Love in Rain

9:26:00 AM

Love in Rain
chika Rei

Langit begitu kelam, hujan rintik turun perlahan, aku terburu-buru melewati lorong sepi untuk segera kembali ke rumah. Mama pasti mencemaskanku. Harusnya aku tak pulang selarut ini, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Bulu kudukku merinding jadinya saat teringat cerita Uncle Peter tentang hantu-hantu yang bergentayangan di saat hujan rintik. Hantu-hantu itu akan mengikuti gadis perawan kota hingga ke rumah. Menakutinya, hingga gadis-gadis kota menjadi stress dan akhirnya meninggal.
“PRAAANG!”
“Aaaa!” aku berlari ketakutan saat tiba-tiba sebuah suara keras dari arah belakang mengejutkanku. Pikiran-pikiran aneh berkelebat di fikiranku. Aku terus berlari tanpa melihat ke belakang sedikitpun. Entahlah, aku merasa ada seseorang yang mengikuti ku dari belakang. Semakin lama, aku merasa ia semakin dekat. Tidak salah lagi, ada orang di belakangku, bunyi derap langkah berat nya semakin kentara. Ya Tuhan, aku seperti tersesat di kota hantu.
“Hei!” aku berhenti sesaat. Lalu mencoba mengambil nafas dalam-dalam. Berharap yang kudengar hanyalah ilusi.
“Kau baik-baik saja?” aku menoleh ke belakang. Sebuah bayang mendekatiku. Lalu memberikan sebuah kantong plastik berwarna hijau yang ternyata tak sadar kutinggalkan di jalanan karena begitu ketakutan.
“Terima kasih!” ucapku seadanya.
“Light!” aku menerawang begitu jauh saat lelaki jangkung berwajah asing itu menyebutkan namanya. Matanya memancarkan sinar yang tak dapat kudefenisikan. Sinarnya menembus mataku, lalu masuk ke dalam ruang kosong hatiku yang bahkan belum terjamah. Aku hampir tak berkedip dan tergagap.
“A… Anie!” aku tersenyum kaku. Antara ragu dan terpukau.
“Nama yang indah.” Tak ada sedikit ragu pada senyum lelaki bernama Light yang saat ini ada didepanku. Wajahnya mengingatkan ku pada tokoh Death Note dan juga pada tokoh Edward . Hmm, tapi dia tak terlihat dingin sedikitpun. Namun, sepertinya dia akan mengusik hariku.
“Salam kenal!” Light mengulurkan tangan dan aku semakin tak menentu, walaupun akhirnya kuraih juga tangannya yang terasa begitu kaku dan sedikit dingin. Ada keraguan yang entah darimana datangnya, kekagumanku diikuti perasaan aneh dengan sosok asing didepanku.
“Kenapa pulang begitu larut,” Light tersenyum lagi.
“Kau juga kenapa ada disini!” aku membalas denga sewot.
“Hahaa dasar gadis pemarah!” Light mengucek rambutku. Aku pun membalas nya. Kubuat rambutnya yang ikal itu menjadi berantakan. Lelaki aneh yang membuatku ikutan menjadi aneh. Belum genap15 menit aku mengenalnya. Namun ia sudah seperti orang yang mengenalku lebih dari siapapun.
“Ini rumahmu?” Tanya Light saat kami telah tiba didepan rumahku.
“Yup!”
“Baiklah, masuklah, sudah malam. Orang tua mu pasti mencemaskanmu.”
“Lalu, kau kemana?”
“Tentu saja pulang,” Light tertawa geli melihat tingkahku.
“Ya sudah sana pulang!” aku mendorongnya menjauhi pintu rumahku.
“Kau masuk dulu, baru aku pulang!” ia terus saja tertawa, membuatku tambah berang.
“Hei! Kau pulang dulu baru aku masuk!”
“Oh… tidak bisa hahahaa…” Light berkedip genit lalu berlari menjauh sambil mencibirku. Ih, lelaki aneh ini. Awas saja kalau bertemu lagi, tak akan kumaafkan.
“Heiii!” aku meneriakinya saat melupakan sesuatu.
“Apa!” Light berteriak dari kejauhan.
“Terima kasih!”
“Terimakasih nya besok saja di Café Lolyta jam 4 sore hahaaa!” bayang Light semakin menjauh dan tak terlihat.
Sejenak aku tertegun. But what?  Terimakasihnya besok saja di Café Lolyta? Ah… Light! Ini berarti dia minta ditraktir. Hufft. Dasar lelaki aneh!
***
@ Lolyta Café
Aku selalu menikmati suasana seperti ini. Di saat jalanan kota dibasahi oleh hujan, segelas coklat panas disuguhkan oleh Madam July, pemilik Lolyta Café.
“Untuk gadis manisku tersayang,” begitu selalu ia ucapkan saat menyuguhkan coklat untukku. Saat itu aku hanya bisa tersenyum malu, karena banyak pengunjung yang melihatku.
Aku seringkali memilih duduk di sudut ruangan, menikmati jalanan basah dan orang-orang Rain City yang terlihat begitu terburu-buru. Sesekali aku menikmati music yang dimainkan Shane, bocah jalanan yang lihai bermain biola. Aku begitu mencintai aroma kota ini, kota yang dinamai Rain City karena tiap harinya selalu turun hujan. Pernah Mama mengajakku untuk pindah, namun aku menolak. Tak ada yang lebih indah selain hidup disini. Aku tak akan kemana-mana.
You’re always gonna be my love
I’ll remember to love
You taught me how
You’re always gonna be the one
Now and forever
Ah, itu Light. Ia melambai-lambai dari luar Café sambil memainkan gitar. Apa-apaan lelaki itu. Sok romantis, aku jadi tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkahnya berjoget sambil bernyanyi. Madam July melirik padaku.
“Anak muda yang begitu bersemangat, sepertinya dia tertarik pada gadis manisku,” Madam July berkedip padaku, dan aku semakin kikuk dibuatnya.
“Hei hentikan, dasar lelaki aneh!” aku berteriak dari dalam. Namun Light masih terus bernyanyi dan memanggil namaku. Madam July malah tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah kami berdua yang saling berteriak. Uh, lama-lama aku bisa dibuat malu oleh lelaki sinting satu ini. Aku beranjak dari tempat duduk, namun tiba-tiba aku melihat segerombolan orang berbaju hitam mendekati Light lalu membawa Light menjauhi café.





  bersambung

You Might Also Like

0 komentar

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images