Friendship ^^ alhamdulillah masuk 24 besar walaupun gx jadi juara 123 hehee... insyaAllah naskah LDF lain bersama 100 naskah terbaik akan dibukukan :) 

You Might Also Like

24 komentar

  1. kereeen... bacanya mengharu biru. seneng, campur aduk. persahabatan antara Ry dan Rani.
    meskipun awalnya cuman kenal dari Internet.

    walaupun nggak menang, tapi jadi bagian dari 100 naskah terbaik dan masuk 24 besar.. berarti luar biasa Chik!.

    kamu bakat kayaknya nulis cerita2 beginian.

    ReplyDelete
  2. wah masuk 24 besar ya, selamat deh walau tidak menang

    ReplyDelete
  3. subhanallah banget cerita chika. saya juga punya teman kenalan dr internet, dia tinggal di bandung, tp waktu saya ke bandung dulu ga sempat ketemu. mudah2an suatu saat bisa ketemu. amin.

    "pada hari itu semua yg bersahabat akan bermusuhan, kecuali yang persahabatannya karena Allah"

    ReplyDelete
  4. Assalamualaikum mbak Chika...


    Sedih..masya ALLAh..mbak ciamik sekali meramu tulisan ini...

    Rani..biarpun tak mampu berbicara..tapi hatinya mewakili jalinan kata dalam hati...


    **mbak..masuk 24 besar,,,ceritanya dibukukan..nah...dapet komisi dikit dong mbak? makan2 oh...hehehhe

    ReplyDelete
  5. hebat, bisa masuk 24 besar :)
    selamat ya ^^

    ohya, mohon maaf saya baru bisa mampir lagi. sebabnya minggu lalu saya kecelakaan dengan seorang teman dan semua urusannya baru selesai tadi malam.

    ReplyDelete
  6. Allhamdulillah udah masuk 24 besar,daripada aku ga masuk hehehe iya lah ikutan juga ga

    ReplyDelete
  7. Keren banget..
    saya suka bacaannya... :)
    sangat menyentuh...

    semoga sukses selalu mbak.. :)

    ReplyDelete
  8. Indahnya pertemanan ya. Ini menandakan bahwa persahabatan dapat mengatasi apapun, meski dalam keterbatasan sekalipun. Bukankah dalam sebuah persahabatan yang kita perlukan adalah keiklasan untuk menerima satu dengan yang lain tanpa mengambil keuntungan apapun. Dan itu sudah dibuktikan oleh Oleh Ry dan Rani

    ReplyDelete
  9. mengharu biru, bisakah persahabatan maya seperti itu Chik? hehe

    ReplyDelete
  10. wah,keaduk=-aduk nih hati.klu ada waktu kunjungi blog ane ya

    ReplyDelete
  11. Assalamu'alaikum Non Chika,
    terus terang ketika menjelang akhir cerita, terasa kerongkongan ini menjadi kering merasakan situasi yang terjadi.
    Jempol hebat

    ReplyDelete
  12. subhanallah.. bagus banget..
    maaf aku kalo komen g bisa panjang.. -_-
    tapi semakin pendek berarti semakin apeechless.. ^^

    ReplyDelete
  13. Bakat menulis dari ayah... Kata-kata yang indah. Dari jalan Ahmad Dahlan (dekat RS PKU) trus ke alun-alun dekat keraton, abis itu ke Malioboro... Paling enak naik becak...

    ReplyDelete
  14. aku tak heran jika chika pinter banget buat fiksi.. karena darah seni ayahmu benar2 menurun padamu.

    ReplyDelete
  15. selamat ya udah masuk 24 besar... dan selamat juga karena karyanya akan ikut dibukukan. sekali lagi selamat ya...

    ReplyDelete
  16. gimana sih caranya bisa buat cerita bagus spt itu?

    ReplyDelete
  17. semangat banget kamu nulis chika..hebat!

    ReplyDelete
  18. bakat banget nulis yah..
    aku ga bisa bikin cerita yang beginian, ga bisa bikin cerita yang ada alurnya begini..
    padahal kepengen nulis cerpen juga.
    salut deh buat mbak chika

    ReplyDelete
  19. Cikha..tolong kunjungi mp saya ya. ada postingan sesuatu dan menyangkut kamu. thanks

    ReplyDelete
  20. pandainya mbak Chika ini mengolah kata, jadi iri euy...

    ReplyDelete
  21. pinter menyusun kata dalam kalimat nih. keren cerpenya. :)

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images