Keajaiban Itu Rindu

9:38:00 AM

Cerita terakhir dari tiga rangkaian cerita dari Embun Pagi. Cerita sebelumnya dapat disimak pada Keajaiban Itu Pertemuan di myworldwords  dan Keajaiban Itu Cinta di Aku Ingin Pulang di Kala Senja
♥♥♥
“Raga…” Embun memanggil nama Raga dengan lembut.
“Ada apa Embun?” Raga  menatap Embun dengan kedua matanya yang tajam. Embun Amora Bethari, saat menyebut nama itu, dadanya seoalah dialiri kesejukan. Embun, dia memang laksana embun di pagi hari yang menyejukkan kesepian dalam jiwa Raga. Pertemuan dengan Embun telah membuka matanya lebar-lebar. Embun bukan gadis biasa, ia luar biasa. Sakit yang ia alami saat ini, bahkan tak mengurangi semangatnya untuk mendaki Gunung Lawu, mimpi yang selama ini hanya ia pendam di antara lipatan agenda.
“Kenapa kau mau menemaniku hingga saat ini.” Pertanyaan Embun seketika membuat Raga terkesima. Dadanya berdegup kencang, tak tentu. Embun saat ini menatap matanya lekat, Raga bahkan tak mampu untuk membalas tatapannya.
“Aku…” Raga mengatur nafas nya agar tak terlihat gugup.
“Aku hanya ingin membantumu menggapai harapan mu,.. kesana…”Raga menunjuk Puncak Lawu yang sebenarnya tidak terlalu jauh lagi dari tempat mereka sekarang. Namun, melihat kondisi Embun, Raga tak bisa memaksakan. Jika terjadi apa-apa pada Embun, Raga tidak akan bisa memaafkan dirinya. Saat ini, yang terpenting baginya adalah ia bisa selalu bersama Embun.  Tak peduli apakah Embun tahu atau tidak akan perasaan yang saat ini menjalar di hatinya, yang terpenting Embun bahagia.
Embun tersenyum simpul, tampak lesung pipit dikedua pipinya.
“Terimakasih…” lagi-lagi Embun tersenyum yang membuat hati Raga semakin berdegup kencang.
“Tidak usah berterimakasih Embun, aku senang melakukan semua ini untukmu. Kau tidak memerlukan burung-burung kertas untuk membawamu ke puncak lawu. Cukup aku saja yang menjadi sayapmu.”
“Hahaa… kamu lucu…” Embun tertawa lepas memperlihatkan deretan giginya yang putih.
“Apa ucapanku tadi tidak terdengar romantis ya.” Raga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Baru kali ini ada perempuan yang menyebutnya lucu.
“Hihii.. Raga.. boleh aku minta satu permintaan lagi.” Tanya embun ragu-ragu. Raga mengangguk pelan.
“Maukah kau membawaku hingga ke puncak. Aku masih kuat Raga, percayalah… aku pasti masih kuat bahkan untuk mendaki 2 puncak lawu.” Mata embun berbinar penuh harapan. Harapan itu begitu kuat hingga bisa mengalahkan rasa sakit yang menjalari tubuhnya. Raga tahu itu, tapi ia ragu.. takut jika terjadi apa-apa pada Embun. Wanita yang saat ini ia cintai.
“Embun… kau sangat lemah, kita bisa kesana lain kali. Jika tubuhmu sudah lebih kuat dari sekarang.” Embun terlihat ingin menangis, matanya berbinar menatap puncak Lawu.
“Tapi.. Raga…” Raga menggeleng. Ia tahu keputusannya ini akan membuat Embun sedih, tapi ia akan lebih sedih lagi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Embun.
“Baiklah, jika kau tak mau menemaniku, aku akan ke sana sendiri, dengan kakiku sendiri Raga.” Embun bangkit dari duduknya, Raga kaget lalu menahan Embun.
“Jangan memaksakan diri Embun. Aku janji jika kau sudah lebih sehat, aku akan menemani mu hingga ke puncak sana.”
“Raga, aku ini sakit… hidupku tak akan lama lagi, jika aku harus mati biarlah aku mati di puncak sana. Biarlah aku mati diantara hamparan edelweis, biarkan aku menggapai mimpi terakhirku… jangan halangi aku…” tangis embun pecah, isaknya membuat hati Raga semakin perih.
“Jangan menangis Embun.” di hapusnya air mata Embun perlahan.
“Kau tahu janji seorang lelaki kan, aku janji akan membawa mu ke puncak sana, apapun yang terjadi. Sekarang jangan menangis lagi, aku tak sanggup melihatmu terus menangis.” Perlahan disekanya air mata Embun yang terus mengalir. Embun yang mendengar perkataan Raga, langsung tersenyum senang.
Perjalanan menuju Puncak ternyata tidak mudah. Raga dan Embun harus berhenti beberapa kali, karena Embun terlihat letih. Wajahnya pucat dan sesekali ia muntah-muntah. “Embun, kita harus berhenti sampai disini.” Ucap Raga cemas melihat kondisi Embun yang begitu lemah. “Raga kau bukankah sudah berjanji apapun yang terjadi akan membawaku melihat edeilweiss.” Jawaban Embun membuat Raga bimbang, Ia telah berjanji. Dan pantang baginya mengingkari janji.
“Baiklah. Tapi kau harus naik ke punggungku.” Ungkap raga sedikit ragu-ragu.
“Tapi…”
“Tidak ada tapi-tapian, aku tak mau terjadi apa-apa padamu. Biarlah tas kita tinggalkan disini, jika kita sudah sampai puncak, aku akan mengambil barang-barang kita lagi kesini.” Kali ini Raga tak ragu-ragu. Embun tampak sungkan jika harus merepotkan Raga sejauh ini. Tapi Embun tahu, Raga tak pernah main-main dengan ucapannya.
Perjalanan ke puncak yang biasa dilalui Raga kini terasa berbeda. Ada embun di punggungnya yang sedari tadi terus mengucapkan terimakasih. Sesekali Embun menyeka air matanya.
“Raga… harapan dan mimpi itu bisa mengalahkan apa pun. Bahkan pada saat kita terlihat begitu lemah dan tak berdaya. Harapan memberikan kekuatan yang tak terduga. Apalagi orang seperti aku, jika tak punya harapan dan mimpi mungkin akan begitu cepat menyerah dan pasrah.” Raga tersenyum. “Benar Embun, sama seperti saat ini, harapan ku adalah memenuhi harapanmu hingga aku bisa bertahan membawamu hingga kita bisa melihat keabadian edeilwiess yang terhampar di Puncak Lawu. Hingga aku bisa melihat tawa lepasmu lagi, dan meyakinkan bahwa aku sanggup menjadi sayapmu bahkan menjadi kaki dan tanganmu.” Ungkap Raga dalam batinnya.
♥♥♥
“Embun… bangunlah… lihatlah apa yang ada di depanmu.” Raga hampir menangis melihat embun terkulai tak berdaya. Perlahan matanya membuka, lalu ia tersenyum melihat hamparan edelweiss di hadapannya. Satu keinginan terbesarku akhirnya terwujud. Dan aku tak akan melupakan semua kebaikanmu. Ungkap Embun dalam hati.
“Terimakasih raga…terimakasih…terimakasih…” embun menangis sambil memejamkan matanya. Hatinya begitu bahagia, walaupun kini kepalanya terasa begitu sakit.
“Embun… bangunlah…jangan tidur…” Raga berteriak histeris.
“Raga… aku hanya letih, aku tidak akan mati disini, aku tak akan merepotkanmu untuk membawaku ke bawah lagi…” tiba-tiba saja Embun bangkit dari tidurnya dan mengucek-ucek rambut Raga. Mereka tertawa bersama.
“Ini untukmu Embun.” Raga memberikan gelang hitam kesayangannya pada Embun. Embun menerima dengan hati, dan langsung memakainya.
“Dengan ini sepertinya aku jadi lebih kuat ya Raga.” Raga tersenyum simpul melihat kebahagiaan embun.
***
Edeilweiss… bunga abadi, seabadi cinta Raga pada Embun. Entah ini minggu ke berapa sejak pendakian mereka ke gunung Lawu dan Embun sekarang entah dimana. Raga mencoba mencari kemana-mana, namun tak jua ia temukan jejak Embun. Padahal Embun berjanji jika ia telah sehat, ia akan kembali menemui Raga. Di sini, di Gunung Lawu. Tempat dimana Raga saat ini berjalan gontai. Sembari mengingat-ingat perjalanannya bersama Embun, Embun Amora Bethari, gadis yang begitu ia cintai,  tak bisa dipungkiri Raga begitu merindu akan kehadiran Embun.

Kemana langkahku pergi
Slalu ada bayangmu
Kuyakin makna nurani
Kau takkan pernah terganti

Di saat yang sama, dari sebuah jendela yang menghadap persis ke arah Gunung Lawu, seorang wanita tengah asyik memotret  ke arah puncaknya. Sesekali dilihatnya gelang hitam di tangannya. Lalu menarik nafas dalam-dalam. Ia begitu merindukan pemilik gelang itu.

Walau ke ujung dunia
pasti akan kunanti
Meski ke tujuh samudera
pasti ku kan menunggu

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com.

You Might Also Like

29 komentar

  1. bagus chik! sukses ya semoga lolos ;D

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas partisipasi sahabat
    3 artikel telah saya baca dengan tuntas.

    Grup anda akan segera di daftar sebagai peserta
    dengan catatan saya sudah mendapat penjelasan bahwa nama anggota grup yang tertulis pada kolom pendaftaran adalah nama asli, bukan nama pena, khususnya nama peserta nomer 1 dan 3.

    Silahkan cek di page Daftar Peserta Kecubung 3 Warna newblogcamp.com
    Salam hangat dari Markas BlogCamp Group - Surabaya

    ReplyDelete
  3. Hem... Ceritanya ngingetin sama Nilla deh Chik hhe...

    Yupz kaya yg dulu aku pernah koment ditempat Nilla, Orang yg punya kekurangan aja masih semangat menghadapi hidupnya bahkan sampai saat2 terakhir, masa iya kita yg sehat malah males2an... :D

    Hem... bagus Chik ceritanya... aku mau baca punya Mbak Diana ama Nilla dlu ah...

    Maaf baru bisa mampir :P

    Happy blogging n Semangat :D

    ReplyDelete
  4. semoga sukses dengan kontesnya ya...

    ReplyDelete
  5. keren, touching gini ceritanya.. ah. sampe larut terbawa emosi pas bacanya nih Chik.. salut saluut.. semoga menang!

    ReplyDelete
  6. Wuiiih...bagus banget ceritanya, bikin Bang Pendi kangen sama seseorang...hehehe. Apalagi ada syair lagunya Crisye, wah jadi terasa menyentuh..

    Mantap deh Non! semoga sukses kontesnya.

    ReplyDelete
  7. siiip...siiip... gud lak ya!

    ReplyDelete
  8. waow sangat terhanyut dengan penuh emosi. begitu menyentuh dan ada banyak hikmah di dalamnya.
    Menang ya Non Chika ....

    ReplyDelete
  9. wah chika udah posting duluan nih, sukses ya

    ReplyDelete
  10. hah apa ini?
    cerpen buat lomba yak?
    semoga menang ya, bagus soalnya :D

    yuk kunjungin saya balik :)

    ReplyDelete
  11. Assalamualaikum chika...

    akhirnya cerita yang ketiga sudah aku baca disini,, insyaallah menang!! amiin....

    tadi sudah ke tempat dik Nilla, sekarang tempat jeng diana dulu aah.....

    ReplyDelete
  12. Assalamu'alaikum Selamat Sore... Chika

    Cerita ketiga udah kelar... Semoga sukses InsyaAllah

    ReplyDelete
  13. wah menggantung sekali ceritanya,,
    tapi seru juga deh..
    mudah2an sukses deh ikutan kompetisinya :D

    ReplyDelete
  14. uuh keren gini,,,
    terharu aku,,smg menang

    ReplyDelete
  15. Chayoo... aku mendukungmu.... hbat tao

    ReplyDelete
  16. bagus banget,moga sukses.salam kenal,klu ada waktu maen2 keblog ane ya

    ReplyDelete
  17. Aku doain menang,y,Mbak ^__^

    Eia, ini award buad Mbak.. Cendolin, ya ^^

    ReplyDelete
  18. Beuuh. . Akhirnya sampai juga ya Embun di Argo Dumilah.
    Sukses deh buat Embun dan juga cerita kalian, semoga beruntung diacaranya Pak De.

    Salam.. .

    ReplyDelete
  19. waahhhh...moga sukses bwt kita smua ya chik..heheh..
    semangat embun pagi..! :D

    ReplyDelete
  20. terharu ... semoga menang kontes y!

    oia, saya ijin share. mohon jangan dianggap sebagai spam. namun jika tidak berkenan, dihapus saja tidak apa-apa.

    seorang adik dari anak didik teman saya saat ini sedang membutuhkan bantuan seikhlasnya, baik berupa doa untuk kesembuhannya maupun dalam bentuk finansial. Saat ini dana yang terkumpul baru sekitar 3,5 juta, sementara yang dibutuhkan sekitar 50juta.

    info lebih lengkapnya bisa dilihat di sini.

    Nurul Safika

    silahkan di share ke rekan-rekan yang lain.
    insya Allah, kebaikan anda semua mendapatkan balasan Tuhan yang Maha Esa.
    terima kasih.

    ReplyDelete
  21. Kemana langkahku pergi
    Slalu ada bayangmu
    Kuyakin makna nurani
    Kau takkan pernah terganti

    lagunya Chrisye ya?

    ReplyDelete
  22. waah...akhir kisah yg tak kalah indah...
    Semoga sukses di K3Wnya ya..
    Salam kenal

    ReplyDelete
  23. Cinta abadi akan tetap terikat di hati walau jasat telah mati, cinta sejati terus memberi kekuatan walau jarak terpisahkan, berharap Raga dan Embun bisa bertemu... :)

    walaupun agak terlambat, Juri Kecub datang,, untuk mengecup karya para peserta,, mencatat di buku besar,, semoga dapat mengambil hikmah setiap karya dan menyebarkannya pada semua…

    sukses peserta kecubung 3 warna.. :)

    ReplyDelete
  24. Jika memang saling mencintai mengapa harus diingkari? Cinta yang terpendam membuat hati tak tentram.

    Kisah telah disimpan dalam memori untuk dinilai.
    Salam hangat selalu.

    ReplyDelete
  25. Ceritanya mengharukan, benar-benar mengharukan. Saya terhanyut dengan emosi yang ada. Gunung Lawu itu, benar-benar menunjukkan auranya di dalam cerita ini.
    Cerita sudah dicatat dalam buku besar juri, terima kasih

    ReplyDelete
  26. Salam Takzim
    Sosok itu akhirnya menulis karya penutup uantuk persembahan K3W semoga sosok itu mendapatkan tali asih dari pakde
    Salam Takzim Batavusqu

    ReplyDelete
  27. aih...keren banget mba. saya suka sekali critanya.
    salam persahabatan, bangauputih ^_^

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images