Harga Sebungkus Kripik Pedas

3:51:00 PM


Gemericik genangan air masih kentara di pelataran rumah sederhanaku. Jalan yang telah kehilangan wibawanya tampak menampung tumpahan air dari langit. Anak-anak sebayaku yang rata-rata tak berbaju sibuk berteriak seolah tak pernah peduli kalau suatu saat nanti mereka akan menjadi dewasa. Hujan lagi-lagi menawarkan kecerian untuk sekumpulan raga yang tak sanggup melampiaskan masa kecilnya di depan game watch ataupun sekedar jalan-jalan ke mall.

“Kuluk.. kuluk.. kuluk-kuluk…” Sophia, anak seorang tukang kredit berbadan gumpal memprovokasi anak-anak lain untuk mengikutinya. Konon katanya, jika kita beretriak “kulu-kuluk” dengan gaya orang Dayak, menutup dan membuka mulut, hujan akan turun dengan deras. Sophia dan anak-anak itu lalu berlari mengelilingi rumah warga. Sesekali terdengar umpatan kotor mereka diselingi tawa menjengkelkan.

Dak do kerjoan*” aku mengumpat, sembari mencomot kripik pedas yang harusnya kubungkus rapi. Sebenarnya bukan tak suka dengan tingkah mereka, tapi lebih pada kecemburuanku yang tak bisa seperti mereka. Semua orang tahu aku menyukai hujan, langit mendung bukannya membuatku sedih seperti Ibu-ibu yang tak rela jemuran bajunya belum kering, tapi aku malah bersorak-sorak kegirangan, seperti mendapat hadiah coklat satu lemari.


gambar dari sini
 “Selesaikan dulu ngebungkus keripiknya kak, setelah itu boleh main hujan,” kulihat kripik pedas di depanku. Masih setengah baskom lagi, butuh waktu tiga puluh menit untuk membungkus semuanya dan mengelemnya dengan api. Aku cemberut, dan Ibu hanya geleng-geleng kepala.

“Ini masih banyak bu, setengah jam lagi hujan mungkin nggak ada lagi.”
“Ya kalau gitu, tinggal pilih. Mau main hujan atau ngebungkus keripik. Yang mau membungkus keripik untuk dijual sekolah kan kakak, kalau mau main hujan ya silahkan. Berarti kakak nggak dapat keuntungan dari keripik. Ingat lo, siapa yang mau punya sepeda” Aku tak bisa berkata-kata lagi, tertunduk dan mengurungkan inginku untuk bermain hujan.

Kembali kubungkus keripik yag bentuknya seperti pisau-pisau dengan gumpalan darah. Huffhtt.. sudah sejak kelas 1 sd kusimpan keinginan punya sepeda. Tapi apa daya, tabunganku tak cukup-cukup untuk membeli sebuah sepeda bekas sekalipun.

Harusnya aku mudah saja merengek seperti anak-anak yang lain dengan jurus andalan menangis tanpa henti dan berguling-guling di tanah, tapi semuanya percuma jika kenyataannya orang tuaku memang tidak mempunyai uang untuk membelikan sebuah sepeda untuk anak sulungnya. Semua upaya sudah kuusahakan, mulai dari mengumpulkan uang jajanku, uang pemberian kakek, uang pemberian tante hingga berjualan apa saja yang bisa menghasilkan uang.

Berjualan kripik salah satu favoritku. Keripik Ibu terkenal enak, kalau kata teman-teman di sekolahku “Mak nyoss super duper” gurih dan pedas. Tak ada yang bisa menandingi rasanya, termasuk keripik Ibu Rita si Kacamata garang, wali kelas 4 yang selalu iri kalau keripik ku laku, dan yang lebih parahnya Ibu Rita malah menyuruhku tidak berjualan, katanya nanti menganggu konsentrasi belajar, nah loh, padahal kan aku berjualannya waktu istirahat.

"Telul.. telul.." adik sepupuku Luffi tiba-tiba merengek. Di tarik-tariknya bajuku yang mulai berbau apek.
"Lufii mau telur dadar? mau kakak buatkan?" adik sepupuku itu mengangguk riang.
"Kakak bisa buatnya?" tanya ibu menyangsikan.
"Bisa dong,!" jawabku pede lalu beranjak kedapur.


Ada dua buah kompor di dapur. Yang satu kosong, satunya lagi ada panci berisi air panas yang baru saja dimasak. Kompor yang kosong apinya kecil, jadi aku memutuskan untuk menggunakan kompor satu lagi. Eh, tapi ada air panas yang baru dimasak. Dengan hati-hati aku mengambil alas tangan untuk mengangkatnya. Kupegang erat-erat telinga panci. Namun, entah kenapa tiba-tiba tanganku terasa berat dan panas. dan prangg....

"Panas...." aku histeris karena panci yang kupegang tiba-tiba terlepas dan air didalamnya tumpah di paha hingga kakiku. Ibu berlari ke dapur, begitu panik hingga menangis. 
Aku telah lupa apa yang terjadi setelah itu, yang ku tahu kaki ku begitu panas dan aku menangis tak henti. Tetangga-tetangga berkumpul melihatku iba. 
"Tidak apa kak, tidak apa-apa nanti sembuh, nanti kulitnya tumbuh lagi" aku berpikir hari itu adalah hari terakhir hidupku melihat seluruh kulit kakiku melepuh dan kulitnya digunting oleh perawat, aku begitu menyesal.

1 bulan berlalu, aku masih duduk lemas di petakan kasur. Sungguh aku tidak bisa melakukan apapun selain duduk. Pergelangan kakiku yang tersiram air panas tidak bisa digerakkan, sehingga tak bisa berjalan. Setiap dicoba digerakkan, daging nya akan mengeluarkan darah dan itu terasa begitu perih. Aku seringkali menangis sesenggukan, saat ingin *maaf buang air. Ibu tanpa sedikit pun rasa jijik menampungnya dan membersihkanku, memandikanku, menyuapkanku. 

Hingga suatu saat, aku begitu shock hingga tak bisa berkata-kata.
“Amputasi?” Aku diam menatap langit-langit kamar yang semakin kecoklatan. Suara Ibu begitu keras hingga dadaku berguncang hebat. Sedang ayah hanya menatapku miris.

Hampir tak punya harapan, itulah aku yang hanya terbaring di sepetak kasur. Ragu aku mengeluarkan kata yang sebenarnya tak bisa mengubah apa-apa.

“Maafkan tika yah, bu….” entah kali keberapa aku menangis, sedang sakit di kaki ku kian parah.

“Maaf, kalau tika pergi mungkin tak serepot ini.” Aku yakin ini tak seperti aku, Tika yang penuh mimpi, kini sebegitu rapuhnya dengan saran dokter untuk kakiku. Amputasi! Akan jadi apa hidupku, adakah lelaki yang akan menyukaiku? Tidak, itu terlalu jauh. Bagaimana dengan masa depanku nanti. Apa aku akan hidup dengan tongkat atau kursi roda? Tidak, Lebih baik aku mati. 

“Kaki Tika tak akan diamputasi nak!” Ibu merangkulku, hangat, air matanya mengalir deras hingga membasahi pipiku. Entahlah, aku semakin merasa bersalah. Andai saja tidak kuturuti adikku yang ingin dibuatkan telur, andai saja tidak kuangkat air panas itu, andai saja saraf di kakiku tidak terluka. Ah, semakin berandai-andai aku semakin ingin hilang dari bumi. 

“Dengar nak,” ibu menggenggam tanganku yang semakin kaku. 

“Tika akan sembuh, yakinkan disini,” mata Ibu kian berbinar, ada keberanian seolah merasuk di celah-celah darahku saat iya menyentuhkan tangan di dadaku.  Aku mengangguk pelan, berujar pelan dalam hati “Allah, jangan buat Ibu menangis lagi,” lalu aku memejamkan mata. Aku ikhlas untuk semua ini, apapun yang akan terjadi nantinya.

“Ya Allah, jangan biarkan dia tersakiti, biar aku saja yang menerima semua sakitnya, sembuhkanlah anakku,” meski rintih tiap malam aku mendengar bisikan-bisikan do’a Ibu yang tak henti hingga matanya membengkak. Ia tetap terjaga dalam malam, berdo’a, mengipasiku, memandikanku, mengobatiku. Ialah satu-satunya yang percaya bahwa kakiku akan sembuh tanpa amputasi

***
Allah menjawab do'a-do'a Ibu, tanpa dokter, hanya dirawat oleh tanteku yang tamatan sekolah keperawatan, perlahan luka-luka ku sembuh. Hanya bagian pergelangan kaki saja yang sering berdarah kalau berjalan. Tapi aku harus kuat, demi ibu dan demi ujian nasional SD yang 2 minggu lagi akan kulewati. 

ending: 
terimakasih Allah telah mengirimkan wanita terbaik dihidupku, terimakasih tetap menyayangiku, bahkan dua bulan tidak bersekolah aku tetap bisa lulus Ujian Nasional dengan nilai tertinggi di SD ku. Dan kalian tahu, apa yang kudapat setelah itu.

"Ini sepeda untuk tika, hasil berjualan keripik dan hasil kesabaran menunggu kakiknya sembuh," aku menangis sesenggukan melihat sepeda berwarna merah orange di depan rumah. Hanya sepeda bekas, ya hanya sepeda bekas  yang dimodifikasi oleh ayah, namun penuh kasih sayang ayah dan ibu serta kesabaranku mengumpulkan receh dengan berjualan kripik pedas. :)

ayo tebak chika yang mana :D

You Might Also Like

18 komentar

  1. Yaah, kena air panas dia... >_<
    Baru baca sekilas disajikan kayak cerpen, hehe... Good.

    Yang pake baju merah yaa?? :-P

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehehe iya emang sengaja disajikan kayak cerpen ^_^

      anda benar, berhadiah gelas cantik bisa diambil toko2 terdekat :D

      Delete
  2. chika yang kiri, yang pake baju putih..

    ini sepertinya bukan fiksi..

    ReplyDelete
  3. keren mbak chika baca abis ini dibikin cerpen dan masuk banget. Huaah tulisannya bagus, buat kesabarab dapet sesuatu yang indah yaa :D

    ReplyDelete
  4. jadi inget ponak an ku yang kena air panas juga..

    ReplyDelete
  5. huaaa....kesiram air panas... :((
    btw, itu bukan salah kamu doong, kamu kan malah mau bantuin bumu bikinin telur buat adek...hiks...alhamadulillah gk jadi diamputasi ya... :)
    makasih ya udah ikutan #GABlogEmakGaoel...tunggu pengumumannya 4 agustus ya... :)

    ReplyDelete
  6. huwa... ceritanya sedih... aku baca sampe habis...
    ibumu sabar ya punya anak bandel kaya kamu... :)

    ReplyDelete
  7. ibu yang bikin spijles ya ibumu :)

    ReplyDelete
  8. tapi menurut saya leih cocok judulnya "harga sebuah sepeda".
    ceritanya menyentuh dan bisa dijadikan pelajaran. Yang pasti pesan moral pertamanya: anak kecil jangan sok hebat mau masak. hahahah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi chika lebih seneng kripik pedas jd judul :p

      ahahahaaa

      Delete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images