Follow Us @riafasha

Tuesday, January 21, 2014

#1Hari1Ayat - Women and Islam


Pagi tadi nonton acara Pengajian Aa dan Mama Dede di salah satu stasiun televisi. Temanya tentang Perempuan. Diceritakan bahwa berbeda sekali pandangan orang terhadap kaum perempuan sebelum dan setelah datangnya Islam. Pada masa pra-Islam, wanita diperlakukan tidak adil. Bahkan wanita tidak berharga di dalam masyarakat. Akan tetapi setelah turunnya Al-Quran, wanita diposisikan secara adil. Begitupun di mata Allah, perempuan dan lelaki sama saja yang membuat mereka mulia di sisi Allah adalah keimanannya.

Mama Dedeh menyampaikan dulu di zaman Yunani Kuno, wanita dianggap sebagai barang yang bisa diperjual belikan , tempat pelampiasan nafsu yang tidak berarti apa-apa. Bahkan ketika memiliki seorang anak perempuan, maka itu dikatakan aib.  Saya juga pernah baca orang-orang Cina menyamakan wanita dengan air penyakit yang membasuh kebahagiaan dan harta. Seorang yang berkebangsaan Cina berhak menjual istrinya sebagaimana budak perempuan. Apabila seorang perempuan Cina menjadi janda, maka keluarga mendiang suaminya berhak atas dirinya. Jadi, ia seperti barang peninggalan yang bisa diwarisi. Bahkan seorang suami berhak mengubur istrinya hidup-hidup. Sedangkan di persia  mereka menganggap, seseorang boleh saja menikahi ibunya sendiri, saudara perempuan kandung, tante, bibi, keponakannya, dan muhrim-muhrimnya yang lain.

Nah, sedangkan di Arab, wanita Arab jahiliah dan pra-Islam sangat tertindas dan terpinggirkan. Lahirnya seorang anak perempuan dianggap aib dan mendatangkan sial. Bagi seorang suami merupakan aib jika istrinya sampai melahirkan anak perempuan. Ia akan berusaha menghindar dari khalayak ramai dan mengubur si anak. Anak yang dibunuh dengan cara kejam itu dinamakan al-mau’udah (yang dikubur hidup-hidup). Allah SWT melukiskan perbuatan kejam ini dengan satu ilustrasi menarik disertai celaan terhadapnya:

 
Apabila salah seorang di antara mereka diberitahu tentang (lahirnya) seorang anak perempuan, merah padamlah wajahnya menahan amarah. Dia bersembunyi dari kaumnya, karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah putrinya itu akan dipertahankan dengan menanggung kehinaan atau (lebih baik) dikuburkannya ke dalam tanah. Ketahuilah, sungguh buruk putusan mereka itu.” (Q.S. an-Nahl [16]: 58-59)

Setelah kedatangan Islam, tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup dihapuskan. Dalam Islam, pelaku kebiasaan tersebut bertanggung jawab terhadap kejahatan yang dilakukannya. Turunnya Al-Quran tidak hanya memengaruhi kondisi wanita Arab. Tetapi, pengaruhnya juga meliputi wanita Eropa.

Tak satu pun yang membantah bahwa Spanyol sangat dipengaruhi peradaban Islam. Pengaruh tersebut menjadi topic menarik yang dikaji kalangan penulis dan orientalis. Di antaranya adalah seperti yang ditulis oleh orientalis Rusia, Kratsovieski, dalam bukunya yang berjudul Asbania al-Muslimah. Dalam buku tersebut, ia menyinggung tingginya kedudukan wanita Spanyol setelah masyarakatnya dipengaruhi tradisi Arab yang pada dasarnya terinspirasi pesan Al-Quran.

Subhanllah, saya nggak kebayang kalau kedudukan kaum perempuan sama kayak dulu sebelum Islam datang. Mana bisa kita berkarya seperti sekarang. Namun kebebasan yang ada kadang membuat kaum perempuan lalai akan kewajibannya sebagai perempuan, keluarga ditinggalkan demi karir. Padahal pahala yang sangat besar jika seorang perempuan bisa menjalankan kewajibannya dengan baik dan menjadi madrasah bagi anak-anaknya :)

1 comment:

  1. merinding juga baca ini mbk,g kebayang ya...bener2 ditindas :(..mksh ilmunya^^

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)