kontes

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

3:57:00 PM




Bandingkan dua gambar di atas! Gambar pertama menunjukkan betapa lugunya dua orang anak PAUD yang sedang bercengkrama membicarakan acara liburan mereka di akhir pekan. Sedangkan Gambar kedua menampakkan gurat amarah sekelompok anak muda yang MUNGKIN 10-20 tahun yang lalu sama lucunya dan sama lugunya. Saya jadi penasaran bagaimana mereka sewaktu kecil? Bagimana dengan anda?

Pagi ini ada satu hal yang menggelitik naluri saya sebagai seorang pendidik PAUD. Salah seorang anak murid saya Ibra menangis dan mengatakan bahwa ia dipukul temannya, Bima. Saat ditanyakan ternyata Bima hanya membela Salsa yang sebelumnya diganggu oleh Ibra. Saat saya membawa mereka bertiga di pojok sekolah, ada enam teman lainnya yang saling "cekcok" membela dua pihak Bima dan Ibra. Saya tersenyum dan membawa yang lainnya untuk menjauh, lalu membiarkan ketiganya menyelesaikan masalah mereka. Selang beberapa menit kemudian saya tanyakan lagi, apa masalah mereka sudah selesai? mereka mengangguk lalu bermaafan. Bermain lagi seperti biasanya.

Lalu saya teringat masa-masa SMA, saat itu saya dan teman-teman belum diperbolehkan pulang walau waktu belajar sudah habis. Gerbang sekolah ramai di hadang polisi, dari kejauhan terlihat anak laki-laki dari sekolah tetangga membunyikan gas motornya hingga menimbulkan suara yang bising. Di sudut ruangan kelas pun, teman-teman saya terlihat mukanya merah padam seolah tak terima sekolah mereka diserang. Saya yang saat itu tidak peduli hanya geleng-geleng kepala lalu "ngadem" di mushola. Setelah tanya sana sini, ternyata masalahnya hanyalah masalah sepele "Rebutan Cewek". Ah bodoh!

Itu hanyalah gambaran faktor penyebab terjadinya tawuran antar pelajar. "Ini disebut faktor peer-pressure, di mana kecenderungan remaja ketika mereka mengadopsi atau mengikuti nilai-nilai atau perilaku dari orang lain karena merasa mendapatkan tekanan untuk melakukan itu agar mengikuti keinginan lingkungan. Baik tekanan itu mereka rasakan atau pikiran. Jadi, mereka terpaksa untuk mengikuti kesamaan di lingkungan mereka, walau sebenarnya tidak ingin memilih hal tersebut."(sumber) 

Kadang tawuran itu sendiri bagi mereka juga dianggap sebuah pembuktian akan nilai kesetiakawanan ataupun pembuktian nilai harga diri mereka. Emosi mereka meledak dan tidak terkontrol oleh otak yang berlevel tinggi tadi.

Lalu bagaimana cara mencegah dan menanggulangi tawuran ?

Perkuat Pendidikan Karakter dan Agama Sejak Dini

Pendidikan karakter bangsa sangat mendesak untuk menghindari kemerosotan karakter generasi muda yang berujung pada anarkisme seperti tawuran dan lain sebagainya. Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

Banyak karakter yang harus ditumbuhkan sejak dini, mulai dari kejujuran, sopan santun, pemaaf, dll. Agak kurang adil rasanya jikalau Sekolah dijadikan kambing hitam atas maraknya tawuran yang terjadi. Sekolah memang memegang peranan dalam pendidikan anak, namu pendidikan pertama anak berasal dari keluarga. Keluarga dalam hal ini orang tua adalah faktor pertama yang membentuk karakter anak, sekolah hanya mengambil seperempat atau sepertiga waktu mereka untuk dididik. Selanjutnya guru dan lingkungan sekitar.

 “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Baihaqi).

Hal yang Perlu dilakukan Keluarga dan Sekolah
Bangun keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang dan juga keluarga yang dekat dengan Allah. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, jika keluarga itu dinaungi dengan kasih sayang dan sesuai dengan yang diajarkan agama, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih sayang dan berkarakter.

Jadilah Teladan. Banyak dari orang tua dan guru mendikte anak-anaknya untuk melakukan ini dan itu, memperbolehkan sesuatu dan melarang sesuatu tanpa menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Banyak juga  guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya. Pendidikan "otoriter" yang membangun pribadi sekuler seperti inilah yang harus dihilangkan. Jadilah teladan yang baik bagi anak-anak dimulai dari hal yang sederhana. Seperti mengajarkan mereka berterima kasih, meminta tolong, dan meminta maaf. Saya rasa teladan juga bukan hanya keharusan dari orang tua dan guru, aparat pemerintah, anggota DPR dan seluruh masyarakat Indonesia harusnya bisa menjadi teladan yang baik untuk generasi muda. ^_^

Perbanyak Kegiatan Positif Anak
Jika anak dibimbing untuk mengembangkan minat bakatnya dalam hal yang positif, ia akan terbiasa melakukan kegiatan-kegiatan yang positif pula. Dalam hal ini Orang Tua dan guru harus jeli melihat potensi anak. Misalnya saja, Sepupu saya bernama Dimas. Sekilas, Dimas dikenal sebagai anak yang nakal, suka mengganggu tema dan tidak bisa diam. Setiap di kelas, Dimas selalu melompat dari satu meja ke meja lainnya, bergantung-gantung di pintu atau tiang penyangga. Untunglah, seorang guru yang begitu luar biasa bisa melihat potensi diri Dimas. Ia lalu membawa Dimas untuk dilatih sebagai atlit senam lantai dengan satu syarat Dimas tidak lagi melompat-lompat dikelas. Well, akhirnya Dimas bisa mewakili Bengkulu untuk tingkat Sekolah Dasar dalam kompetisi Senam Lantai ke Jakarta. Nah, jangan melihat kenakalan anak sebagai sesuatu yang harus ditekan dan dihilangkan, salurkan potensinya. Maka anak akan menunjukkan hasil yang luar biasa ;) Tak lupa bekali ia dengan ilmu agama agar ia tahu apa tujuannya ke depan. 

Nah, untuk teman-teman di lingkungan sekolah atau kampus juga tidak boleh tinggal diam melihat situasi seperti ini. Ada b tips yang bisa dilakukan untuk  Mencegah dan Menanggulangi Tawuran 

Hidupkan Kegiatan ROHIS dan Organisasi lainnya
Saya anak Rohis dan saya bukan teroris. Motto ini perlu digalakkan, agak miris saat anak ROHIS disangka sarang teroris padahal yang anarkis di jalanan itu siapa? heheee....  Nah, sebagai anak Rohis yang peduli dengan saudara-saudaranya, Yuk hidupkan kegiatan rohis yang bisa menumbuhkan semangat pelajar-pelajar untuk berprestasi . nggak melulu hanya dengan ceramah. Kegiatan-kegiatan kreatif mulai dari kompetisi-kompetisi menulis, mading, pidato, debat bisa digalakkan biar pelajar-pelajar nggak kepikiran lagi untuk tawuran. Ajak teman-teman untuk menyalurkan minat bakatnya dalam ekstrakulikuler. Yang suka Tendang-Tendangan buruan ikutan Sepak Bola, yang Suka Tinju-Tinjuan buruan ikut Boxing, yang Suka Ngerakit-rakit ikutan deh robotika. Heehe, Generasi Muda Indonesia terlalu pintar dan terlalu berharga kalau hanya untuk mati di tikam saat tawuran.

Dan banyak banyak hal yang bisa dilakukan sebagai cara mencegah dan menanggulangi tawuran. dan menurut saya yang harusnya disegerakan agar ini tidak berkelanjutan ke generasi-generasi selanjutnya adalah Pendidikan Karakter Sejak Dini. Jangan sampai wajah-wajah lugu mereka nantinya akan menghiasi televisi dengan judul Tawuran :)

"kakak-kakak jangan tawuran lagi ya!! Peace donk ah! kayak kami!!!"


 
 
Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu : Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran
 


cerita

Pelangi di Mata Airi

10:58:00 AM

Airi merekatkan kancing jaketnya hingga ke leher, hujan yang turun sejak subuh membuat udara dingin begitu kentara hingga ke pori-pori kulit. Begitu pun dengan pagi ini, langit kelabu menjadi pembuka hari yang menurut Airi sama kelabunya. Titik-titik air  yang harusnya di anggap Airi sebagai anugrah itu malah membuatnya terus mengumpat kesal. Banyak hal yang berubah dari Airi sejak 6 tahun yang lalu, ia bukan lagi Airi yang penuh mimpi dan ambisi, bukan lagi Airi yang percaya diri dan dekat dengan Tuhannya.

Suara gemiricik air menjentik kaca jendela tepat dimana kini ia memandang hampa ke luar. Wajah anak kecil yang tertawa sembari memainkan lumpur genangan air di luar sana membuatnya meringis. Wajah anak lelaki itu begitu polos dan ceria, badannya penuh dengan gumpalan-gumpalan lemak hingga ia susah untuk bergerak, matanya sipit namun liar, sesekali anak yang bernama Ridho ini mengusap iler yang menetes di sekitar mulutnya.

Airi tersenyum lalu terdiam, begitulah yang selalu terjadi jika ia memperhatikan wajah Ridho. Anak lelaki satu-satunya dan juga keluarga satu-satunya Airi. Tidak ada yang salah dari anak berkebutuhan khusus itu, yang salah hanyalah masa lalu dan ketidakterimaan orang tua Airi akan dosa yang tak pernah ia inginkan.

"Ini kutukan, ini murka Allah. anak haram ini cacat Airi... !" 4 tahun yang lalu, Airi terisak menggendong wajah polos tanpa dosa, Ridho dua tahun hanya menangis ketakutan melihat murka kakek dan neneknya. Dada Airi sesak lalu memutuskan untuk menjauh, pergi bersama perih yang tak terbendung.

"Dia tergolong anak berkebutuhan khusus Airi, dan harus ditangani secara khusus. Aku bisa membantumu, mungkin tidak ada salahnya untuk sementara Ridho home schooling dulu, karena agak susah mencari sekolah yang tepat untuk Ridho di daerah ini. Dan yang terpenting Airi, kuatkan dirimu... kalau dukamu masih belum bisa kau pulihkan, akan sulit untuk membantu Ridho," Salsa, sahabat terbaik Airi yang merupakan seorang Psikolog Anak mengusap punggung Airi. Dipeluknya Airi erat.

Sejak umur 2 tahun, Ridho ditangani oleh Salsa. Kemajuan Ridho berkembang pesat, ia sudah bisa berkomunikasi walaupun tidak sesempurna anak normal. Kemampuan nya dalam exact dan sains memang lemah, tapi Salsa mengatakan Ridho punya bakat dalam melukis. Beberapa kali Ridho memenangkan kejuaran melukis seusianya. namun itu tidak membuat Airi lega, Ayah Ibu dan Arya, ayah dari anak itu begitu dirindukannya.

"Maa.. maaa..." tiba-tiba Ridho berteriak. Airi buru-buru menyeka air matanya dan menghampiri Ridho.
"Kenapa sayang." Ridho terlihat cemberut, wajah dan tubuhnya penuh lumpur. Airi tersenyum lalu mengusap wajah anak kesayangannya itu.
"Tak apa-apa nanti kita mandi."
"Maa... nangis?" Ridho membelolokkan matanya pada Airi. sepertinya anak itu tahu kalau Airi baru saja menangis. Airi menggeleng, lalu membawa anaknya itu masuk. Hujan baru saja berhenti dan sinar matahari mulai menerangi rumah mereka.
"Maaa...."
"Apa sayang?"
"Rainbow." Ridho lompat-lompat kegirangan. Airi tertawa menahan tangisnya.
"Dimana?"
"Tuh.. tuh..." Ridho tertawa sambil menunjuk mata Airi yang  berair dan menyemburatkan spektrum warna yang oleh Ridho disangka pelangi. Airi tersenyum lalu terisak sembari memeluk Ridho.


***
Malam ini Airi terbangun lalu mengambil mukenah putihnya yang tersimpan rapi di sebuah lemari berdebu. jam dinding masih menunjukkan pukul dua. Airi merasa begitu asing saat ia mulai mengangkat tangannya dan mengucapkan takbir. Dadanya berguncang hebat, ada kerinduan yang menjalari seluruh tubuhnya. Ia mungkin telah terlalu jauh hingga harinya seringkali merasa hampa. Tangisnya tak juga berhenti hingga ia menuntaskan tahajudnya dengan zikir dan doa. Ada hangat yang perlahan menyusup dan membuatnya lebih merasa tenang. Sudah berapa kali Salsa menganjurkan untuk kembali dekat dengan Sang Pencipta, Allah yang Maha Baik. tak akan pernah meninggalkan hamba-Nya bahkan saat kita lalai dan lupa. 
"Ikhlaskan, berzikirlah, berdo'alah padaNya, itu kan jadi terapi duka yang ampuh Airi. Bagaimana mungkin Allah meninggalkan hamba yang senantiasa mengingat-Nya," Airi baru mengerti itu malam ini. 

Ridho masih tertidur pulas, wajah anak itu mengingatkannya pada Arya, lelaki yang sangat ia cintai namun cinta mereka berujung pada pelabuhan yang salah. Ah, masa lalu itu memang menyakitkan, tapi Airi meyakinkan dirinya bahwa ia tidak ingin merugi untuk kedua kalinya. Sudah cukup dosa yang ia perbuat, dan ia ingin mencoba menata hidupnya lagi, untuk dirinya, untuk Ridho.

"Ma..." Entah kenapa tiba-tiba Ridho terbangun. Bingkai foto Arya, Ayahnya masih dipeluknya erat. 
"Kenapa sayang? mau Ma baca cerita lagi?" Ridho diam tanpa ekspresi. Airi sedikit kebingungan, karena biasanya Ridho suka terbangun malam dan pasti ingin dibacakan cerita teladan. Ridho suka tersenyum-senyum sendiri atau kadang diam kebingungan memaknai cerita teladan yang dibacakan Airi. Namun tidak kali ini, Ridho diam dan memandangi foto ayahnya yang sedang tersenyum dibawah menara Eifel.

"A..yah..!" Ridho mengeja dengan terbata-bata, matanya berbinar penuh kerinduan. Airi mengangguk lesu lalu memeluk Ridho, mengusap wajahnya agar ia segera tidur.

***
"Airi kamu yakin?" Salsa terlihat cemas mendengar apa yang baru saja dikatakan Airi. Airi malah tersenyum dan mengangguk yakin.
"Ini jadi pertaruhan terakhirku Sa, apapun nanti reaksi Arya akan aku terima, dia hanya perlu melihat Ridho begitupun sebaliknya." Salsa mengangguk pilu, dipeluknya sahabatnya itu memberikan semangat.
"Kebetulan salah satu maskapai penerbangan sedang ada promo Sa, memang sih ini pertamakalinya tapi aku yakin kok aku  pasti bisa, dulu kan kita sering "ngebolang" bareng Sa,"
"Haa yaa ya,, sayang aku nggak bisa ikutan Airi, harusnya kita bisa jadi backpacker keren disana, wish you luck dear."

***

Airi baru saja tiba di Paris Charles de Gaull, begitu banyak orang yang asing di matanya lalu lalang dari berbagai arah. Airi memilih untuk segera pergi dari tempat itu dan menemui seseorang yang telah lama ia rindukan.
---

Kota ini seolah telah lama Airi kenal, Airi mengitari seluruh sudut menara Eifel, mencoba merekam tempat ini di matanya juga dihatinya. Telah satu jam ia dan Ridho duduk dan menanti. Namun tak ada juga tanda-tanda Arya akan datang.

Airi menarik nafas panjang,
"Ridho," dipanggilnya Ridho dan menggenggam tangannya.
"Kita makan dulu." Ridho mengangguk pelan dan mengikuti Ibunya.

"Airi," baru saja mereka ingin beranjak, sebuah suara berat memanggil dari kejauhan. Airi memalingkan wajahnya, dan seorang lelaki yang begitu ia kenal mendekat. Lelaki itu datang bersama seorang perempuan yang menggendong bayi mungil.

Ada sesak yang kini terasa, Airi mencoba menarik nafas dalam-dalam dan berusaha untuk tenang. Wanita yang bersama Arya itu menyalaminya.

"Ini istriku," Airi tersenyum pilu, lalu meminta Ridho untuk menyalami Arya dan wanita itu. 
Pertemuan itu hanya berlangsung sepuluh menit hingga Airi memutuskan untuk pergi.

"A..yah..!" Ridho mengguncang-guncang tangan Airi.
"Iya, ayah," Ridho meloncat-loncat kegirangan dan memeluk Airi sambil melambai lambaikan tangannya pada ayahnya yang tampak semakin mengecil dari kejauhan.

"Aku lega," Airi mengirim pesan singkat pada Salsa yang kini terdiam di ruang prakteknya. Diusapnya air mata yang tak kunjung berhenti. Bersatu dengan tawa riang ridho yang melihat pelangi di mata Airi untuk kedua kalinya. Pelangi yang terpancar kata sinar matahari menembus masuk air matanya.

*the end



Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway ke-2 Duta Buku IDN

mohon masukannya ya ^_^

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images