Follow Us @riafasha

Friday, October 21, 2011

Thanks for Standing Here


Thanks for Standing Here

just gonna stand there and watch me burn,
well that’s alright because I like the way it hurts… 
Just gonna stand there and hear me cry,
well, that’s alright because I love the way you lie… 
I love the way you lie..

Pada sebuah ruangan berantakan namun kosong. Hanya satu playlist di notebook yang terdampar dipojok ruangan. Semakin lama semakin bising.
Napasku terengah, memburu, bahkan serasa ingin membunuh. Ini malam, bahkan terasa seperti perang yang tak kunjung berakhir. Dari balik pintu-pintu besi ada tatapan tajam menghujam, layaknya ingin menikam jantungku hingga tak berdetak. Sedikit pun.
Aku diam, duduk bertameng kekalutan. Rambutku acak tak tentu, lalu mengumpat hujan yang tak kunjung reda. Hujan lalu menawarkan kerinduan. Namun aku menanggapinya dengan penat dan sesak.
Arghh.. aku berteriak dan menghempaskan tubuhku di antara tumpukan potret yang memuakkan. Wajah itu tersenyum, aku kembali berteriak. Kenapa aku harus tetap mengingatnya! Menjijikkan… ingin kubunuh bayangnya.
Ku robek potret itu satu persatu, membakarnya hingga menjadi debu. Lalu dingin kembali menyelimutiku. Tak bisa dipungkiri aku menangisinya…

I hate you, But I really love you… sulit mengakui sebuah kejujuran yang pahit. Tapi rindu lebih meraja dari sebuah kebencian.
Bukankah sejak awal sudah kukatakan hentikan semua ini jika kau tak lagi mencintaiku. Lepaskan bahkan campakkan saja aku. Namun, rasa yang bernama cinta itu terlalu membuatku melambung. Mencintaimu hingga kembung, lalu pecah menjadi benci yang kupikir akan abadi.
“Heii… kau cemburu, dia hanya sepupu jauhku,” saat itu aku tak pernah berpikir kau akan membohongiku. Kau merangkul bahuku dan mengajakku mengelilingi komedi putar.

“Please… come back!” aku nanar mengingat kata-katamu yang entah tulus atau tidak. Bryan, aku tak pernah menginginkan ini. Aku tak pernah berharap aku akan mencintaimu sejauh ini. Aku tak pernah berharap, kau akan mempertahanku sekuat ini. Dan aku berharap, harusnya ada pria lain yang membuatku bisa melepasmu.


“Ini salahku Calise, aku mohon!” Hei… kenapa kau terus menggenggam tanganku dan menatap mataku hingga ku hampir luluh. Ini tak seperti pertemuan kita di sebuah perkemahan akhir pekan. Saat kita memandang lurus pada bukit batu yang terjal. Kali ini sama sekali tak indah.
 Dan di saat yang sama, aku menanam benci. Wajah pucat yang menunggumu di seberang sana, adalah satu-satunya wajah yang tak pernah ingin kulihat. Mei, gadis bermata sipit perawakan cina yang menyimpan hatimu sebagian, harusnya tak semakin merusak mood-ku.  
“Salahkah aku membencimu!” kau pasrah namun masih penuh harap saat melepas genggaman tanganmu lemah. Aku tak mengelak saat kecupan hangat kau layangkan di rambutku yang basah oleh tetesan hujan. Kau meninggalkanku, tanpa menoleh. Hujan semakin deras dan aku mengumpat keras-keras.

“Arghh…. Dam*!” tak pernah ada yang melihatku seliar ini. Begitupun Steve, satu-satunya sahabat kecil yang tak pernah mengatakan tidak untuk seorang Calise yang selalu menginginkan “iya”.
“Please Stop Calise, ini bukan kamu,” Steve memelukku. Memintaku untuk tenang, sama seperti saat aku harus kehilangan Papa dalam sebuah kecelakaan.
“I’m your brother” begitu katanya. Namun kali ini, aku tak bisa tenang seperti dulu. Ini bukan kehilangan yang harus diikhlaskan. Ini kehilangan yang membuatku mendendam.

Aku hanya bisa menangis sesenggukan di bahu Steve. Hingga larut tiba. Hujan masih berdentang hingga suara Steve hanya samar-samar kudengar. Suaranya terdengar tulus dan menyejukkan. Harus kuakui, Steve sedikit membuatku tenang. Thanks Steve.
“Tak masalah siapa yang meninggalkanmu Calise, but I am here,” aku hanya mendengar samar lalu terlelap di bahu Steve.
Dan tanpa kusadari Bryan datang, ia berang.
Aku gelagapan saat itu juga.
“Ternyata kau seperti ini, bukankah aku telah berjanji Calise untuk kembali, lalu kenapa” muka Bryan merah padam. Di angkatnya kerah baju Steve, dan malam itu dua orang lelaki yang kusayangi penuh luka dan darah. Aku marah pada diriku sendiri.
“Hentikan Bryan… Steve sudahlah…”
“Dia menyentuhmu Calise, aku tak akan memaafkan itu”
“Bryan, tapi apa yang kau lakukan dengan gadis itu, Steve hanya menenangkanku” aku berteriak semakin keras.
“Bohong”
“Kau yang berbohong”
Pada siapa lagi tangis akan ku labuhkan. Steve telah terkapar, dan Bryan     dijemput wanita sipit sok perhatian itu. Lalu aku menangis pada malam.
***
Tak pernah sesakit ini memendam benci dan rindu dalam saat yang bersamaan. Ini seperti kau menjadi gelas rapuh dan pada saat yang sama harus terisi air panas dan air es. Tentu saja kau akan retak dan berderai, lalu pecahannya membuat luka yang tak kan sembuh hanya dalam waktu semalam. Apalagi malam dengan rintik rindu yang kian menggebu.
Bryan:
Aku sakit Calise. Melihat kau bersandar dibahunya, seperti inikah sakit yang kau rasakan saat aku menggandeng tangannya, bukan tanganmu seperti yang kujanjikan saat aku menyatakan aku mencintaimu.
Aku ingin membunuhnya Calise. Membunuh Steve yang menghapus airmatamu, seperti inikah dendam yang kau simpan saat aku melabuhkan harap pada Mei. Bukan kau Calise, seperti yang kujanjikan tiap kali kita membuka mozaik ingatan di atas perkemahan Bukit Berbatu.
Dan saat sakit dan rindu itu menyatu. Saat kau membohongiku dan aku membohongimu, aku menyukai itu. Lalu,  Aku menyadari labuhankeduanya adalah rasa yang kusimpan untukmu. Ini mungkin kesekian kalinya aku mengatakan aku mencintaimu, namun kali ini dengan janji aku akan kembali untukmu. Hanya untukmu. Dan saat aku tak ada di dekatmu, dan bukan aku yang ada disampingmu. Kuakui aku membutuhkanmu. Please come back to me!

Kulipat kertas itu dengan sesak yang memburu. Aku membohonginya jika aku mengatakan aku tak pernah merasakan tenang saat bersama Steve. Namun, aku lebih membutuhkannya. Bahkan saat ia meninggalkanku untuk Mei, ku akui, rasaku tak pun sedikit berkurang.

Dadaku kian sesak saat ku menyadari aku telah melewatkan hari tanpanya. Tak ada ia disampingku saat ini.
“Bryan!” aku menggumam pelan dari bilik jendela.
“Iya Calise” haa.. aku tertawa miris, aku mungkin telah gila saat beranggapan dia ada menjawab panggilanku.
“Calise, I’m here!”
Aku tersentak. Aku mencium aroma Bryan… aku benar-benar merasakan hadirnya saat ini. Lalu perlahan ada sentuhan lembut dibahuku. Aku menangis….
Dia ada di depanku. Untukku.
Terimakasih untuk ada disini. I love you… apapun yang kau lakukan…

*cerita yang dikirim ke nulis buku untuk project days #9 ekekee

No comments:

Post a Comment

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)