Diko dan Negeri Pampara

4:09:00 PM

Di Kampung Durian, tinggallah Keluarga Pak Stave yang kaya raya. Mereka pindah dari Kota Jakarta ke kampung Durian karena ingin hidup dengan nyaman. Walaupun Pak Stave kaya, ia begitu pemurah dan baik hati.. Namun, anaknya yang bernama Diko sangat sombong dan jahat. Diko sering mengejek anak-anak kampung rambutan yang menurutnya miskin dan bau. Diko juga termasuk anak yang boros, barang-barang yang dibelikan ayahnya hanya ia gunakan selama seminggu, setelah itu barang-barang itu dibuang ke gudang.
“Den Diko, boleh tidak sepeda yang den Diko buang ke gudang, mbok Nah berikan pada anak mbok, dia ingin sekali punya sepeda,” Tanya Mbok Nah suatu kali.
“Tidak boleh! Itu barang-barangku, tidak ada yang boleh mengambilnya, Mbok Nah bisa kumpulkan sendiri uang untuk membelinya, makanya jangan jadi orang miskin!” sedih sekali Mbok Nah mendengar jawaban dari Diko. Begitu juga dengan Karyo, anak mbok Nah yang ingin sekali punya sepeda, tapi ia tak punya uang untuk membelinya.
“Kalau begitu bolehkah aku pinjam mainan mu sebentar saja Diko,” Tanya karyo ragu.
Diko dengan rasa tidak bersalah, lalu menghidupkan play station nya dan bermain hingga tak tahu waktu. Tiba-tiba Diko kaget karena lampu di rumahnya padam. Diko berteriak histeris karena ketakutan. Ia tidak bisa membuka pintu kamarnya. Perlahan, ada sebuah cahaya yang muncul dari gudang penyimpanan mainan nya di kamar. Semua mainannya itu bergerak dan memanggil namanya…
“Papa,, Mama… tolong….” Diko begitu ketakutan saat melihat salah satu sepeda yang ia buang di gudang berputar putar mengelilinginya. “Diko… kau jahat dan sombong… kau harus diberi pelajaran,” ucap salah satu handphone yang juga mengelilingi Diko. Lalu Diko tak sadarkan diri.
Kepala Diko terasa berat saat ia membuka mata. Diko kaget bukan kepalang menyadari ia sedang terbaring di sebuah gudang yang bau dan apek. Baju yang Diko kenakan juga bukan baju bagus lagi, tapi baju compang camping. Ia tampak kurus dan menyedihkan.
“Aku dimana!” teriak Diko ketakutan, perutnya pun terasa lapar.
“Hahaa… kamu sekarang ada di Negeri Pampara,” sebuah suara mengejutkan Diko.
“Sii..siapa kamu… kenapa sepeda bisa bicara?” Tanya Diko.
“Sudah kubilang kau sekarang ada di Negeri Pampara, ayo ikut denganku…” jawab sepeda itu.
“Tidak mau.. aku tidak mau menaiki sepeda jelek sepertimu,” 
“Ha! Kau lihat dirimu anak kecil… kau lebih jelek dariku, di dunia ini kau adalah orang paling miskin, jadi jangan berani sombong!” Dengan terpaksa ia mengikuti sepeda itu .Diko melewati sebuah ruangan yang begitu bagus, ruangan yang dilapisi kaca itu dipenuhi oleh alat-alat yang sepertinya sangat canggih dan tidak pernah Diko lihat sebelumnya.
“Alat-alat apa itu sepeda,” Tanya Diko penasaran.
“Itu adalah mesin fotocopy translator, jadi kalau kita memfotocopy kertas bertuliskan bahasa inggris, tinggal tekan tombol yang bewarna kuning untuk menjadikannya bahasa Indonesia,” jawab sepeda dengan tenang.
“Kalau yang itu apa,” Diko kagum sekali melihat dua orang anak yang berbicara melalui kaca, setelah ditanyakan pada Sepeda ternyata anak-anak itu berasal dari Negara yang berbeda. Ketika anak dari negeri India menuliskan bahasa india di kaca, anak dari Indonesia akan langsung tahu artinya karena tulisan di kaca yang tampak oleh anak dari Indonesia adalah Bahasa Indonesia.
“Wahh hebat sekali… bisakah aku membelinya,”
“Heh,, anak kecil, sudah ku bilang kau orang paling miskin disini, bisa makan saja mujur,” Diko kembali tertunduk sedih, mengingat semua perlakuannya terhadap Karyo.
“sekarang aku mau dibawa kemana?”
“Kau akan di daur ulang,!”
“Apa di daur ulang! Emangnya aku ini barang rongsokan apa!” teriak Diko.
“Ia di negeri Pampara kau adalah manusia rongsokan yang harus diperbaiki, supaya sikapmu tidak sombong lagi, kau akan dimasukkan ke dalam mesin, dan kau akan diperbaiki,” 
“Tidak….. aku tidak mau…” Diko turun dari sepeda lalu berlari menjauhi sepeda. Ia sangat takut jika harus mengalami nasib seperti barang-barang rongsokan yang di daur ulang. Pasti rasanya sangat sakit. “Bisa-bisa aku mati,” ungkap Diko dalam hati.
Diko berlari sekuat mungkin melewati lorong-lorong yang tak ia kenali. Tiba-tiba… bruk….Diko menabrak seseorang….
“Ka… karyo…” Diko gelagapan melihat Karyo mengenakan pakaian bak seorang Raja.
“Siapa kamu! Kau pasti gelandangan yang di kerajaanku,” jawab anak yang mirip Karyo itu.
“Karyo… ini Diko… tolong aku…” Diko menangis meminta pertolongan.
“Siapa karyo? Aku Raja Pikuru , Raja negeri Pampara, cepat keluar dari kerajaanku, atau kau akan ku penjarakan,” 
“Maaf… maafkan aku… aku berjanji tidak akan jahat dan sombong lagi.. aku janji…” tangis Diko semakin kencang. Ia tak menyangka, Karyo yang ia hina sekarang menjadi Raja di sebuah negeri yang sangat hebat dan canggih.
“Memangnya kesalahan apa yang telah kau lakukan…!” Tanya Raja Pikuru.
“Aku telah jahat dan sombong pada teman-temanku, dan aku juga membuang mainanku yang masih bisa digunakan. Aku sangat menyesal, dan aku tidak tahu kenapa aku bisa tersesat ke negeri pampara ini!” Karyo tersenyum, lalu mengangkat Diko dari duduknya.
“Ayo ikut denganku,”
Diko diajak oleh Karyo untuk menaiki sebuah petakan kaca. Hanya dengan menekan sebuah tombol di Kaca itu, Diko dan Karyo melesat seperti menaiki sebuah pesawat. Diko diajak mengelilingi negeri Pampara. Negeri itu sangat makmur dan canggih.
Walaupun negeri itu penuh dengan alat-alat teknologi, tapi rakyatnya tetap melestarikan alam. Setiap rumah pasti setidaknya menanam dua pohon, sehingga negeri Pampara begitu sejuk dan asri. Diko juga diajak ke pusat teknologi Negeri Pampara, disana mereka mengolah bahan-bahan bekas untuk menjadi barang yang lebih bagus, sehingga sampah tidak ada yang sia-sia.
“Wah hebat sekali, bagaimana ini bisa dilakukan, sampah plastic bisa dijadikan tas, souvenir, hebat sekali…” berkali-kali Diko berdecak kagum melihat setiap sisi negeri pampara.
“Ia, karena rakyat kami selalu memanfaatkan semua yang ada biar tidak sia-sia, semua barang-barang itu walaupun mereka benda mati, tapi kita harus jaga dan rawat, kalau tidak kita sendiri yang akan rugi, selain itu rakyat negeri ini juga tidak sombong, karena masih ada negeri-negeri lain yang lebih hebat dan maju dari negeri ini”Jawab Raja Pikuru bijaksana.
“Iya Karyo aku sangat menyesal,”
“Karyo!” Raja Pikuru geleng-geleng kepala, lalu menekan tombol hijau di kaca yang membawa mereka terbang.
Tiba-tiba kepala Diko jadi pusing, ia tersentak… dan sekarang Diko sudah berada di kamarnya. Diko menangis menyadari kesalahannya. Lalu ia berlari menuju gudang penyimpanan mainanya. Dikeluarkannya semua mainan itu, dan dibawanya kepada Pak Usro, pembantu dirumahnya.
“Pak tolong dibersihkan semua mainan ini ya,” ungkap Diko
“Untuk apa Den?” Tanya Pak Usro kebingungan. Diko hanya tersenyum, lalu ia menyuruh Mbok Nah untuk memanggil karyo dan teman-teman Karyo yang lain.
“Silahkan kalian ambil mainan yang kalian mau, dan rawat dengan baik ya,” Diko tersenyum senang, karyo dan teman-temannya walaupun masih kebingungan akan perubahan sikap Diko mengucapkan terima kasih. Mereka sangat senang. Lalu memeluk Diko dengan haru. Diko juga jadi menangis menyesali kesalahannya. Dari kejauhan terlihat Raja Pikuru yang melambaikan tangannya. Diko pun tersenyum dan berjanji untuk merubah sifatnya. 


You Might Also Like

0 komentar

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images