Viro, Live the Moments

12:43:00 PM

Rumah Ceria: Rebuild Sumbar with Heart
 
"Kota Padang, Sumatera Barat tengah dirundung bencana, yakni banjir bandang. Berdasarkan catatan BNPB, musibah tersebut terjadi sejak Selasa  sekitar pukul 18.30 WIB. Kepala Pusat Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho, mengungkapkan, akibat bencana tersebut, dilaporkan sebanyak enam orang hanyut dan masih dalam tahap pencarian," aku tersentak mendengar berita di televisi. Lagi-lagi Ranah Minang diuji.

Berita ini seketika membuatku ingin mengenang, moment 2009 silam. Saat dimana Ranah Minang diuji bencana yang meluluh lantakkannya. Semua orang berduka, tak terkecuali aku dan keluarga. Keluarga Ayah dan Ibu ada di Pariaman, saat itu kami tidak bisa menghubungi mereka. Cemas dan sedih bercampur aduk.

Pikiran dan hatiku terus saja memberontak hebat. “Kenapa masih diam disini,” aku bahkan tak sanggup menjawabnya. Bagaimana mungkin aku hanya bisa duduk, sedangkan saudara-saudaraku disana dilanda musibah. Di sela-sela do’a, seorang teman tergopoh-gopoh mendatangiku yang sedang stay di Radio Jazirah, menawari untuk menjadi relawan di Sumatera Barat. Aku langsung mengiyakan, walaupun resikonya aku harus meninggalkan kuliah selama apapun itu. Entah, keberanian apa yang mendorongku, aku tak punya kemampuan lebih, walaupun aku pernah tergabung di PMI atau sejenisnya. Aku bukan seorang professional, namun keyakinan dan keinginan untuk membantu lebih kuat dari perasaan ragu itu. Tak ada yang menentang, ayah, ibu, teman-teman  dan dosen-dosen bahkan membuat semangatku semakin bertambah.

(bangunan di kompleks hotel ambacang)
Perjalanan yang mungkin tidak akan mudah, but I believe sesuatu yang dilandaskan dengan niat yang baik akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Insya Allah. Tak butuh waktu lama, malam itu juga aku berangkat bersama 3 orang teman lainnya ( Mba Meri, Mba Fitri, dan Rio) menuju Ranah Minang. Bismillah… aku yakin Allah pasti menjaga kami.  Lokasi yang akan kami tuju adalah Kelurahan Kurao Pagang Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Di perjalanan aku tak mampu memejamkan mata,  kembali aku terguncang melewati jalanan yang hancur, bangunan yang rubuh ditambah bau bangkai membuatku bergedik. 

Setibanya di Kurao Pagang, kami langsung disambut relawan lainnya. Aku bahkan baru tahu bahwa yang mengutus kami adalah Rumah Ceria Rahmania Fondation Jakarta yang bekerja sama dengan Daarut Tauhid Bandung, ada Korps Relawan ITB juga disana. Tugas awal Tim Rumah Ceria dimulai saat kami tiba, kami mengumpulkan semua anak korban gempa di tenda pengungsi. Sebagian dari mereka kehilangan rumah, bahkan ada yang kehilangan keluarga. Aku miris melihat wajah-wajah mereka yang kehilangan kebahagiaan, tidak ada rona semangat tersungging di bibir mungil mereka. Inilah tugas berat yang harus kami kerjakan, Menceriakan Anak-Anak Korban Gempa Sumbar  dan juga membangkitkan mental korban gempa secara umum untuk bangkit dari keterpurukan seperti motonya Rebuild Sumbar with Heart. Sepintas orang-orang mungkin menganggapnya sepele, tapi ternyata tidak, ini merupakan tugas yang lebih berat… tim relawan harus selalu ceria, tersenyum, bersemangat, dalam keadaan apapun itu. Walaupun, kondisi sumatera barat tak pelak membuat kita ingin meneteskan air mata, tapi hal ini bisa dikatakan tidak boleh bagi tim relewan Rumah Ceria. Bagaimana mungkin kami bisa membuat anak-anak korban bencana menjadi ceria kalau kami sendiri tidak ceria.

rumah salah satu warga yang hancur

Aku yang sebenarnya sensitive sekali, harus berusaha keras untuk selalu ceria. Di awal perkenalan, tim Rumah Ceria memberikan tugas kepada anak-anak untuk menggambar apapun yang mereka mau. Dan mengejutkan, setelah dianalisa ternyata mereka semua termasuk ke dalam kategori anak-anak yang trauma. Gambar-gambar yang mereka gambar tak jauh dari bangunan yang roboh, keluarga mereka yang tertimpa bangunan, bahkan ada anak yang begitu ketakutan saat mendengar bunyi kendaraan lewat dan mengira itu adalah gempa susulan.



Syukurlah, aku memiliki tim yang solid, yang mau berbagi ilmu dan terus mengajariku bagaimana membimbing anak-anak korban bencana. Setiap harinya kami berkeliling ke sekolah-sekolah memberikan trauma hilling,  games, motivasi dan juga menanamkan pikiran-pikiran sehat pada mereka di sela-sela proses belajar di bawah tenda yang sederhana. Respon anak-anak pun beraneka ragam, ada yang mulai menunjukkan keceriaan, ada yang biasa-biasa saja, dan ada juga yang takut untuk bergabung.  Itulah tantangan, kami belum bisa berpindah ke tempat lain, jika anak-anak disini belum ceria.



Setiap minggu, tim Rumah Ceria juga mengadakan outbound. Ini lah kegiatan yang paling tidak bisa kulupakan. Senang sekali rasanya melihat wajah-wajah ceria mereka berlari-lari diantara petakan sawah, atau mereka yang terpingkal-pingkal saat melihatku terinjak tai sapi sewaktu mendekati sapi yang sedang berpacaran atau melihat wajah semangat mereka saat melempari teman-temannya dengan bom air yang kami siapkan saat bermain Perang Badar di sungai. Tak ada yang lebih membahagiakan dari ini semua, saat kami bisa membuat wajah-wajah muram anak-anak itu menjadi ceria lalu berteriak bersama-sama saat ditanya adik-adik baa kabanyo?*(adik-adik apa kabarnya?)



dengan semangat mereka menjawab
Tubuh wak  
Fikiran wak
Hati wak
Fresh-fresh
Yes… Allahu Akbar :)

Bukan hanya di luar, tapi kegiatan tim Rumah Ceria juga berlangsung di Mushola Nailuss’aadah. Mushola ini masih berdiri walaupun sebagian sisi mushola ini ada yang hancur dan retak. Kami mengumpulkan anak-anak untuk sholat bersama, mengaji dan berbagi cerita tentang perasaan mereka. Anak-anak dengan antusias menuliskan keluh kesah mereka dalam sebuah kertas. Unik-unik sekali, ada yang bilang aku lucu, ada yang bilang mereka tidak mau ditinggalkan oleh tim Rumah Ceria, ada yang bilang dia sedih karena ada keluarganya yang meninggal dan banyak sekali hal yang membuat warna hatiku jadi seperti warna-warni.

Kegiatan menceriakan anak-anak ini setiap hari secara rutin terus dilakukan. Walaupun kadang kami harus keteteran dengan tugas memasak, mencuci, dan menyiapkan kegiatan untuk esoknya. Untunglah ada Mba Meri(yang kami panggil ummi) yang biasanya memasak, aku dan mba fitri sering kebagian tugas mencuci. Aku serasa mendapatkan keluarga baru, ada kak kholik yang awalnya kelihatan sok cool tapi ternyata bocor juga, ada uda ghani yang ternyata juga jago nari (karena aku, mba fitri, mba mery dan uda ghani harus membuat gerakan senam untuk anak-anak dengan lagu Guruku).  Ada abi hakmal, yang merupakan coordinator tim yang kerjaannya ngurus-ngurus semuanya. Ada juga rio yang dikenal sebagai motivator dan rafit yang lucu banget kalo diajak bicara :D



Kesemuanya itu kami lakukan bersama-sama, saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan terutama untuk tidak lupa mengkonsumsi air putih. Bayangkan saja, aktivitas yang padat tanpa konsumsi air putih yang seimbang akan mengakibatkankan tim relawan dehidrasi, dan tidak bisa menceriakan anak-anak korban gempa. Pernah salah seorang temanku mengingatkan seperti ini "Jangan sakit, jangan lemah, kita harus selalu sehat dan ceria,"

Tim Relawan juga senantiasa mengingatkan anak-anak untuk mengkonsumsi air putih seimbang. Agar mereka bisa melanjutkan mimpi-mimpi mereka, walaupun bencana baru saja melanda. Dan semoga apa-apa yang kami ajarkan selalu mereka ingat.

***

Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Dan tak bisa dipungkiri kami tak bisa selama nya ada disana. Setelah hampir sebulan, tim rumah ceria harus pindah ketempat yang lain. Sedih, itu pasti. Tapi lagi-lagi kami tak boleh menangis, kami harus meninggalkan anak-anak itu dengan senyuman, dengan keceriaan, yang kami tinggalkan hanya kenangan bahagia, perpustakaan kecil di mushola dan semangat untuk bangkit di hati mereka. Jujur, aku menangis diam-diam di perjalanan menuju tempat selanjutnya, membaca surat-surat dari adik-adik di nanggalo. Kak Ria jangan pergi tinggalin kami,nanti kami main sama siapa lagi. Aku hanya bisa menatap surat-surat kecil itu sembari berdoa semoga Allah yang menjaga mereka. mereka masih punya mimpi yang begitu besar, aku yakin mereka akan menggapai mimpi-mimpi dan cita-cita mereka lalu bangkit dari keterpurukan.

 
Tempat selanjutnya yang kami tuju adalah Kabupaten Pariaman, Koto Gadis Nagari Sunur  Kecamatan Nan Sabaris. Aku hanya sempat tinggal satu minggu disana lalu pulang, karena ada pergantian relawan, beberapa relawan dipulangkan dan digantikan relawan yang baru. Banyak hal yang kudapatkan disana, keluarga baru, adik-adik baru, semangat berbagi cinta dan banyak lainnya yang tak bisa kuungkapkan lebih banyak lagi. Semoga suatu saat nanti aku bisa bertemu lagi dengan mereka.

Inilah mereka, pencipta momen indah dan pembelajaran luar biasa dalam salah satu moments hidupku.
Dengan bangga, aku perkenalkan tim Rumah Ceria

Tim RC Kota Padang *dari (Rafid, Mba Meri, Ka Kholik, Uda Gani, Chika(saya), Mba Fitri, Abi Hakmal, Rio)


Tim RC Kab. Pariaman (Rio, Kang Tebe, Kak Kholik, Chika (saya), mba Meri, Rafid, Teh Syifa, Mba Meri, Abi Hakmal)

setiap moment adalah pembelajaran yang berharga
Allah telah memberikan kasih-Nya bahkan dalam bencana sekalipun
Karena mimpi tak akan berhenti sampai disini
ayo Bangkit! menuju hari esok yang lebih baik


di akhir postingan ini saya memberikan dua jempol untuk @virowater yang memberikan kesempatan pada kenangan  saya untuk kembali mengenang moment-moment indah dan berkesan. Semoga penuh pembelajaran :)



Yuk Ngeblog Bareng Viro

If you like this post, Please share it  ^^

You Might Also Like

38 komentar

  1. kalau sekarang, kira-kira mauke Padang gak untuk bantu korban galodo?

    ReplyDelete
  2. tahun 2009 ya? sekarang pasti udah jauh lebih baik ya keadaannya... :)

    ReplyDelete
  3. wah.. prihatin sekali mendengar beritanya..

    gempa tahun 2009 emang dahsyat..

    ReplyDelete
  4. wew, *mangut-manggut :P

    setiap kejadian banyak hikmah nya ya :D

    ReplyDelete
  5. luarbiasa ya bisa bergabung menjadi relawan korban bencana alam....sebagai manusia kita memang sudah seharusnya saling bahu membahu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. chika juga nggak nyangka ditawari,
      kesempatan yang luar biasa

      Delete
  6. Allah bersama mereka mbak chika ^^*

    ReplyDelete
  7. kalau aku ada di tempatmu, mungkin aku akan sama spertimu chik, membantu mereka... membahagiakan mereka...

    ReplyDelete
  8. *kunjungan balik*
    Subhanallah banget, beruntung chika bisa ambil bagian buat bantu mereka.
    aku cuma bisa bantu doa 2009 itu. masih SMA :)
    salam kenal chika :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal sinta

      doa juga merupakan bentuk bantuan kita kepada saudara2 kita disana

      Delete
  9. luar biasa mbak chika.... pengen jadi relawan juga tapi gak ada yang ngajak.... berangkat sendiri ntar malah ilang, mau jadi relawan malah ditolong relawan... hehe

    kalo ada lowongan saya mbok dikabari...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, iyah, itu juga chika kebetulan ditawari sama temen yang dah biasa jadi relawan

      siipp. nanti kalo ad butuh relawan dikasih tau deh^^

      Delete
  10. Keren jadi relawan, niar gag berani liat darah2 gitu :D

    Bisa deh di sambungin sama ikutan kontes keren mbak chika :D
    Sukses ngontesnya yaa mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hhee, iya niar ini karena live the moments jadi di sambungin ke pengalaman jadi relawan,

      niar ikutan juga, siapa tau nanti menang, :D

      Delete
    2. keren mbak tulisannya jadi relawan, jiper deh huaahh :D

      hehehe ntar mbak masih bingung mau nulis apaan :D

      Delete
    3. hehee makasih niar...

      ayo buruan bsok terakhir lo :D

      Delete
  11. Teriring doa untuk saudara-saudara kita di Padang, semoga mereka diberikan kesabaran, ketabahan dan juga keikhlasan. Semoga ujian ini tidak berkepanjangan, dimudahkan jalan masuknya bantuan dan semoga pula ujian ini tidak menghalangi mereka mengisi bulan Ramadhan nan penuh barokah ini dengan ibadah, salah satunya termasuk sabar, terus berikhtiar dan ikhlas dengan ujianNya.

    Semoga sukses di kontes, Mbak. Insya Allah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia bi, semoga ujian yang Allah berikan bisa menjadi hikmah luar biasa dan membuat kita semua memperbaiki diri

      makasih^^

      Delete
  12. Seperti halnya bencana banjir bandang yang terjadi beberapa hari kemaren. Gempa bumi beberapa tahun lalu membuat aku khawatir terhadap temen2ku yang ada di sana, tapi aku hanya bisa berdoa sebenarnya pengin banget bantu secara nyata terjun langsung ke TKP.

    ReplyDelete
    Replies
    1. do'a pun bentuk peduli kita terhadap saudara2 kita disana

      Delete
  13. semangat tuk terus saling membantu sesama seperti inilah yang patut diacungi jempol :) keren!!!

    ReplyDelete
  14. ujian yang diberikan Allah untuk saudara-saudara disana. semoga bisa tabah bertahan, dan menyelesaikannya.
    kami ikut berdoa untuk segenap rehabilitasinya. semoga Allah bersama kita.

    ReplyDelete
  15. inget viro jadi haus, untung maghrib sudah dekat

    ReplyDelete
  16. Wah, hebat ya Rei :) Proud of You lah

    ReplyDelete
  17. Gempa di Padang, saat itu saya berada di bogor. Dan suasana pun berubah jd haru biru ketika berita gempa di Padang disampaikan dan ternyata di saat itu ada teman yg sedang berada di lokasi hotel tempat sebuah tarining berlangsung untuk meberikan materi. Dari 2 org yg berada di sana, satu bisa lolos dr reruntuhan gedung dengan berlindung di bawah meja kayu dan satunya terjebak. Beberapa hari kemudian, jenazahnya baru bisa ditemukan..

    Jadi mengenang lagi peristiwa tersebut meskipun saya jauh dari lokasi bencana..

    Gudluck ya Mbak...live moment for sharing each others:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. innalillahi, semoga amal ibadah beliau diterima :)

      thaks mba

      Delete
  18. Saluuuut... (>o<)b

    Aku yang waktu itu tinggal sebelahan dengan Padang aja masih belum berani jadi relawan :(

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images