Pelangi di Mata Airi

10:58:00 AM

Airi merekatkan kancing jaketnya hingga ke leher, hujan yang turun sejak subuh membuat udara dingin begitu kentara hingga ke pori-pori kulit. Begitu pun dengan pagi ini, langit kelabu menjadi pembuka hari yang menurut Airi sama kelabunya. Titik-titik air  yang harusnya di anggap Airi sebagai anugrah itu malah membuatnya terus mengumpat kesal. Banyak hal yang berubah dari Airi sejak 6 tahun yang lalu, ia bukan lagi Airi yang penuh mimpi dan ambisi, bukan lagi Airi yang percaya diri dan dekat dengan Tuhannya.

Suara gemiricik air menjentik kaca jendela tepat dimana kini ia memandang hampa ke luar. Wajah anak kecil yang tertawa sembari memainkan lumpur genangan air di luar sana membuatnya meringis. Wajah anak lelaki itu begitu polos dan ceria, badannya penuh dengan gumpalan-gumpalan lemak hingga ia susah untuk bergerak, matanya sipit namun liar, sesekali anak yang bernama Ridho ini mengusap iler yang menetes di sekitar mulutnya.

Airi tersenyum lalu terdiam, begitulah yang selalu terjadi jika ia memperhatikan wajah Ridho. Anak lelaki satu-satunya dan juga keluarga satu-satunya Airi. Tidak ada yang salah dari anak berkebutuhan khusus itu, yang salah hanyalah masa lalu dan ketidakterimaan orang tua Airi akan dosa yang tak pernah ia inginkan.

"Ini kutukan, ini murka Allah. anak haram ini cacat Airi... !" 4 tahun yang lalu, Airi terisak menggendong wajah polos tanpa dosa, Ridho dua tahun hanya menangis ketakutan melihat murka kakek dan neneknya. Dada Airi sesak lalu memutuskan untuk menjauh, pergi bersama perih yang tak terbendung.

"Dia tergolong anak berkebutuhan khusus Airi, dan harus ditangani secara khusus. Aku bisa membantumu, mungkin tidak ada salahnya untuk sementara Ridho home schooling dulu, karena agak susah mencari sekolah yang tepat untuk Ridho di daerah ini. Dan yang terpenting Airi, kuatkan dirimu... kalau dukamu masih belum bisa kau pulihkan, akan sulit untuk membantu Ridho," Salsa, sahabat terbaik Airi yang merupakan seorang Psikolog Anak mengusap punggung Airi. Dipeluknya Airi erat.

Sejak umur 2 tahun, Ridho ditangani oleh Salsa. Kemajuan Ridho berkembang pesat, ia sudah bisa berkomunikasi walaupun tidak sesempurna anak normal. Kemampuan nya dalam exact dan sains memang lemah, tapi Salsa mengatakan Ridho punya bakat dalam melukis. Beberapa kali Ridho memenangkan kejuaran melukis seusianya. namun itu tidak membuat Airi lega, Ayah Ibu dan Arya, ayah dari anak itu begitu dirindukannya.

"Maa.. maaa..." tiba-tiba Ridho berteriak. Airi buru-buru menyeka air matanya dan menghampiri Ridho.
"Kenapa sayang." Ridho terlihat cemberut, wajah dan tubuhnya penuh lumpur. Airi tersenyum lalu mengusap wajah anak kesayangannya itu.
"Tak apa-apa nanti kita mandi."
"Maa... nangis?" Ridho membelolokkan matanya pada Airi. sepertinya anak itu tahu kalau Airi baru saja menangis. Airi menggeleng, lalu membawa anaknya itu masuk. Hujan baru saja berhenti dan sinar matahari mulai menerangi rumah mereka.
"Maaa...."
"Apa sayang?"
"Rainbow." Ridho lompat-lompat kegirangan. Airi tertawa menahan tangisnya.
"Dimana?"
"Tuh.. tuh..." Ridho tertawa sambil menunjuk mata Airi yang  berair dan menyemburatkan spektrum warna yang oleh Ridho disangka pelangi. Airi tersenyum lalu terisak sembari memeluk Ridho.


***
Malam ini Airi terbangun lalu mengambil mukenah putihnya yang tersimpan rapi di sebuah lemari berdebu. jam dinding masih menunjukkan pukul dua. Airi merasa begitu asing saat ia mulai mengangkat tangannya dan mengucapkan takbir. Dadanya berguncang hebat, ada kerinduan yang menjalari seluruh tubuhnya. Ia mungkin telah terlalu jauh hingga harinya seringkali merasa hampa. Tangisnya tak juga berhenti hingga ia menuntaskan tahajudnya dengan zikir dan doa. Ada hangat yang perlahan menyusup dan membuatnya lebih merasa tenang. Sudah berapa kali Salsa menganjurkan untuk kembali dekat dengan Sang Pencipta, Allah yang Maha Baik. tak akan pernah meninggalkan hamba-Nya bahkan saat kita lalai dan lupa. 
"Ikhlaskan, berzikirlah, berdo'alah padaNya, itu kan jadi terapi duka yang ampuh Airi. Bagaimana mungkin Allah meninggalkan hamba yang senantiasa mengingat-Nya," Airi baru mengerti itu malam ini. 

Ridho masih tertidur pulas, wajah anak itu mengingatkannya pada Arya, lelaki yang sangat ia cintai namun cinta mereka berujung pada pelabuhan yang salah. Ah, masa lalu itu memang menyakitkan, tapi Airi meyakinkan dirinya bahwa ia tidak ingin merugi untuk kedua kalinya. Sudah cukup dosa yang ia perbuat, dan ia ingin mencoba menata hidupnya lagi, untuk dirinya, untuk Ridho.

"Ma..." Entah kenapa tiba-tiba Ridho terbangun. Bingkai foto Arya, Ayahnya masih dipeluknya erat. 
"Kenapa sayang? mau Ma baca cerita lagi?" Ridho diam tanpa ekspresi. Airi sedikit kebingungan, karena biasanya Ridho suka terbangun malam dan pasti ingin dibacakan cerita teladan. Ridho suka tersenyum-senyum sendiri atau kadang diam kebingungan memaknai cerita teladan yang dibacakan Airi. Namun tidak kali ini, Ridho diam dan memandangi foto ayahnya yang sedang tersenyum dibawah menara Eifel.

"A..yah..!" Ridho mengeja dengan terbata-bata, matanya berbinar penuh kerinduan. Airi mengangguk lesu lalu memeluk Ridho, mengusap wajahnya agar ia segera tidur.

***
"Airi kamu yakin?" Salsa terlihat cemas mendengar apa yang baru saja dikatakan Airi. Airi malah tersenyum dan mengangguk yakin.
"Ini jadi pertaruhan terakhirku Sa, apapun nanti reaksi Arya akan aku terima, dia hanya perlu melihat Ridho begitupun sebaliknya." Salsa mengangguk pilu, dipeluknya sahabatnya itu memberikan semangat.
"Kebetulan salah satu maskapai penerbangan sedang ada promo Sa, memang sih ini pertamakalinya tapi aku yakin kok aku  pasti bisa, dulu kan kita sering "ngebolang" bareng Sa,"
"Haa yaa ya,, sayang aku nggak bisa ikutan Airi, harusnya kita bisa jadi backpacker keren disana, wish you luck dear."

***

Airi baru saja tiba di Paris Charles de Gaull, begitu banyak orang yang asing di matanya lalu lalang dari berbagai arah. Airi memilih untuk segera pergi dari tempat itu dan menemui seseorang yang telah lama ia rindukan.
---

Kota ini seolah telah lama Airi kenal, Airi mengitari seluruh sudut menara Eifel, mencoba merekam tempat ini di matanya juga dihatinya. Telah satu jam ia dan Ridho duduk dan menanti. Namun tak ada juga tanda-tanda Arya akan datang.

Airi menarik nafas panjang,
"Ridho," dipanggilnya Ridho dan menggenggam tangannya.
"Kita makan dulu." Ridho mengangguk pelan dan mengikuti Ibunya.

"Airi," baru saja mereka ingin beranjak, sebuah suara berat memanggil dari kejauhan. Airi memalingkan wajahnya, dan seorang lelaki yang begitu ia kenal mendekat. Lelaki itu datang bersama seorang perempuan yang menggendong bayi mungil.

Ada sesak yang kini terasa, Airi mencoba menarik nafas dalam-dalam dan berusaha untuk tenang. Wanita yang bersama Arya itu menyalaminya.

"Ini istriku," Airi tersenyum pilu, lalu meminta Ridho untuk menyalami Arya dan wanita itu. 
Pertemuan itu hanya berlangsung sepuluh menit hingga Airi memutuskan untuk pergi.

"A..yah..!" Ridho mengguncang-guncang tangan Airi.
"Iya, ayah," Ridho meloncat-loncat kegirangan dan memeluk Airi sambil melambai lambaikan tangannya pada ayahnya yang tampak semakin mengecil dari kejauhan.

"Aku lega," Airi mengirim pesan singkat pada Salsa yang kini terdiam di ruang prakteknya. Diusapnya air mata yang tak kunjung berhenti. Bersatu dengan tawa riang ridho yang melihat pelangi di mata Airi untuk kedua kalinya. Pelangi yang terpancar kata sinar matahari menembus masuk air matanya.

*the end



Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway ke-2 Duta Buku IDN

mohon masukannya ya ^_^

You Might Also Like

8 komentar

  1. JD IKUT berlinang membayangkan 'pelangi' dimata Airi..membayangkan Ridho yg memanggil Ayah yg sosoknya semakin mengecil...:(

    ReplyDelete
  2. Kasihan Ridho... :)
    Gudlak ngontesnya ya... :D

    ReplyDelete
  3. ridho mengenali ayahnya ya. smeoga sukses ya dikontesny

    ReplyDelete
  4. terus, kok ga bilang ya, sama si Ayah... kasihan Ridho.. hiks hiks. *ikutan dounk ke Parissss

    ReplyDelete
  5. Dan sekarang hujannya jadi pindah di wajah saya ...
    sukses y mbak bwt kontesnya

    ReplyDelete
  6. Kasian Ridhonya.....

    Sukses kontesnya ya Mbak...

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images