Ayah: Tinta Cinta yang Tak Akan Pernah Usang

2:10:00 PM


Ayah: Tinta Cinta yang Tak Akan Pernah Usang

Pada dua pertiga malam dalam sujudku berserah,
kala mencarimu lewat lorong-lorong sepi hati,
hati hati gelisah mencarimu,
dimanakah Engkau kasih, di mataku
atau 
di hatiku,

mengapa hati tak sujud padahal aku sedang tahajud,
jalan yang kau tunjuki sudah kurambah,
zikir yang kau tawarkan sudah kumamah,
tapi kau tak jua kutemui kasih,
sebelum sunyi datang menyilang aku ingin rebah di pangkuanmu, selamanya, selama lamanya
dalam kalimahMu:
LAILLAH HAILLALLAH MUHAMMAD DHARASULLULLAH

(Harlisman Fasha)

Aku mengaminkan do’a yang ayah selipkan pada bait puisnya. Do’a yang sekaligus menjadi pengharapannya untuk sebuah akhir. Ayah selalu begitu, tak banyak berkata, tapi banyak berkarya, walaupun himpitan ekonomi terkadang membuatnya bekerja ekstra keras lalu mengenyampingkan hobinya yang kini ia tularkan padaku: “menulis”.

“Menulis tak akan buatmu jadi kaya,” begitu kadang Ibu menyindir hobi “menulis”. Lagi-lagi ayah tak pernah banyak berkata, namun menciptakan syair pada selembar kertas, pada malam, pada sebuah sunyi yang tak berdentang.

Wahai Pesajak!
Mari kita ber-andai-andai
dari ketidak mengertian
pada dunia galau di saat kita kawinan
Kita berangkat dari rimba keterasingan
menuliskan kata yang menawarkan goda
lahir dari lamunan anak kita
saat menatap siluet di depan mata
(Harlisman Fasha)

Tidak seperti dulu, tulisan-tulisan ayah kini hanya tertumpuk pada lemari hitam dan kian usang, mengingatkan ku pada masa silam, di saat aku ditempa untuk mencintai dunia yang kini kutahu begitu indah, menulis.
***
“Masa buat puisi saja tidak bisa, malu-maluin ayah saja.” Aku tersentak saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Ayah. Saat itu aku hanya ingin ayah membantu dan mengajariku membuat bait-bait puisi yang indah seperti yang ayah buat karena besoknya Aku harus berdiri di depan kelas untuk mendapatkan nilai praktek Bahasa indonesia. Puisi yang biasanya selalu membuat hatiku bergetar saat membaca kata demi katanya. Aku ingin bisa membuat puisi seperti ayah, aku ingin teman-teman di sekolah begitu juga guruku tidak mengejekku. Tapi demi mendengar perkataan ayah, semangatku kendur, aku mundur perlahan lalu menangis di kamar. Ku buat bait demi bait kekesalan di dalam diary, lalu berjanji aku akan jadi penulis hebat, aku akan buktikan pada ayah bahwa aku bisa membuat yang lebih baik dari puisi ayah.
Akhirnya kuputuskan untuk terjun ke dunia seni dan sastra, kebetulan saat itu ada pembukaan untuk anggota baru Teater Payung Panji SMP 1 Bengkulu. Dengan segenap keberanian aku mendaftar, dan luar biasa hasilnya lebih dari yang kuharapkan. Saat itu aku diajari membaca puisi, berakting monolog, membuat puisi, membuat scenario drama dan lain sebagainya. Aku menemukan diriku saat aku berteriak di tengah pantai untuk berlatih membaca puisi. Atau pun saat aku harus berpura-pura menjadi orang gila di tengah jalan demi mendapatkan nilai ekstrakulikuler Teater. Berbagai lomba kuikuti, dan piala nya pertama kali kutunjukkan pada ayah. Tapi, lagi-lagi aku harus kecewa saat ayah tak sedikitpun memuji keberhasilanku. Ayah hanya mengangguk saat kuperlihat piala dengan bangga. Lalu pergi entah kemana.
Suatu waktu Ayah ditawari oleh Taman Budaya Bengkulu untuk membuat 5 buah puisi yang akan digabung dengan puisi-puisi penyair lainnya dalam satu buku. Dengan sedikit keberanian, aku menawarkan puisiku pada ayah untuk dilihat oleh editornya, apakah layak masuk ke dalam buku itu atau tidak. Dengan berat hati ayah menerimanya, walaupun ayah tahu, puisi ku tak akan lolos. Saat itu aku tak menyadari kata-kata ayah, apalagi memikirkan hal ini akan mempermalukan ayah.
“Yakin!” berkali-kali ayah menanyakan kesungguhanku. Berkali-kali pula aku mengangguk dan memastikannya.
Luar biasa! Hal itulah yang kurasakan saat ayah mengatakan bahwa puisiku diterima oleh editor, dan beritanya masuk di Koran hari itu, aku gembira hingga meloncat-loncat.“Di Koran hari ini ada berita kalau taman budaya Bengkulu akan menerbitkan buku antalogi puisi penyair-penyair sumatera. Diantaranya Ayah Harlisman Fasha, Azrul Thaib, dll. Dan satu lagi penyair muda Ria Mustika fasha, walaupun masih muda karya-karya tak kalah dengan penyair senior lainnya.” Ibu sepertinya tak senang saat ayah berkata seperti itu, tapi aku tak peduli. Dengan semangat aku berpamitan pada Ibu untuk latihan teater. Sebelumnya tak lupa aku menyempatkan diri mampir di kios majalah untuk membeli Koran Harian Rakyat Bengkulu, ingin sekali ku buat kliping Koran itu karena ada namaku disana.
Kuobrak-abrik Koran dengan semangat, hampir tak ada kalimat yang dilewatkan dalam ketikan Koran. Tapi, tak ada namaku di Koran itu, tak ada… yang ayah katakan bohong, memang ada berita kalau Taman Budaya akan menerbitkan antalogi buku, tapi tidak ada kata-kata “Dan satu lagi penyair muda Ria Mustika Fasha, walaupun masih muda karya-karya tak kalah dengan penyair senior lainnya.” Aku menangis tertahan, hatiku begitu sakit. Kenapa ayah berbohong? Pertanyaan itu terus kuulang berkali-kali, apa maksud ayah membohongiku. Apakah ingin membuatku senang? Bukan begini caranya… siang itu aku tak jadi berangkat ke teater, aku malu dengan Heni karena aku berjanji akan memperlihatkan kliping Koran yang ada namaku disana. Aku malah berjalan sendiri di Tapak Padri, menyendiri sambil menangisi kekalahanku.
Saat itu hubungan ku dengan ayah merenggang, aku hanya menegur ayah seadanya. Aku tahu ayah hanya ingin membuatku senang, tapi kebohongan ayah membuat luka yang dalam bagiku yang baru ingin belajar. Walaupun aku membenci keadaan itu, aku tetap menulis puisi-puisi di diaryku. Bahkan satu hari lima puisi, tapi tidak seperti biasanya kuperlihatkan pada ayah, ataupun pada teman-teman. Puisi-puisi itu hanya kusimpan sendiri, hanya untukku sendiri. Nyaliku kian ciut, aku tidak bersemangat, hingga tamat smp, aku terkenal dengan orang yang pendiam dan penakut, suka menyendiri dan menjadi orang yang tak pernah mau perduli.
Saat memasuki SMA aku kian terpuruk melihat orang-orang hebat di SMA 5, yang kami sebut sekolah Cendana karena letaknya di Jalan Cendana. Aku semakin suka menyendiri, hingga aku dipaksa masuk RISMA dan PMR. Hidupku berubah, banyak orang yang menyemangatiku, terutama teman-teman terbaikku.
“Rei, puisi-puisimu bagus, ikutkan lomba yuk.” Saat itu Ika, Ika Pasca Himawati, seorang teman dari ekstrakulikuler Karya Ilmiah Remaja memaksaku untuk ikut lomba cipta puisi. Namun, lagi-lagi kejadian silam menakutkanku. Aku takut kalah, aku takut memalukan. Namun diam-diam Ika mendaftarkan salah satu puisiku dalam Lomba Cipta Puisi tingkat SMA-Mahasiswa-Umum di Universitas Bengkulu.
“Rei selamat puisinya menang,” Ika mengedipkan matanya saat itu. Aku terharu, sangat terharu ternyata puisiku menjadi Juara I dalam Lomba cipta puisi, semua orang menyalamiku. “Kamu punya bakat, jangan disia-siakan, suatu saat nanti Rei akan jadi penulis hebat.” Kata-kata itu terus kuingat hingga kini, hingga semangatku bangkit lagi. Bahagia rasanya menjadi juara, saat aku dipanggil ke depan lapangan Upacara untuk disalami oleh Kepala Sekolah. Aku tak menyangka aku bisa menjadi juara, aku bahkan tak percaya aku bisa.
Ayah pun mulai mendukungku, terutama saat memasuki dunia kuliah. Aku memenangkan juara 1 kontes blog di Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Mataku mulai terbuka lebar, semua hal yang dilakukan ayah tak lain agar menempaku menjadi berani untuk menjadi lebih baik. Dan aku selalu ingat puisi ayah yang sengaja dituliskannya untukku dan adik-adikku yang terus memacuku untuk tak berhenti menulis, untuk terus menulis apapun yang ingin kutulis, bukan karena ingin terkenal, bukan untuk mencari uang. Tapi demi kecintaan terhadap dunia menulis.
Anakku
Senandungkan terus lagu itu
Sebelum sunyi datang menyilang
Jangan pernah henti bernyanyi
Saat ajal menjemputku nanti
Aku ingin rebah di pelukmu
Dalam kalimah
Laillahaillallah
Muhammad dharasullullah
Sampai menutup mata
Selamanya
Hingga akhir masa-

Dan demi kecintaanku pada dunia menulis yang telah dikenalkan ayah padaku, diam-diam kukumpulkan puisi-puisi dan cerpen-cerpen ayah yang tersebar dibeberapa buku antaloginya, dan juga yang sudah diterbitkan di media lainnya. Lalu dengan segenap kebanggaan, kubuat sebuah buku untuk ayah, walaupun hanya dengan penerbit indie. Melalui nulisbuku, akhirnya ayah mempunyai buku kumpulan puisi dan cerpennya Aku Ingin Rebah di Peluk-Mu, sebuah kado cinta ku untuk ayah yang mungkin tak sebanding dengan perjuangannya padaku bagai tinta cinta yang tak kan usang oleh apapun J
  


You Might Also Like

0 komentar

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images