Follow Us @riafasha

Friday, June 1, 2012

Penanti Hujan


Allah selalu punya cara sendiri untuk mengajarkan hamba-hambaNya. Tak terkecuali untuk pesakitan yang rapuh sepertiku. Bahkan dalam keadaan yang menyedihkan, kasih sayang Allah tak sedikitpun berkurang. Ia bahkan memelukku erat, menuntun perlahan untuk sebuah perbaikan. 

Masih diantara rintik yang selalu kurindui. Hujan menjentik-jentik jemari kaku untuk menari. Menggoda dengan aroma tanah basah tanpa sedikitpun menyembunyikan kekhasannya.

Aku tersenyum, sedikit kaku. Allah mengabulkan lagi do'a sederhanaku. Izinkan hujan turun hari ini.

"Hujan... kuluk kuluk...kuluk kuluk..." anak-anak tanpa baju berlarian mengelilingi gang sempit berlubang. "Kuluk-kuluk" selalu jadi kata pertama yang mereka teriakkan. Bukan alhamdulillah bukan juga terima kasih Allah. Aha.. rupanya mereka berharap hujan deras yang turun, itulah mengapa "kuluk-kuluk" yang dipercaya bisa memanggil hujan terus saja digaungkan.

Tetap saja di hujan yang sama, sayup kudengar umpatan Ibu Sur tetangga sebelah yang tak rela jemurannya basah karena hujan. dan aku baru tahu, ada saja yang tak mensyukuri hujan yang menurutku selalu dinanti.

Aku masih tersenyum, lucu campur geli melihat badan nya yang tambun berlari hilang akal. Perutnya
 naik turun naik turun,, kembang kempis, kembang kempis seperti ikan kembung berduri. Ehm, apa kalian tahu apa itu ikan kembung berduri??? sulit mendeskripsikannya karena aku pun tak tahu nama aslinya. Maklum saja, aku hanya melihat dari salah satu permainan di Netbook yang judulnya Feeding Frenzy, kata salah satu anak muridku Ikan berwarna kuning berduri yang suatu saat bisa menggembungkan badannya itu namanya Ikan Kembung Berduri.

Kembali lagi ke Ibu Sur. aku hampir lupa kalau ia semakin geram dengan hujan saat menyadari ia terlupa mengangkat kerupuk yang tadi pagi ia jemur di atas loteng. Hahaa.. bisa dibayangkan ekspresi wajah nya. Muka merah padam seperti udang rebus. Tak selesai sampai disitu, Ibu Sur membanting kerupuk yang basah. Aku kasihan campur geli. Kudukku rasa digelitik bulu-bulu halus. Dan apa kalian tahu?? aku tertawa terpingkal-pingkal sembari memainkan air hujan yang jatuh dari kucuran atap.

kualihkan pada mega yang suram tapi tampak ceria. membiarkan wajahku basah dan merasakan sensasi perih saat titik penyejuk itu mencoba mempermainkan mukaku. Aha, mereka rupanya ingin bercanda. kulawan mereka dengan sok berani, menyundul-nyundulkan kepalaku bak seorang penyerang  yang akan bertanding melawan Argentina lusa mendatang.

Perlahan, aku teringat seorang teman yang begitu mencintai hujan.
namun, hujan saat ini mengalihkan pikiranku untuk menceritakannya.
mari nikmati saja hujan ini.
dan suatu saat aku akan bercerita
tentangnya
tentang hujan
yang dicintainya :)

3 comments:

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)