Gara-Gara Sarung

11:20:00 AM



Cerah sekali hari ini. Secerah wajah bucik-ku yang merah merona. Dia terlihat begitu , sangat cantik…. Jika sehari-hari bucik tidak pernah berhias, tidak begitu dengan hari ini. Yup.. hari ini ia akan melepas status lajangnya menjadi seorang isteri. Pendamping hidup untuk seorang pria asal Yogyakarta. 

Jodoh. Begitulah orang menafsirkan pertemuan mereka yang terduga. Wanita asal Bengkulu dengan lelaki Yogyakarta yang tak pernah mengenal  satu sama lain sebelumnya. Dan jika Allah menakdirkan mereka berjodoh, semua bisa saja terjadi.

Bucik sudah bersiap dengan kebaya putihnya. Wow… akupun sampe kaget. Dia cantik sekali! Akad akan dimulai sebentar lagi. Dan saat itu aku jadi pendamping wanitanya hihiii… 

“Om Joko nya dimana cik?” tanyaku menggoda.
“Mas joko nya dari rumah Andeh” jawab Bucik malu-malu. Aku pun ikut terkikik melihat tingkahnya.
“Ayo berangkat,” ujarku sembari membawa seperangkat mahar menuju masjid An-Nur.

 Iringan-iringan begitu ramai. Sudah banyak orang yang menunggu di pelataran masjid. Bapak-Bapak terlihat gagah dengan menggunakan batik dan… upsss.. aku kira mereka akan menggunakan setelan batik dan celana dasar.  Ternyata semua bapak-bapak menggunakan sarung. 

Ayahku hampir saja lupa membawa sarung, dan menyuruhku kembali untuk mengambil sarung.
“Kalau nggak pake sarung nggak boleh masuk nanti,” begitu ujar Ayah. Hmm.. ternyata penggunaan sarung sangat dijunjung tinggi dan begitu sakralnya untuk upacara pernikahan.  Aku pun baru tahu saat ini.  Pantas saja semua bapak-bapak menggunakan sarung.

Aku mengambil posisi disebelah bucik. Iringan pengantin pria pun mulai tampak dari kejauhan.
Beginilah adatnya sumatera. Sedikit lucu, bisa juga dibilang unik. Aku sampai terkikik melihat Om joko ditanya dan ditantang berpantun oleh sesepuh dengan Bahasa Bengkulu asli.  Untung saja, Om Joko sudah diajarkan oleh paman.

Barekade pertama akhirnya bisa dilewati oleh om Joko (*nah lho kayak apa aja) hehee…  namun  saat barekade kedua. Seorang sesepuh berkata dengan agak serius.

“Pulang lagi,” sontak saja seluruh orang yang hadir disana kaget. Begitupun dengan calon mempelai pria, Om Joko terlihat pucat pasi. Menerka-nerka ada apa, dan kesalahan apa yang dibuatnya.

“Maksudnya,?”Tanya om Joko gelagapan.

Tiba-tiba Datuk Sepuh (begitu aku menyebutnya) tertawa terbahak-bahak, sehingga perutnya yang sedikit tambun berguncang hebat. Seperti balon udara hehee… semua orang pun keheranan.

“Hahahaa.. bagaimana mau ijab Kabul kalau pake celana seperti ini hahahaa,” Oh Allah,,, aku baru menyadari kalo Om Joko tidak menggunakan sarung untuk Ijab Kabul. Iya hanya mengenakan celana dasar dan setelan jas… sontak saja semua orang tertawa dibuatnya. Muka bucik dan om joko memerah menahan malu.

Dengan sigap Ayah melepas sarungnya, dan memberikan pada Om Joko, tak apalah ia hanya melihat dari beranda masjid. 

“Maklum ya, belum terlalu mengenal adat Sumatera,” kata ayah bijak.

Alhamdulillah walaupun ada “kejadian sarung” saat itu, ijab Kabul berjalan lancar.
Jika berkumpul dengan bucik dan Om Joko aku selalu saja mengingat kejadian itu. Gara-gara sarung hampir saja Om Joko disuruh pulang hahahaa…. Ada-ada saja :D

*Bucik = bibi kecil
*Andeh = artinya bibi juga (biasanya digunakan dalam keluarga Minang)


“tulisan ini disertakan pada giveaway Berbagi Cerita Tentang Sarung yang diadakan oleh Kaka Akin”.

You Might Also Like

0 komentar

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images