Follow Us @riafasha

Saturday, April 30, 2011

Rindu Ima

Ima merentangkan kakinya di atas pasir pantai. Terasa kehangatan menjalari kaki-kakinya yang basah, matanya nanar memperhatikan kapal yang merapat ke dermaga.
“Abang…” Ima beringsut dari duduknya, melambai-lambaikan tangannya pada kapal  itu.
“Abang…” Ima berteriak lebih kencang dari sebelumnya, lalu berlari mendekati kapal itu.
“Sudah Ima… sudah… itu bukan Abangmu,” Emak seketika menarik lengan Ima yang  hampir menceburkan dirinya pada gulungan ombak.
“Itu pasti Abang mak… itu pasti Abangku, dia pasti datang untuk menjemputku,” Ima tersenyum bahagia sembari melepaskan pegangan Emaknya. Ima melewati ombak, berlari-lari dengan girang. Tapi tiba-tiba ia berdiri mematung dan menangis. Emak hanya geleng-geleng kepala lalu kembali ke rumah.
***
“Abang pasti pulang kan Mak,” tanya Ima saat menemani Emak mengeringkan ikan.
“Abang mu tak akan pulang, sudah kukatakan berulang-ulang Abangmu sudah mati di laut sana,” sebenarnya Emak tak tega mengatakan hal ini pada Ima, tapi Ima terus saja tak mengerti.
“Emak bohong!” Ima melemparkan ikan yang ada ditangannya, lalu berlari menuju pondokan tempat ia dan Abangnya biasa bercengkrama.
***
gambar diambil disni
“Suatu saat nanti, abang akan mengajakmu berlayar ke tempat yang paling indah ma” Fadli, lelaki yang baru satu bulan sah sebagai suami Ima itu tersenyum menatap gadis yang sangat dicintainya.
“Kemana itu bang?”
“Suatu saat kau akan tahu, selepas berlayar abang akan mengajakmu, abang janji!”  Ima terus terisak jika mengingat kata-kata abangnya itu. Janji itu tak akan pernah ditepati, karena Abangnya entah dimana saat ini. Kini ia hanya bisa menunggu di dermaga hingga abangnya pulang.
“Ima orang gila… ima orang gila…”anak-anak yang bermain di pantai terus mengejeknya yang selalu duduk diam di atas pasir pantai. Sesekali Ima melempari anak-anak itu dengan pasir.
Perlahan hujan turun, pantai yang hangat mulai terasa dingin, bau pasir basah tercium tapi Ima tak beranjak dari dudukannya di pasir.
“Bukankah ini hari ulang tahun pertama pernikahan kita bang? Ima tak akan pulang sebelum Abang tiba” Ima menatap nanar gulungan ombak yang menderu.
“Ima pulanglah,” teriak Emak dari kejauhan. Namun Ima tak berkutik sedikitpun.
“Bang Ima Rindu…” Ima terisak… butir air matanya bersatu bersama tetesan hujan.  Lalu ia berjalan tertatih menuju ombak , masih dengan isak ditahan. Ima tenggelam bersama ombak.

sebuah Flash Fiction yang gagal menang hihii#

11 comments:

  1. sayang sekali, mengapa ima harus berakhir seperti itu..

    saya mengerti perasaan ima, tapi menerima takdir dengan lapang dada adalah yang terbaik..

    ReplyDelete
  2. biarpun gagal menang ada kemauan untuk buat bukan :)

    ReplyDelete
  3. kegagalan adalah keberhasilan yg tertunda, semangat :)
    kasian Ima baru menikah harus merasakan kehilangan orang yg dicintainya untuk selamanya :(

    ReplyDelete
  4. Lomba dimana nih? padahal lumayan bagus lho chika..

    ReplyDelete
  5. bagus ceritanya, sedih, kasian ima..

    oiya, ada award nih buat chika.. semoga berkenan ya.. http://ameliasaga.blogspot.com/2011/05/hp-organizer-dan-award-lagi.html

    *BigHug

    ReplyDelete
  6. Kereeeen....

    Mau ikutan nulis di majalah Online Aul gak, kak chika...??

    masih baru banget sih...
    jadi masih standar majalahnya.
    tapi nanti bakal terkenal lho...
    *ngerayu*

    hehe

    AOmagz.blogspot.com

    ReplyDelete
  7. waw... gagal menang?
    keren sekali penuturannya..
    melow yang kena jugah... ^_^

    salam karya yah ,,, teruskan menulis dan berbagi ^_^

    ReplyDelete
  8. ceritanya bagus ... terus menulis, jangan patah semangat

    ReplyDelete
  9. wah jd terharu aku....

    hehe....

    lanjut yah ceritanya,...

    ReplyDelete
  10. telat dateng non,
    kalo aku jadi jurinya pasti lolos nih, bukan karena kenal sama orangnya (kenal secara maya hhhh) tapi ide cerita dan alurnya yang menarik dan menggugah perasaaan.

    ReplyDelete
  11. gagal menang?
    mungkin memang sedang tidak beruntung saja

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)