Follow Us @riafasha

Friday, July 1, 2011

Dua Sisi Maya

Pernahkah kalian merasa begitu dekat dengan seseorang? Bahkan mempercayainya lebih dari segalanya... Menceritakan segala hal padanya, bahkan rahasia yang orang lain tak boleh tau. Mungkin pernah! Lalu bagaimana jika seseorang itu hanyalah sebuah bayangan maya yang hadir di antara layar monitor? tak lebih dari icon-icon yahoo messanger atau sekedar kata-kata yang tak bersuara?

Entahlah, bagiku mereka nyata. Hanya saja ruang kami yang terpisah. 
Maya : Puisi itu adalah sebuah ruang
Aku : Ruang apa May?
Maya : Ruang kita sendiri Ry, dan tak ada yang bisa mengusiknya, tak perduli orang mau berkata apa!

Maya, selalu membuatku terkesima dengan ucapannya, bahkan dengan puisinya yang menurutku begitu mengalir. Indah. Dan penuh rasa. Allah seolah menakdirkan kami berjodoh, dipertemukan dengan puisi. Begitu aku menganggap awal pertemuan kami! berawal  dari sebuah forum. suatu hari ada ajang berbalas puisi, aku dan Maya berlomba-lomba hingga kehabisan ide. Begitu menyenangkan, menemukan seseorang yang memiliki minat yang sama. Aku bisa berbagi dengannya. meminta sarannya, bahkan menangis di depannya. Walaupun nyatanya, hanya menangis di depan monitor sembari mengetik kata-kata.

Maya, selalu membuatku tenang. walau aku pun tak tahu seperti apa wajahnya, dan suaranya sangarkah? lembutkah? entahlah, aku pun tak perduli. Yang aku tahu Maya bisa menjadi sahabatku, dia ada di sampingku saat semuanya tak peduli padaku.

Aku : May, kapan ya kita bisa ketemuan! pengen cerita banyak secara langsung
Maya : Sepenting itukah sebuah pertemuan?
Aku : Hmm menurutku iya
Maya : .......

Tak ada balasan dari Maya. Walaupun aku mengirim email berkali-kali. Aku benar-benar kebingungan. Satu hal yang menjadi hal misterius tentang Maya. Ia selalu marah saat aku menyinggung tentang kopi darat. Padahal aku berencana mengunjunginya akhir minggu ini. Kebetulan aku mendapat mandat dari Kampus untuk mengikuti Pelatihan SAR di Jogja.

Aku tak pernah menyangka, sejak hari itu Maya tak pernah menghubungi ku lagi. Hapenya aktif, tapi tak pernah ada balasan. begitu pun dengan YM atau pun email, seratus kalipun aku meminta maaf tak membuat hatinya luluh.

Hingga suatu hari, seseorang yang mengaku maya mengirim email padaku.
Ria, maaf aku mengganggumu. Tapi aku butuh sekali bantuanmu.

Aku kaget! email dari maya, tapi kenapa emailnya beda? aku berfikir mungkin maya sengaja mengganti emailnya. Karena sudah begitu lama tak menghubunginya, aku langsung saja menanggapinya.
Aku : Ada apa May?
Maya : orang tua ku sakit Ri
Aku : Sakit apa? apa yang bisa aku bantu?
Maya : Aku butuh uang untuk pengobatannya
Aku : Berapa?
Maya : Sekitar dua juta

 Aku berfikir agak lama. Aku tak punya uang sebanyak itu. Tapi Maya begitu kesusahan. Aku memutar otak. Kubongkar semua tabunganku. Aku lihat saldo tabunganku. Aku tanya ayah dan ibu, bahkan ku sms semua temanku. Namun Nihil. Uangku hanya mencapai nominal lima ratus ribu. itu pun harusnya aku bayarkan untuk SPP.

Aku : Maaf may, aku hanya punya lima ratus ribu
Maya : Ya sudah, gx apa2 Ri
Aku : Tapi kamu bisa kok pake uang ku yang lima ratus ribu ini
Maya : benar Ri? terimakasih ya Ri, akan ku kembalikan secepatnya
Aku : Iyah, sama-sama

Aku bahagia. Setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untuk maya. Ingin sekali aku menemaninya, karena aku tahu rasanya saat seseorang yang kita sayangi sakit dan  kesusahan.

Dua hari setelah itu, Maya kembali menghilang... aku kembali menghubunginya, tapi tetap tak ada kabar. Aku kesal. Jujur bukan karena uang, tapi karena sikapnya yang seperti itu. Menghubungi saat dia membutuhkan ku. Tapi dimana dia saat aku membutuhkannya saat ini. Hingga aku mengiriminya sebuah pesan singkat.

"Maya, aku akan ke jogja minggu ini, aku tunggu di Mailoboro hari minggu, jangan sampai tak datang"

***
Hampa. tak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah kehilangan. Maya tak akan datang, bahkan tak ada tanda-tanda Maya akan datang. Sedang langit semakin jingga. Burung-burung berarak, tertawa dalam kerumunan nya. Namun aku sendiri, menatap sepi dalam keramaian Malioboro.
Jika saja tidak ada sebuah sms yang masuk, mungkin aku sudah menangis di tempat aku berdiri.

"Hanya tak ingin membuat mu kecewa. Lebih baik daripada terlambat. Aku tunggu di dekat keraton."  Itu sms dari Maya... ini benar sms dari maya.. Aku tergopoh-gopoh membalas smsnya. memintanya untuk menunggu. Wajahku yang loyo berubah sumringah. Setengah berlari ku susuri jalanan Malioboro menuju keraton. Keringatku mengucur deras. Wajah Maya yang tak pernah kuliat terbayang-bayang di benakku. Mulai dari wajahnya Inneke, hingga wajahnya Demi Lo Vato. Seperti apakah maya? Dadaku berdegup kencang memikirkannya.

Dengan nafas ngos-ngosan aku tiba di plataran keraton. Banyak muda mudi bergerombol disana. Tapi dimana Maya? aku melongo seperti orang linglung. Hingga seorang wanita berjilbab coklat menghampiriku. Dari kejauhan aku bisa melihat matanya yang teduh, Ia tersenyum simpul, memperlihatkan belahan pipinya. Sangat manis, lebih cantik dari bayanganku. Aku berubah gagu. kata-kataku bahkan tercekat ditenggorokan. Kupeluk ia erat. Hangat. Maya... dia sahabatku.

"Maya..." suaraku terdengar parau. Maya hanya mengangguk kecil.
"Akhirnya kita ketemu May, darimana kamu bisa mengenaliku? Bagaimana kabarmu? kenapa tak pernah menghubungiku?" Aku masih gelagapan bertanya pada Maya. Entah ada angin apa, tiba-tiba wajah sumringah Maya berubah pasi, tatapan nya pias. Ia tak mengucapkan apapun, perlahan airmatanya menetes. Aku bingung, Maya memberikan sebuah kertas padaku.

Maaf Ry, aku tak bisa bicara

Aku terdiam pilu. Langit memerah jingga. Tanpa kata kupeluk Maya yang sesenggukan.
"Aku tak pernah mempersalahkan apapun May, tak suaramu tak rupamu, aku hanya butuh kamu sebagai sahabat. Bukankah persahabatan itu tak butuh alasan" Aku semakin memeluknya erat. Sekarang aku tahu kenapa Maya tak pernah mau bicara via telpon, selalu marah saat bicara tentang kopdar. air mataku ikut mengalir seiring senja yang memeluk Keraton.

"Bagaimana kabar orang tuamu? apakah sudah sembuh?" Maya terlihat kebingungan, Ia menggeleng lalu menuliskan  sebaris kalimat di note nya.
Orang tuaku sudah meninggal sejak lama Ry.

Aku kaget bukan kepalang. Lalu siapa yang meminta bantuanku? lalu siapa yang mengaku maya?  Jadi itu bukan Maya? Aku menghela nafas panjang. Maya menenangkanku. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Maya dan Maya. Dua sisi yang berbeda.

Entahlah! sedetik setelah itu aku tak peduli. Ada Maya disampingku. Sahabat terbaikku. Biarlah kata tak bisa mewakilinya, namun aku yakin hati kami saling menyatu, bercengkrama dalam indahnya senja.


Teruntuk sahabat
aku ingin mengarak bunga di antara bias-bias harapanmu
bahkan ingin kuhadirkan pelayaran yang selalu kau rindu
antara harapan
dan asa

ingin kulukis  hatimu
membentuk rangkaian indah dalam senja
kau bagai jingga di pesisir pantai
kau bagai biru di celah kelam


aku bahkan tak bisa bisa bersenandung
untuk mengenangmu




NB: Nama Maya adalah nama samaran, untuk menjaga privasi :) cerita Maya juga pernah chika tuliskan secara singkat di Dialog Bisu

***
INFO LOMBA:

http://www.facebook.com/notes/aulia-zahro/wajib-dibaca-buat-para-calon-peserta-lomba/10150213270365982#!/note.php?note_id=10150190287595982


http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/05/14/lomba-menulis-kisah-nyata-dunia-maya/

http://putrilan9it.multiply.com/journal/item/185/Lomba_Menulis_Kisah_Nyata_Dunia_Maya

28 comments:

  1. hikz kok jadi ikut manyun gini gw ... sedih .. ikut sedih .. tega bener yg ngaku2 maya :p

    ReplyDelete
  2. Akhirnya maya mau bertemu juga ya.
    berunutng sekali punya sahabat seperti Chika

    ReplyDelete
  3. sungguh persahabatan yang mengahrukan,
    saya juga bisa mengerti mengapa mbak maya tidak memberitahukan hal itu dari dulu, mungkin dia takut sahabatnya meninggalkannya karena keterbatasannya, tapi kalau mbak maya tau dari awal sahabatnya tak memerlukan alasan untuk sebuah persahabatan, pasti lah kejadian menyedihkan ini tak pernah terjadi.. :)

    super keren mbak, sedikit merinding dan terharu saya..

    ReplyDelete
  4. ingin kulukis hatimu
    membentuk rangkaian indah dalam senja
    kau bagai jingga di pesisir pantai
    kau bagai biru di celah kelam

    hm, indah banget...

    ReplyDelete
  5. wah, koq kayaknya dejavu yah.. pernah mengalami.. tapi bedanya nggak ketemu langsung. hohohoh.. *plaak

    nggak nyangka yah, ternyata apapun bisa berbeda kalo sudah bertemu langsung.

    well, semoga menang ya Chik!

    ReplyDelete
  6. udah baca kisahnya..bagus
    tp soal pinjem uang itu, agak bingung, terlalu banyak pertanyaan kenapa ini itu.. hehe

    ReplyDelete
  7. Jujur, ini postingan yang begitu mengalir,kita merasakan apa yang dirasakan oleh sitokoh...

    ajarin dong cara memilih kata perkata...

    ReplyDelete
  8. persahabatan apapun bentuknya slalu saja menghangatkan hati,...right ?

    selamat pagi chika :)

    ReplyDelete
  9. ooh ini lomba tokh? moga menang yaah..

    ReplyDelete
  10. Dalam sekalii.... begitu mengalir dan indah ^^

    persahabatan tidak butuh alasan
    persahabatan penuh rasa sayang
    persahabatan sejati tak pernah mati ^^

    wish u be winner! :D

    ReplyDelete
  11. aih... terharu.... tapi siapa maya yang satunya?

    ReplyDelete
  12. jadi ingat adek mayaku, tapi dia dinegeri jauh, entah kapan kami bisa bertemu?

    ReplyDelete
  13. Suka pada bagian ini, Rei :

    "Biarlah kata tak bisa mewakilinya, namun aku yakin hati kami saling menyatu, bercengkrama dalam indahnya senja."

    Hehe.. Keren.. ^__^

    ReplyDelete
  14. Wew... komen terbanyak yg pernah ada di BS :P

    ReplyDelete
  15. waaah, mengharu biru banget kak huhu.
    oh iya, ada tag2.an buat kak chika nih.. dibuka ya..
    http://laraspalupi.blogspot.com/2011/07/hello-blogger-im-back-again-d.html

    ReplyDelete
  16. kalo ke Jogja ketemuan sama aku yuuuk. hati2, facebook sering dibajak disuruh transfer

    ReplyDelete
  17. hikz.. benar2 spti aq tokoh utamanya, bgitu mampu dicerna dan diikuti..
    ini kisah nyata rei? keren!! benar2 tulus wlw maya yg satu ga jelas dan menghilang dengan ..

    ReplyDelete
  18. Apa sebelumnya belum pernah bertemu...
    hmmm Maya akhirnya menampakkan diri meskipun bukan aslinya.
    Yang selalu ada untuk kita adalah sahabat sejati

    ReplyDelete
  19. btw good luck yah buat skripsinya. semoga lulus chikaaaa. :)

    ReplyDelete
  20. ya pas deh.. karena ini memang di dunia maya, maka penggunaan nama mayapun tak kalah mayanya :p

    ReplyDelete
  21. Lalu siapakah yg berpura2 mengaku jd Maya?

    ReplyDelete
  22. ah.. maya yang menjadi ruang..

    salam ;)

    ReplyDelete
  23. waduh ini cerita beneran ya mbak ?
    hmm, semoga pertemanan dengan mbak maya terus terjalin untuk selamanya deh, Aamiin

    ReplyDelete
  24. daleemmmmmm.. ceritanya bagus, dalemmmm bgt. hehehe
    cuma, saya sama sekali nggak sebegitunya deh. nggak bisa bgt bersahabat lewat chatting apalagi sampe nangis, apalagi sampe mau ngirimin duit. hehehe

    but, good luck ya!

    ReplyDelete
  25. wah ini kisah nyata ya? tapi aku jadi penasaran dg seseorang yang mengaku sbg maya itu.. duh, jadi banyak pertanyaan di kepalaku nih.

    Utk kontesnya... semoga menang ya?

    ReplyDelete
  26. pasti senang akhirnya bisa ketemu teman dunia maya :D

    ReplyDelete
  27. ketemu ama teman yang cocok ma kita itu suatu hal yg menyenangkan yaa Chik, aplagi bisa lebih deket, menyatu gitu :D

    tulisan Chika baguuuss, jadi gak berani ikutan nih, hihihih

    ReplyDelete
  28. Akhirnya gua juga ikutan, hahaha
    http://claude-c-kenni.blogspot.com/2011/07/lomba-dunia-maya-maya-di-dunia-maya.html

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)