Secangkir Kenangan tentang Biru

2:04:00 PM


There is a pleasure in the pathless woods
There is a lapture on the lonely shore
There is  society, where no intrudes
By the deep sea, and music in its roar
I love not a man less, but nature more
~lord byron

Laut memancarkan kilau, sinarnya menembus ruang dimana aku kini berdiri mematung, mengintip dari celah jendela terbuka. Indah, tak ada kata lain untuk sebuah panorama pagi yang bercengkrama diantara deburan ombak yang memburu. Lalu mentari mengintip malu-malu di balik batu cadas nan angkuh diujung lautan. Aku pun tersenyum, ada bahagia yang tak terlukiskan kuraskan. Ini seperti rasa yang yang dirasakan seorang Cristoper dalam In to the Wild, aku pun merasakannya. Alam memang punya cara yang khas untuk menawarkan kebebasan dan impian.

Laut dan langit
Biru
Suatu warna terarah bagi dunia*)

Seperti sunyi, biru selalu ada di setiap pagi. Mengerling genit seakan ingin menari. Tak seperti kenangan pahit dan kadang menggigit namun menuangkan rasa bernama rindu. Tentang warna, tentang rasa, tentang dia, tentang kamu biru.

“Hei jangan memandangiku seperti itu!” aku masih saja ingin mengingat caramu tersenyum, jujur aku terpaku.
 Bahkan lebih dari itu. Pada sebentuk pelangi bernama mimpi, aku merajut harap padamu.

“Ok! Apa maumu Ray!” mungkin saat itu kau menganggap aku adalah orang gila yang tak sengaja diterima di perusahaan kita bekerja. Namun, aku lebih tak peduli lagi akan apa yang kau pikirkan

“Hei, kau pernah merasa rindu? Seperti inikah rasanya. Hanya termenung di balik jendela kamar. Memandangi langit dan rintik dengan perasaan gundah. Lalu menerawang tak tentu arah. Seperti inikah perasaan yang membuat orang tak bisa tidur nyenyak, bahkan bernafas pun tak tenang.” Saat itu kau tampak kebingungan.

“Ray!”

“Biru!”

Aku ingin mencintaimu
Aku ingin mencintaimu dengan kontras, seperti dasar warna lukisan Affandi bukan Leonardo Davinci **)

Kau tahu biru. Warnamu berpendar membentuk sebuah pelangi tepat di ruang kosong hatiku yang hampir tak terjamah. Namun kau selalu tak mau tahu, bahkan melemparkan asaku perlahan namun pasti.
“Ada yang lebih baik dari ku Ray! Kau pasti bisa tanpaku!”



……. Aku menghela nafas……
            …….. sakitnya
                        ……. Tak terdefinisikan

Dingin pagi ini, dengan sunyi tanpa alasan ingin bersamaku. Susu cokelat hangat memaksa, terlintas hati utuk kembali. Suatu ruang kerja yang selalu kucinta.*)

Biru masih memancarkan warna yang sama. Aku masih mencintaimu dengan cara yang sama. Dengan caraku.  

Ketika cintamu mati nanti, terkubur bersama hatimu yang basi, ingatlah terus bahwa cintaku tetap menari tepat di ulu hati **)

Keterangan
*) kutipan Puisi “Biru” M.F Riphat
**) kutipan Puisi “Puisi Cinta Belaka” M.F Riphat

~Chika Rei 
                Penanti Hujan Perindu Pelangi

You Might Also Like

27 komentar

  1. Biru itu...

    Betapa q mencintaimu,,
    betapa q merindukanmu,,
    dan betapa q selalu ingin bersamamu...
    dan selalu dgn makhluk yang sama Dirimu....iya dirimu...

    hehehehe...Nice..q suka tulisanmu..

    ReplyDelete
  2. hmmm,, dik chika,,,, ku kira siapa tadi,, huaaah,, ini ya rumah baru nya,, hmmm,, kereen!!!

    huft,,, kata2 di atas keren buangeet,, aku sampai tak mampu berkata2,, memang dik chika mantaf bener dah soal ini,, oh ya,, aku juga lagu pengiring di blog ini,, semangaat!! selalu menjadi pelangi setelah hujan,, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah mba nyanyu, rumah lama nggak bisa diakses :(

      duh jangan dipuji, kalo dipuji malah minta nambah es krim :D

      iyah chika jg suka lagu ini..bangett

      Delete
  3. salut sama orang2 yang mampu bikin cerita dengan banyak kata2 puitis di dalamnya... ^^

    ReplyDelete
  4. wah ini chikarei toh. lama sekali gak nongol. blognya keren banget nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba fanny, karena blog chika kena musibah, jadi untuk sementara pindah rumah baru dlu...

      Delete
  5. aku suka warna biru
    tapi entahlah kurang suka laut
    panas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe chika suka laut kok, tapi sukanya laut saat senja :)

      Delete
  6. hmm Chikarei toh..
    Iya nih udah lama ga lihat dan ga nongol..
    Kereen blognya..

    Tulisannya berasa banget ke hatiku..
    seolah aku yang menulis uni Hiks..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iyah, gx lama nongol karena blog lama kena musibah

      makasih^^

      Delete
  7. Biru itu memang menghadirkan ketenangan. Setenang deburan ombak di pantai yang tidak terganggu oleh tsunami kali ya :)

    ReplyDelete
  8. Hmm... sedang meraba-raba.. bagaimana sih cinta yang menari di ulu hati itu... Berarti kalo lagi putus cinta, mungkin rasanya akan seperti sakit maag ya... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hhaaa mungkin iy mungkin nggak :D

      tapi sakit karena putus cinta itu tak terdefenisikan :D

      Delete
  9. puitis bangettttt, saya sebenarnya dulu ingin menjadi seorang pujangga tapi karena gak punya bakan dari bpk dan ibu saya hanya jadi pecentanya deh wkekekeke

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe ini gx puitis kok :D
      hanya terbiasa membuat cerita dengn model kata seperti ini

      Delete
  10. puitis banget mba. bagus. salam kenal ya :)

    ReplyDelete
  11. lha.. chikarei..?

    sepertinya termasuk orang lama dalam blogger nih.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa chikarei :D

      orang lama???

      iya gx ya :D

      yg jelas sekarang saya newbie :p

      Delete
  12. aku banget
    gejolak jiwa yang tak pernah hilang
    memaksaku untuk melompat
    dari hari ini kembali menuju masa lalu
    masa dimana hati sedang mencari dan menanti

    suka banget*

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images