Follow Us @riafasha

Monday, November 12, 2012

Untold Message


Kubuka lembar diari berwarna biru yang sudah lusuh berdebu. Malam ini entah kenapa, ingin sekali kukenang perjalanan lalu yang mengajarkan sebuah arti penantian demi menunggu seseorang yang tak pernah lekang dari ingatanku walau jejaknya kukubur dalam-dalam. Seperti luka yang tak kunjung sembuh, seperti itu juga memori indah yang kusimpan dalam-dalam pada kotak bernama hati. Perih dan rindu bergerumul melumatkan benci yang menggoyah hingga bertahun lamanya.

Telah kucoba untuk melawan hari bersama sepi yang menghujam hingga titik nadir. Namun penantian masih saja memaksaku untuk membawanya dalam tiap detik yang hampir saja kehilangan nyawa. Jika hujan turun bersama hangatnya yang dirindukan, tubuhku seringkali menggigil mengingat semuanya. Pertamanya saat rasa itu ada, hingga akhirnya harus kandas disaat aku sedang benar-benar memuainya.

“Tak ada alasan, aku hanya ingin berpisah,” masih jelas ingatanku kalimat terakhir Bryan saat itu. Kotak yang berisi kue ulang tahun untuknya perlahan lepas dari tanganku. Hancur tepat di depannya, dan ia masih bersikap dingin. Tak peduli air mataku mengalir dan tangisku pecah berlomba dengan suara gemuruh di luar sana.

Mungkin ini terlihat berlebihan saat aku harus mengakui bahwa aku benar-benar hancur jika harus kehilangannya. Tapi inilah kenyataan yang memang saat ini kuhadapi, Bryan adalah satu-satunya harapanku untuk bertahan setelah ayah dan ibu meninggalkanku sejak kecil. Ia lebih dari saudara, lebih dari kekasih bahkan seorang saudara.

“Kau hanya perlu mandiri, toh selama ini aku hanya menganggapmu sebagai adik kecilku, tidak lebih dari itu.” It’s over. Mimpi yang kubangun bertahun-tahun sejak mengenalnya tiba-tiba saja hampa. Tangis kutahan dalam isak yang menyedihkan, mundur perlahan dari hadapannya dan membiarkan hujan meredam segalanya. Butir sejuk yang kini turun dari langit harusnya bisa kunikmati dengan bersyukur ataupun menyelami imajinasiku dalam sebuah tulisan. Namun isak lebih mendominasi. Hujan membasahiku dengan isak tertahan, tubuhku menggigil, bukan karena dinginnya hujan namun lebih karena melihat bayang Bryan dari kejauhan yang tak sedikitpun peduli apa yang kini kualami.





Andai waktu bisa kuputar kembali, tepat saat pertama kali pertemuanku dengannya. It has been 10 years ago. Aku duduk disebuah ayunan kayu dan mencoba menggerakkan badanku agar ayunan itu bisa membuatku melayang seperti terbang. Berkali-kali kucoba namun yang kudapati tubuhku kaku dan ayunan itu hanya bergerak seadanya. Tiba-tiba dari kejauhan segerombolan anak lelaki membawa beberapa kantong plastik yang berisi air berbagai warna. Mereka tersenyum geli melihatku, lalu berdiri mengelilingiku. Aku menunduk takut, lalu berdo’a agar mereka segera pergi dari hadapanku.


“Hei anak aneh, mau menolong kami?” kuperhatikan wajah mereka satu persatu. Permintaan yang mencurigakan menurutku, wajah mereka tak memperlihatkan mereka butuh bantuanku. Karena takut, aku mengangguk. Lalu satu di antara mereka melemparkan kantong plastic berisi air warna biru ke bajuku. Aku mengerang!

“Kami hanya ingin mencoba lemparan jitu kami yang baru, dan kamu beruntung karena jadi sasarannya. Hahahaa….” Salah satu anak berbadan tambun tertawa terbahak-bahak hingga perutnya berguncang. Aku menangis tertahan, tubuhku gemetaran ketakutan. Banyak hal yang tak bisa kumengerti mengapa mereka harus menjahiliku, padahal aku sama sekali tak pernah menjahati mereka.

“Mau lagi?” anak lainnya yang berkulit hitam mendorongku dari ayunan hingga tersungkur di tanah. Aku kembali menangis, kali ini hingga tak bersuara.

“Hei hentikan!” dari balik pohon Mangga, seorang anak berbadan pendek dan berambut ikal berteriak ke arah kami. Mukanya merah padam, matanya tajam seperti elang, dan kini ditangannya telah siap sebuah ketapel kayu yang berisi batu-batu kerikil.

“Pergi. Jangan ganggu! Atau aku tembak kalian dengan ketapel!” tiga anak laki-laki yang menggangguku malah tertawa terpingkal-pingkal. Didekatinya si pahlawan ketapel itu, dan aku meringis melihat apa yang akhirnya terjadi, tubuh anak yang ingin menolongku itu penuh luka akibat pukulan tiga anak jahat yang kini berlalu dengan tawa yang menjijikkan. Aku menangis memperhatikan darah yang mengalir dari bibirnya, wajahnya yang putih mulus akan penuh bekas luka karena ini.

“Hei sudahlah, jadi perempuan tidak perlu cengeng. Aku sudah biasa seperti ini, lebih baik kau panggilkan Ibu Penjaga Panti untuk mengobati lukaku,” aku mengangguk dan berlari ke Panti Asuhan Kasih Ibu, tempat dimana aku dibesarkan. Tak perlu waktu lama, Ibu Aisyah datang tergopoh-gopoh. Mengangkat tubuh mungil pahlawan ketapel yang akhirnya kuketahui namanya. Bryan, Bryan Nugraha. Nama yang menurutku sangat aneh.

Dan sepuluh tahun pula, Bryan mengisi hari-hariku. Menghadiahkan sebuah rumah pohon di belakang panti sebagai hadiah ulang tahunku. Rumah pohon itu dibuatnya dengan meminta pertolongan Mang Komar, orang yang mengabdikan dirinya untuk Panti Asuhan Kasih Ibu. Saat itu aku memeluknya erat, seperti ia adalah kakak lelaki tertuaku. Di rumah yang kami sebut, Rainbow House itu pula kami merajut berjuta mimpi masa depan. Saling mendukung hingga aku tak lagi merasa sendiri hidup tanpa siapapun di dunia ini.

Angan yang ia hadirkan untukku begitu kusyukuri, walaupun saat ia pergi aku rapuh hingga berhari-hari. Tapi itu sudah berlalu sejak setahun yang lalu. Kini, aku mengerti mengapa ia biarkan aku sendiri melalui hari tanpanya. Merajut mimpiku sendiri tanpa bergantung padanya.

“Tetap bersama ku kan Bryan,” masih kuingat permintaanku padanya.

“Tentu saja tidak, suatu saat nanti kita akan punya kehidupan masing-masing. Aku dan kehidupanku dan kau dengan kehidupanmu Rani”

“Tidak, kehidupanku kan kamu,” aku terkekeh tanpa mempedulikan apa yang dipikirkan Bryan saat itu.

Andai waktu bisa kuputar kembali, aku tidak akan mengumpat ataupun menangis saat Bryan meninggalkanku. Aku akan tersenyum, memeluknya dan mengucapkan terimakasih bahwa aku akan baik-baik saja dan menemuinya suatu saat nanti dengan diriku yang baru. Meminta alamat dimana dia akan pindah, dan mungkin sesekali mengunjunginya.

Andai waktu bisa kuputar kembali, aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya bukan sebagai saudara laki-lakiku, lebih dari itu. Dan akan berdo’a untuk kebahagiannya bahkan jika perempuan yang akan mendampingi hidupnya bukanlah aku.

Ku tutup lembar diary biru yang penuh dengan potretku dan Bryan. Tersenyum lalu melelehkan air mata haru. Terimakasih Bryan untuk kenangan dan pelajaran berharga dalam hidupku.

Sayup-sayup suara laptopku terdengar, bunyi bip-bip menandakan ada email masuk. Kubuka inbox dari email seseorang yang tak kukenal.

    Dear Rani,

    Jam 2 nanti aku tiba di Indonesia, tunggu aku di Bandara ya. Banyak hal yang ingin kuutarakan setelah lama meninggalkanmu. Argh, aku tak sabar mengatakannya. I wanna marry you, won't you? :) datanglah dengan senyummu.

    From: Bryan yang mencintaimu



Aku tergagu,

                     lalu berlari menujumu.

5 comments:

  1. hehehehe syukurlah endingnya bahagia :')

    ReplyDelete
  2. weih, awalnya nyesek bacanya..
    dan ternyata ujungnya seperti itu :)
    keren :)

    ReplyDelete
  3. happy ending ..... :D
    I wanna marry you, won't you? pasti jadi moment2 yang sangat membahagiakan ... ah, jd bayangin ...

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)