Follow Us @riafasha

Saturday, September 8, 2012

Senja Bersama Rani

Senja tak seperti biasanya
Aura jingga tak kutemukan dalam persembunyiannya
Hanya samar-samar kegelapan
Tak ada camar, tak ada angin pantai yang biasa kutemui
Hanya diam membisu

Di ujung bibir pantai ku lihat Rani menatap riak ombak, tatapannya sayu. Kosong tak bersemangat. Rambutnya terlihat kusam tak terurus. Perlahan ia tersenyum. Senyum yang tak pernah ku mengerti seolah ia tersenyum dengan seseorang di tengah lautan. Mega semakin merah saat ia semakin mendekat menuju riak ombak. Senyum itu semakin mengambang. Tubuhnya perlahan basah, berbaur bersama air laut yang asin. 

"Rani jangan"!! teriakku.
Ia menatapku dari kejauhan. Melambaikan tangannya sembari tersenyum penuh misteri. Perlahan tubuhnya menghilang terbawa arus ombak.



Rani.Rani Tolong!! Tolong siapapun tolong, Hujan perlahan turun. Aku bersimpuh di atas pasir pantai yang mulai basah. Tak bisa berbuat apa-apa karena aku pun tak pernah berani untuk menyentuh air laut. Tak ada siapapun dalam senja ini, hanya aku yang merasa sebagai pecundang melihat sahabatku itu terbawa arus ombak. Aku terisak dalam diam. Menggenggam erat tanganku sendiri yang mulai menggigil. 

***

Rani. Bantalku telah basah oleh air mata. Remang-remang kamar menyadarkanku semua itu hanya mimpi. Perlahan ku amati seisi kamar. Di pojok kamar terpampang cantik bingkai foto Winnie depu, foto ku dan Rani, sahabat ku satu-satunya. Yang begitu mengerti akan diriku. Sekalipun tak ada kata antara kami, namun ia tetap mengerti kegelisahanku.
Pernah suatu waktu saat aku begitu gundah. Ia menuliskan puisi untukku. Rani pandai menulis puisi, kuakui itu. Terlihat dari kata-katanya yang begitu penuh makna.

Aku menyukai kebisuan
Yang tak berdentang, hanya menitikkan keheningan
Aku sangat menyukai kebisuan

Karena tangis tak perlu mengalir, menjadi seorang pendamping abadi
Melodi piano tanpa suara
Menggema aluri bisuku yang terdampar
Malam sunyi tak perlu lagi dekap nadiku
Kerana kebisuan sudah terlalu cukup
Temani mimpi-mimpi sang pengkhayal yang tidur pulas

Karena itu
Tetaplah diam dalam kebisuanmu
Hanya tersenyum simpul menatap mentari bersama bisikan dedaunan tak bersuara

Aku menyukai kebisuanmu yang termangu pada langit merah jambu
Bisumu itu, peliharalah, biarkanlah
Tetap bersemi, menggugurkan angkuh yang nyata
Tetaplah dalam kebisuanmu
Karena aku sangat menyukainya

13 Desember 2010

12 comments:

  1. Untung cuma mimpi ya.

    Karena tangis tak perlu mengalir, menjadi seorang pendamping abadi. Saya suka kata kata itu.

    Salam.. .

    ReplyDelete
  2. Hei there, ada award nih buat yang punya blog. Mohon dijemput ya ^^

    -http://soulitary-pedestrian.blogspot.com/2012/09/liebster-award-dari-cici.html-

    Semoga berkenan :)

    ReplyDelete
  3. wini depu -__- sometimes the best answer is silence -lupa baca dimana hhe

    #blogwalking http://pencilpyon.blogspot.com/ :D Blognya udah di polow yah hhe

    ReplyDelete
  4. Siapa itu Rani?
    Kok sedih ceritanya...

    ReplyDelete
  5. air laut yang asin itu adalah air mata "aku"...
    sesedih itukah "aku" hingga menangis dalam tidur?

    ReplyDelete
  6. nice!

    p.s. I'm having a giveaway from Sunglasses Shop if you'd like to check it out!
    devorelebeaumonstre.com xx

    ReplyDelete
  7. Wah kenapa tuh Rani, mimpinya ekstrim bgt.. haha.. Kebisuan, knp Rani menyukai kebisuan? hm...

    ReplyDelete
  8. perhatikan aku rani (sheila on 7) hehe

    ReplyDelete
  9. Cerpen ini ria? Aku juga suka kesunyian, karena bisa konsentrasi menulis hehe.

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)