Follow Us @riafasha

Wednesday, August 29, 2012

Back to the Past (Chika Rei)


The Untold Message

“Carish!” suara asing menggema di lorong gelap yang saat ini kulewati. Bersatu dengan bunyi tetesan air yang berasal dari rembesan air hujan. Tak ada sesiapa, hanya ketakutan yang kubawa semakin menjadi dan entah akan berakhir dimana.  

Aku tak pernah berdo’a untuk kembali pada masa lalu,
Namun jika kembali adalah sebuah pilihan yang harus kupilih
Kan ku utarakan sebuah pesan yang tak tersampaikan
Bahkan jika kau telah berlalu


***
“Tidak kah kau bisa melihat siapakah diriku?” masih jelas kuingat ucapan terakhir Bryan, kakek tua yang pagi ini mengunjungiku. Aura kehebatannya di masa lalu masih terpancar, kalung berinisial B&C membuatku tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. 

“Hei, kau tentu Bryan. Bukankah yang kau tanyakan itu aneh, Grandpa?” Bryan tersenyum simpul lalu meninggalkanku tanpa kata. Aku menghela nafas panjang memandangi tubuh bungkuknya berjalan tertatih menuju hutan. 

Aku termangu dan tanpa sadar hujan telah membasahiku, yang kurasa hanya kelabu. Dan setelah itu, aku mendapati semuanya gelap tanpa cahaya di sebuah lorong seperti Cinderella yang terjebak di hutan belantara. 

“Carish, berjalanlah. Jangan takut, aku bersamamu!” suara itu kini semakin kentara di telingaku, merubah ketakutan menjadi keyakinan untuk berjalan lurus. Remang kulihat cahaya kecil yang sepertinya muncul dari ujung lorong mendekat. Beberapa detik kemudian, bayang hitam berjalan mendekatiku. perlahan wajah itu terlihat makin jelas terkena cahaya lilin yang dibawanya.

"Selamat datang kembali Putri Carish!" lelaki yang kini di depanku mengulurkan tangannya.  Aku mengerenyitkan dahiku, kebingungan melanda bertubi-tubi tentang keberadaanku juga lelaki yang kini memanggilku Putri. 

"Mari ikuti aku, ada yang ingin kuperlihatkan padamu!"
"Apa? aku? kamu siapa? lalu kenapa tiba-tiba aku disini?" aku menahan langkah lelaki itu, mencerca dengan pertanyaan yang tak kumengerti, namun lelaki yang sepertinya lebih tua dariku 2 tahun itu hanya tersenyum dan merangkul lenganku lembut hingga kami tiba di sebuah ruangan kosong yang penuh dengan lukisan kota-kota tua serta potret keluarga raja yang terlihat begitu berwibawa.

Tak seperti lorong gelap yang baru saja kulewati, ruangan ini begitu hangat dengan wangi mawar dan alunan instrumen karya komponis Ludwig Von Beethoven. Teh rosela hangat disajikannya di depanku.
"Minumlah, sembari mengenang ruangan favoritmu."
"Tunggu! sudah cukup dengan semua keanehan ini, bisakah kau jelaskan semua yang terjadi padaku? dan siapakah kau sebenarnya?" 
"Baiklah,  dengarkan dan jangan membantah hingga semuanya jelas di pikiranmu," lelaki itu lalu mengambil sebuah bingkai berisi potret dua orang perempuan dan seorang lelaki yang terlihat seperti ia.

"Kau lihat wanita berambut ikal itu? yang matanya berbinar penuh mimpi, dia adalah cinta pertamaku, cinta seumur hidupku dan cinta matiku bahkan saat Tuhan tak izinikan kami bersatu." Mata lelaki itu memandang nanar pada potret ditangannya, rindu dan sepi seolah bertumpuk di matanya.

"Semua baik-baik saja hingga kami harus berpisah walau tak pernah inginkan itu, Keila wanita berambut lurus disampingnya adalah sahabat terdekat kami. Entah bagaimana mulanya, aku dan Keila dipaksa menikah untuk menyelematkan keluarganya dari hukuman mati dan sebagai gantinya ia diasingkan di hutan belantara karena ayahnya yang merupakan kaki tangan Raja dituduh berkhianat."

Lelaki itu menarik nafas panjang. "Dan kau tahu, apa yang ada dipikirannya? Ia menganggap aku dan Keila telah mengkhianati cinta dan persahabatan yang telah kami bangun selama 20 tahun. kau tahu? ini menyakitkan hingga kadang aku ingin meloncat ke jurang tanpa dasar."

"Kau tidak menyusulnya? kau membiarkan cintamu berakhir seperti ini." Emosiku naik entah kenapa, kutatap mata lelaki itu lekat.

"Banyak hal yang tidak akan bisa kau mengerti hanya dengan bertanya kenapa? tanpa melihat seperti apa yang sudah kulakukan untuk membuktikan bahwa hanya dia yang kucinta"

"Aku dan Keyla hanya menikah di depan keluarga, Keyla sama sakitnya ketika harus meninggalkan Sam yang ia cintai. Aku terus berusaha mencari kekasihku bahkan saat Raja mengancamku. Namun, jejaknya menghilang. Aku tak ingin pasrah, hingga maut menjemputku nanti. Aku tak akan berhenti untuk percaya bahwa aku akan menemukannya, dan mengatakan bahwa aku mencintainya. Mencintaimu, Carish!"

Ada sesak yang mendobrak hatiku, tanganku bergetar hebat dan air mataku perlahan mengalir.
"Bryan," ada kenangan hitam putih berputar di pikiranku. ruangan ini, teh resola, musik instrumen, foto ku bersama Bryan dan Keyla. Tidak mungkin...

***
"Carish! bangunlah" aku menggigil kedinginan mendapati tubuhku terbaring di rerumputan basah. Madam Ely yang tak sengaja melewati rumahku terburu-buru mengangkatku. 
"Ada apa denganmu sayang?"
"Bryan? dimana Bryan madam?" aku berteriak histeris.
"GrandPa maksudmu?"
"Dimana Bryan madam? tangisku semakin menjadi 
Madam memelukku erat "Maaf sayang, kami baru saja menguburkannya pagi ini. Ia tenggelam di danau tengah hutan."

"Tidak..." aku menangis tanpa henti, hujan kian deras menertawakan kekalahan dan penyesalanku. Masih kentara aroma mawar bercampur aroma tanah basah. Kenapa harus aku yang tetap ada.


 Tidak bisakah aku tetap bersamanya di masa lalu.


18 comments:

  1. huaaah.. pagi-pagi udah disuguhi cerita yg bikin imajinasi loncat-loncat... :D

    kereeen... :D

    ReplyDelete
  2. "tidak bisakah aku tetap bersamanya di masa lalu"

    seandainya ada mesin waktu.. :D :hewhew

    ReplyDelete
  3. hahahahahahaha ... serasa membaca novel kerajaan ... kerennn ...

    ReplyDelete
  4. Wah... keren banget. Tulisannya makin matep aja nih.
    BTW, blognya Chika Rei baru ya? Kenapa ?
    Oya, selamat Idul Fitri, maaf lahir batin.

    ReplyDelete
  5. ceritanya selalu berakhir menyedihkan....

    saya memang tidak bisa membuat cerpen ataupun cerita, tapi saya selalu ingin bisa menikmati cerita

    salam kenal untuk mbak chika

    ReplyDelete
  6. mantap lagu nya ketika buka nih blog gan,

    ReplyDelete
  7. lagunya enak, siapa yang nyanyi & judulnya apa chika?

    ReplyDelete
  8. sedih yah ceritanya, hmmm ... merinding jadinya ...

    nice :D

    ReplyDelete
  9. wah, bagus banget :)
    maaf lahir bathin dulu ^^

    ReplyDelete
  10. luar biasa.. sesaat aku terdiam membaca tulisan ini....

    ReplyDelete
  11. "Banyak hal yang tidak akan bisa kau mengerti hanya dengan bertanya kenapa? tanpa melihat seperti apa yang sudah kulakukan untuk membuktikan bahwa hanya dia yang kucinta"

    ReplyDelete
  12. perlu membaca beberapa kali biar ngerti. maap lagi lemot. hehehe

    ReplyDelete
  13. ceritanya mengharukan ....
    oy, mumpung masih syawal minal aidzin mbak chika

    ReplyDelete
  14. u,u baguuus mbak :')
    aku deg-degan dan gimanaa gitu pas akhir-akhirnya. hehe :)

    ReplyDelete
  15. Font-nya bagus bangeeett, hahaha... *lagi usil

    ReplyDelete
  16. Keren ..... terinspirasi dr mana nich

    foll back yah + comment http://masroqib.blogspot.com

    ReplyDelete
  17. Aduh, cinta tak sampai itu painful.. uhuk uhuk.
    Thumbs up.

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)