Follow Us @riafasha

Monday, September 19, 2011

Ai and Mi : Tuhan! Izinkan Aku Mengingat-Mu

cerita sebelumnya
Ai and Mi 
Ai and Mi #1


andaikan setiap puisi adalah do'a
aku harap ini adalah puisi
tengadahku meneteskan kristal bening
kuingin malam ini tak segera berlalu



kucari cahaya bersama sang bintang
bergetar...
ah cahaya itu tak datang
kemanakah jalan pulang?

bolehkah pintuMu kuketuk
merayu padaMu
bukakan lebar sampai pucuk
agar ku bisa masuk



Tuhan…dalam diam, ragu-ragu kuakui kealpaan yang hampir tak kusadari. Harusnya tak perlu lagi kuragui jika suatu saat nanti tika awan telah menjemput kelam. Bayang-bayang dalam temaran seakan menerkam menakutkanku, sedang ku makin tenggelam dalam hitam. Kini…Aku bisu dalam diam. Ketakutan merajai separuh bahkan seluruh hidupku. Jujur aku begitu takut saat ku harus menepati janjiku padamu. Menemui-Mu.
Tuhan. Kau tahu kan aku rindu? Begitu rindu hingga ubun-ubunku mendadak panas. Rindu yang selama ini kupendam bersama sepi.
Tuhan! Kenapa aku harus bersama sepi. Bukankah aku telah lahir dari rahim Ibu, dan aku besar karena perjuangan Ayah? Lalu salah siapakah jika sejak kecil aku tak merasai kasih dari mereka? Bahkan Ade Syifa pun merasai hal sama sepertiku. Hanya saja ia masih kecil dan tinggal bersama keluarga yang peduli padanya. Sedang aku? Terlunta dalam kelam, lalu dimakah Kau saat sepi menggerogotiku.
Tuhan! Kupanggil namamu saat hitam menghancurkan pundi-pundi mimpiku. Namun, sepi lagi-lagi yang datang padaku. Begitupun saat kuteriakkan asa untuk menghancurkan diriku. Enyahkan aku dari dunia ini, hancurkan saja aku, buat aku tidak ada. Bahkan berkali-kali kucoba enyah dari dunia ini, kau membuatku selalu ada. Dalam hidup yang tak jauh dari sepi dan sendiri.
Lalu apa mau-Mu Tuhan?
Apa mau-Mu….
***
Mi menangis memandangiku. Dan aku semakin terisak. Mi merangkulku, aku benci kehangatan seperti ini. Aku benci menangis seperti ini. Aku benci mengakui jika aku merindukan Tuhan. Aku benci mengakui kalau aku rindu kasih sayang Tuhan, aku semakin benci saat aku menyadari ku ingin pulang pada-Nya sedangkan aku bahkan tak tahu jalan pulang.
“Aku terlalu memalukan Mi,” mataku basah. Sesenggukan, jika saja Mi tidak menenangkanku, mungkin aku akan berteriak.
Mi diam penuh makna, ia hanya merangkulku dan menepuk-nepuk bahuku, berharap aku bisa tenang. Kau ini bodoh Mi, bagaimana mungkin aku bisa tenang sedangkan ketenangan telah berlayar meninggalkanku. Kau seolah mengolokku Mi, kau pasti senang telah membuatku seperti ini.   
Mi perlahan mengusap air mataku. Ah Mi hentikan, jangan buatku semakin merasa galau. Walaupun separuh jiwaku berteriak untuk lepas dari keadaan ini, separuh jiwaku yang lain semakin kuat menarikku untuk terus berada disini. Rupanya separuh rinduku lebih hebat dari dendam akan kesepian yang telah jadi teman baik hari-hariku. 
Rindu dan Sepi, keduanya berguncang hebat, makin buat ku terjebak di antara jembatan tiada hujung.
“Bisakah kau menjadi Ai seperti dulu,” pertanyaan Mi menyentakku. 
Aku terbangun. Kulepaskan kain putih yang menutup tubuhku. Kubuang jauh-jauh dariku. Aku marah.
“Tidak akan pernah Mi… tidak akan,” entah kebohongan atau sebuah perjanjian yang kupatrikan untuk diriku sendiri. Bahwa akulah Ai, yang akan terus berteman bersama sepi. Akulah Ai yang tak akan berubah menjadi seperti Mi, dan itu tak akan pernah terjadi.
“Jangan bohongi dirimu Ai… aku tahu ini bukan kau… kembalikan Ai-ku… kembalikan,” Mi mengguncang-guncang tubuhku, air matanya bersimbah. Tak pernah kulihat sebelumnya, ia menentangku sedemikian kerasnya.


“Pergilah Mi… temui jalanmu sendiri… dan aku akan berjalan dengan jalanku sendiri. Apapun yang kau lakukan kita tak akan pernah bersatu. Tak akan pernah.” Aku tahu ini menyakitkan, tapi aku sudah terlalu terbiasa dengan kata-kata yang menyakitkan hati, dan membuat hati orang-orang sakit menjadi candaan yang menyenangkan. Mi meringis pilu, dari kejauhan kulihat ia berusaha mengejar bayangku yang semakin menjauh… 
jauh 
dan 
kian jauh…

bersambung

No comments:

Post a Comment

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)