Follow Us @riafasha

Monday, August 8, 2011

Tentang Seorang Pejuang


"Allahuakbar," subuh pecah bagai lolongan serigala. Derap-Derap langkah menerobos jalanan sunyi, hati-hati telah bergemuruh oleh semangat perjuangan. MERDEKA ATAU SYAHID. Dua pilihan yang harus dipilih oleh pemilik negeri terjajah ini. Tidak ada pilihan lain jika mereka tidak ingin disebut sebagai pecundang. Membiarkan  keringat bercampur darah pejuang tersia-siakan adalah hal yang paling pengecut.

Akbar merekatkan tali sepatunya. Dengan sedikit bisikan bismillah ia berjalan tegap, berkumpul dengan pejuang yang lain. Ya, Pejuang, ah.. rasanya tak ada kata yang lebih indah daripada mati sebagai pejuang pikirnya. Ia tak punya banyak kebaikan di dunia, lagi-lagi ilmu yang luas tentang agama untuk menjaminnya di akhirat nanti. Namun, dengan sebuah sebutan "pejuang" ia rasanya tak lagi takut untuk menghadapi kata MATI.

Rintik mulai kentara saat Akbar melewati sebuah perkampungan sunyi, konon katanya-katanya kampung ini akan dimasuki tentara berkulit putih. Sebelum para penjajah itu tiba, kampung ini harus dikosongkan. Adalah  Rosman, seorang nelayan muda yang tampak berjaga-jaga di sebuah rumah bambu.

"Kemana orang-orang?" tanya Akbar mulai terlihat cemas.
"Sudah mengungsi," jawab Rosman dingin.
"Kemana? bukankah sudah ada utusan yang mengabarkan bahwa warga harus mengungsi ke tempat yang aman!"
"Tidak ada lagi tempat yang aman di negeri ini !" Rintik berubah hujan, jalanan mulai basah dan Akbar semakin cemas. Dari kejauhan bunyi tembakan memecah langit, keringat Akbar berjatuhan. Ini pertama kali ia diberi kepercayaan untuk menyelamatkan warga, sedang saat ini, ia bahkan tak bisa berbuat apa-apa.

"Apa kau ingin semua orang tak bersalah mati?" Akbar memaksa Rosman memberi tahu dimana warga-warga. Dengan helaan nafas, Rosman menelusuri hutan di belakang kampung. Tampak wanita dan anak-anak menggigil ketakutan. Wajah mereka pasi, mata mereka kosong. Ah.. harapan, bisakah kau memberikan secercah sinarmu pada wajah-wajah penantian ini.

Dengan sigap Akbar memberi komando pada Rosman untuk menelusuri jalan bawah tanah yang telah dipersiapkan Serdadu Syahid,
"Dan kau?" Rosman bertanya heran.
"Aku akan memastikan tentara jahanam itu tidak menemukan kalian." Akbar menatap langit yang masih kelabu. Lalu ada hangat yang mengalir dipipinya.

Dengan setengah hati Rosman menuntun warga memasuki sebuah tong yang didalamnya ada serupa jalan bawah tanah untuk pelarian warga. "Jalan itu akan bermuara pada tepi pantai, akan ada pejuang lain yang akan mengantarkan kalian ke tempat yang aman." begitu kata terakhir Akbar yang di ingatnya.

***
Fajar menyingsing kelam, ada cahaya menerobos masuk diantara celah camp penampungan. Ini kesepuluh kalinya Rosman bertanya pada para pejuang. "Apakah Akbar sudah kembali,?" tak bisa dipungkiri walaupun sempat kesal, Akbar dan Rosman adalah sahabat baik. Akbar sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Akbar bersikeras untuk bergabung dalam Serdadu Syahid, sedangkan ia tahu, ia akan mati.

"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un," sebuah suara lirih terdengar sendu dari balik pohon jati. Pemimpin Serdadu syahid menyeka air matanya, memandangi Rosman dengan pilu.
"InsyaAllah syahidnya akan dibalas dengan surga," Sang Pemimpin itu menepuk pundak Rosman yang berguncang hebat.

Semua mata sembab saat jasad seorang pejuang tiba dengan penuh darah. Pagi ini, disini....satu Pejuang telah gugur.
"Allahuakbar...." Mereka bertakbir hingga langit ikut bergunjang. Tidak ada darah dan air mata yang tersia-sia.

***
Aku hampir tak berkedip mendengar cerita Bak Uo, seorang mantan nelayan tangguh yang tak lain adalah kakekku. Walau usia telah membuatnya kian rapuh, aku masih melihat sisa-sisa semangat perjuangan pada raut wajahnya. Ia sampai berkeringat mengenang kembali memori perjuangan yang tak akan ia lupakan hingga ia menyusul Akbar. Begitu katanya.

"Anak muda sekarang jarang yang seperti itu, kalau anak muda sekarang dihadapkan pada situasi itu, mungkin malah memilih melarikan diri daripada menolong orang hahaaa," Bak Uo terkekeh hingga terbatuk. Aku hanya tersenyum pilu. Adakah kita mengingat arti sebuah Kemerdekaan? atau hanya sekedar kata untuk diumbar lalu mengaku sebagai bangsa yang menghargai para pejuang? Entahlah, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang, atau pada tanah tandus yang gersang. Karena mereka tahu darah dan airmata tumpah ditanah ini. 

The End


Baru tahu info ada lomba ini hehee, jadi buatnya mendadak, semoga pembaca suka^^


Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio NiaLidyaAbdul Cholik.

Sponsored By :



12 comments:

  1. Banyak yg ikutan nih...semoga menang ya ;p

    ReplyDelete
  2. kan udah biasa nulis mbak,
    saya yakin menang..

    :)

    ReplyDelete
  3. wah jd semangat nih..jihad fi sabilillah

    ReplyDelete
  4. Terimakasih atas partisipasi sahabat dalm kontes CBBP
    Artikel sudah lengkap...
    Siap untuk dinilai oleh tim Juri....
    Salam hangat dari Jakarta.....

    ReplyDelete
  5. dadakan tapi keren Chika, moga beruntung :)

    ReplyDelete
  6. buatnya mendadak tapi kereeeeen...

    ReplyDelete
  7. horeee chika ikutan :) thanks ya chika

    ReplyDelete
  8. hore.. ada namaku tuh disitu yang jadi pejuang hehe

    Semoga para pemuda kita mempunyai semangat juang tinggi seperti Akbar ya..

    sukses buat kontesnya

    ReplyDelete
  9. Mendadak aja udah keren gimana kalau dipersiapkan jauh2 hari..
    Selamat Chika moga sukses ya

    ReplyDelete
  10. tidak ada segala sesuatunya sia sia.. pasti ada hikmah di tiap kejadian :)

    ReplyDelete
  11. Semoga posting ini menjadi juara...

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)