Kasih dalam Sepotong Do'a

3:39:00 PM

Subuh. Embun jatuh bersama dingin angin yang berhembus. Lorong-lorong perkampungan nampak lengang. Hanya beberapa jamaah lanjut usia, tampak tertatih menapaki jalanan becek bekas hujan tadi malam. Asshola tu khoirumminannaum…adzan subuh menggema di seantero kampung. Namun, Masjid Baitul Hamdi masih terlihat sepi, baru setelah adzan selesai, para jamaah berbondong-bondong memasuki masjid.
gambar dari google
Subuh, selalu menawarkan pilihan pada hamba-Nya. Mengikuti kantuk yang kian meraja, atau melawan kantuk itu lalu beranjak menuju panggilan-Nya. Seperti subuh ini, dari sebuah lorong sepi, terdengar rintih yang sering kali kudengar. Rintihan nya mendobrak relung hati yang mendengarnya, terdengar begitu pilu namun penuh dengan kekuatan.
Mak Yur, begitu aku memanggilnya. Wanita lanjut usia yang rumahnya tepat dibelakang rumahku. Wajahnya tirus namun bercahaya, badannya kurus namun tampak bertenaga. Jika malam telah datang, aku sering mendengar rintihannya. Menahan sakit yang menjalari hampir seluruh badannya, lalu merintih memohon ampunan Sang Maha Pencipta. Aku kadang berkaca-kaca, seolah merasakan sakit yang kian ia rasakan.
"Mak... baik-baik saja?" tanyaku padanya yang nampak tertatih menyusuri lorong menuju  masjid. Wanita itu tersenyum simpul sembari memegangi dadanya.
"Nggak apa-apa ka, kapan lagi Mak bisa ke masjid, semakin lama semakin sakit saja badan Mak ini," aku tersenyum pasi. Perlahan ku rangkul tangannya, memapahnya menuju masjid. Aku malu, ingin kutundukkan wajahku setunduk-tunduknya pada ketabahan dan kesabarannya. Dalam keadaan seperti ini, ia tak pernah menyia-nyiakan waktu subuhnya untuk sekedar mengikuti kantuk.

***
Pernah kuberanikan diri untuk bertanya tentang penyakitnya, namun ia hanya tersenyum yang membuatku kian terhenyuh.
"Mak begitu banyak dosa sewaktu muda, dan sakit yang mak derita saat ini tidaklah cukup jika untuk menghapus dosa mak selama hidup, biarlah sakit ini terus ada, mak ikhlas..." Kanker Payudara yang diderita Mak Yur sudah termasuk sangat parah, sudah berapa kali ia menjalani operasi, dan terpaksa memotong bagian dadanya. Semua orang mengira setelah ini ia akan sembuh, namun ternyata sel kanker itu bukannya habis, namun semakin ganas dan menggerogoti bagian tubuh belakanya. 
"Ini mak ada kapsul dari Ibu, dari tanaman obat tradisional, maaf Mak tak bisa membantu banyak," Mak Yun menepuk-nepuk tanganku, lalu matanya berbinar.
"Keluargamu sudah berbuat lebih dari cukup untuk Mak nak, apalagi Ibumu, walaupun sama-sama susah, beliau selalu berusaha buat bantu emak, jadilah anak yang pemurah seperti ibumu nak, cerewet tapi baik.. hahaha..." Mak Yur terkekeh memperlihatkan gigi depannya yang kemerahan karena sering "nyirih". aku pun ikut terkekeh. Masih saja Mak Yur bisa bercanda.

***
Terlihat awan bergumpal-gumpal membentuk gumpalan seperti asap rokok di mega yang kelam. Pagi ini aku ada ujian, gawat kalau hujan deras. 
"Bu tika berangkat," masih sempat kupandangi rumah gubuk Mak Yur. lalu tersenyum miris, beberapa hari ini ia tak tampak ke masjid, ia hanya terbaring di sepetak dipan lalu merintih diselingi dzikirnya memilukan setiap yang mendengarnya. Aku hanya bisa berdo'a Allah memberikan kekuatan untuknya dan memaafkan segala dosa-dosanya.

Aku gelisah...
Siang itu setelah ujian usai, kuputuskan untuk segera pulang. Langit terlihat semakin kelam, dan aku kian gelisah. Saat memasuki gang menuju rumah kulihat orang berbondong-bondong menuju rumah Mak Yur.
"Ada apa Bu,?" tanyaku pada seorang tetangga yang terlihat tergesa-gesa.
"Mak Yur ka... " wajah ibu itu terlihat gugup dan berkeringat.
"Mak Yur kenapa?" banyak hal yang berputar di otakku.
"Beliau baru saja meninggal," 

Aku diam..
Lalu menunduk "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un"  Kepada Allah lah semuanya kembali. Wajah wanita itu terlihat tersenyum. Tak tampak ia sedang kesakitan. Semoga yang terjadi seperti yang tampak ya Allah. Semoga Engkau mengabulkan do'a dalam setiap sakitnya. Aku tahu Engkau menjawab pintanya dengan sebuah pengakhiran yang indah. Amin....

"Allah itu sayang sama Mak, makanya dikasih sakit seperti ini supaya Mak belajar sabar dan semoga ini menjadi bahan pertimbangan Allah untuk memaafkan dosa-dosa Mak di masa lalu." Aku masih terngiang-ngiang wajah ikhlasnya, yang tak akan kulupakan... dan kini tak ada lagi wanita yang senantiasa menjaga sholat jamaah di masjid. Semoga aku bisa mencontoh ketabahannya.

Semoga surga menjadi tempatnya. Amin....

*kisah ini terinspirasi dari tetangga chika yang bernama Mak Yur (tepat rumahnya dibelakang rumah chika) yang harus melawan kanker payudara hampir separuh hidupnya. semoga bisa menjadikan pelajaran bagi kita semua, bahwa sakit yang kita derita hendaknya dipahami sebagai wujud kasih sayang Allah yang masih selalu mengingatkan kita bahwa hidup tak kan kekal selamanya.  Semoga bermanfaat^^

Cerita ini diikutsertakan dalam kontes Bahasa Cinta di Atap Biru
*baru tau 1 jam yang lalu ada kontes ini, nyoba ikutan walau tulisan dadakan^^ semoga berhasil hihiii... * 

You Might Also Like

0 komentar

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images