Ai and Mi

11:11:00 AM


di atas tenor
di atas khayalan-khayalan yang melambung
di sudut-sudut ruang keraguan
menelusuri kealpaan mega
merajut benang-benang kepasrahan
melewati semesta kebisuan

di atas tenor
melambung menggores tinta-tinta kesunyian

di atas tenor
sepi itu bernama sendiri


Sepi Itu Bernama Sendiri
 
Pernahkah kalian merasakan sepi sepertiku? Menjalani hari dengan sahabat bernama sendiri. Adakah yang lebih sepi dibandingkan kesendirian? Sebutkanlah jika ada, agar ku bisa mencari yang lebih sepi daripada sendiri itu. 
 Ini sebuah kehidupan kah? Atau sebuah pengakhiran? Karena tak kurasakan aura hidup melainkan sepi yang berdentang pada tetesan hujan. 

“Kau masih punya sahabat” begitu kata Mi yang sokmengerti apa arti sepi bagiku. Aku hanya mendengus kesal, Ia bahkan tak mengira sahabat ku satu-satunya adalah sepi yang kunamai “sendiri”.
“Ai, kau masih punya keluarga, Mama, Ayah, Ade Syifa, lalu siapakah mereka” Mi.. aku ingin mencekik lehermu jika kau disini. Kau selalu saja pura-pura polos. Enyahlah dari hidupku Mi. Kau terlalu cerewet untuk menemani hariku, kau juga tak bisa membuatku lebih baik. Mungkin aku akan sedikit lebih tenang tanpamu. 

Sepi yang menemaniku telah menjalar ke tiap aliran darahku, lalu tumbuh dalam daging dan tulang. Tak ada yang bisa memisahkan ku darinya, siapapun… termasuk Mi yang selalu saja merecokiku dengan sepi, apapun yang dia lakukan tak bisa memungkiri kenyataan bahwa aku telah memilih Sepi menjadi sahabat sejati. Bukan Mama, bukan Abah, Ade Syifa ataupun Mi. 

Seperti senja ini, disaat orang-orang bergegas menuju Masjid. Aku masih saja mematung bersama sepi. Menikmati deburan ombak yang menggoda ku untuk menemuinya, kedua kakiku tak menolak lebih jauh untuk bercengkrama pada pasir-pasir halus yang terasa hangat. Kadangkala aku tertawa sinis melihat kepiting-kepiting kecil yang bermain petak umpet pada lobang yang dibuatnya di pasir. 

Aku bahkan marah melihat tingkah sok lucu gerombolan kepiting itu. Bisakah kita bertukar tempat? Begitu inginku, begitu ingin hingga membuatku kadang harus menginjak-injak lobang-lobang kecil yang dibuat kepiting-kepiting itu. 

Disaat yang sama Mi menertawaiku, aku benci melihat gayanya tertawa. Matanya yang begitu mirip denganku menyipit dan berair. Lalu Mi menahan perutnya yang sakit karena menertawaiku. 

“Ayolah tertawa Ai… sudah berapa lama sejak aku terakhir kali melihat senyummu,” Mi menggodaku, menyentak bahuku dan menyipratkan air laut yang terasa asin ke mukaku.
“Hentikan Mi… aku bahkan sudah lupa apakah aku pernah tertawa atau tidak,” Mi diam sejenak, lalu tersenyum aneh. Dirangkulnya bahuku sok akrab.
“Aku mengenalmu lebih dari siapapun Ai, tapi kenapa kau tak mengenal dirimu sendiri Ai… coba lihat, lihatlah burung-burung camar yang bermain kejar-kejaran itu, atau lihat ini kepiting-kepiting kecil ini mengejekmu, ehhh atu kau lihat deburan ombak itu mengusirmu… kau tahu apa maksud mereka?”

Aku hening.

“Ayo sholat magrib,” seperti itulah kira-kira.

“Nggak nyambung,” aku menarik nafas tanda aku sangat kesal.

“Hahahaa… ayo pulang, nanti waktu magrib habis,” Mi menarik tanganku kuat sekali. Kalau saja tidak memikirkan kebaikannya yang terus saja menghiburku, sudah ku buang ia ke ombak yang menderu itu.

Aku berjalan malas mengikuti Mi… 

 ----bersambung----

pengen ngelanjutin cerita ini jadi novel dengan judul Ai & Mi
doain ya teman-teman

You Might Also Like

0 komentar

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images