Follow Us @riafasha

Tuesday, December 23, 2014

Wanita Penjaga Api

Orang-orang memanggilnya “elok”. Wanita itu hanya mengenakan kaos biasa dan celana pendek seadanya. Rambutnya yang mulai beruban dibiarkan begitu saja diikat ke belakang tanpa tersentuh pewarna. Berbedak tak sempat apalagi mengoleskan lipstik di bibirnya. Sebelum subuh tiba, ia sudah berjibaku dengan dinginnya angin yang menerpa kulitnya yang tak lagi kencang. Membiarkan tubuhnya menggigil demi mendapatkan dagangan yang akan ia jual kembali di warung depan rumahnya. Dia hanyalah penjual sayur di warung kelontongan rumah kami, mendidikasikan hidupnya demi keluarga. Dia Ibu saya, dari rahimnyalah saya lahir.

Puluhan tahun saya hidup dengannya, ia tetap sosok wanita galak yang suka mengomel. Seringkali mencubit saat saya melakukan kesalahan di masa kecil, jarang memuji walaupun banyak prestasi yang saya torehkan, memarahi saya jika tidak bisa menjaga adik dengan baik dan terlalu sibuk untuk sekedar membacakan dongeng jika saya ingin tidur dipelukannya. Namun dibalik itu dia adalah malaikat tanpa sayap. Penuh kebaikan, penuh motivasi.

Pendidikan Ibu hanya sebatas SMA, tapi ia adalah orang yang paling berjasa dimata ketujuh adiknya. Ia punya mimpi, adik-adiknya kelak akan menjadi orang sukses walau kakek hanyalah nelayan dan nenek hanya punya dagangan kecil-kecilan.

Mimpinya itu tidak dengan mudah ia jalani. Kakek selalu marah jika ibu bersekolah dan mengajak adik-adik yang lain untuk giat belajar. “Anak perempuan hanya akan jadi istri orang dan berakhir di dapur,” begitu ujar kakek mematahkan semangatnya. Namun Ibu bukanlah orang yang pantang menyerah, walau kakek tidak pernah memberikan uang sepeserpun untuk pendidikan, Ibu tetap menjaga api semangatnya untuk bersekolah agar bisa menjadi contoh untuk adik-adiknya kelak. Semua ia jalani demi uang untuk sekolah adik-adiknya, berjualan kacang di kereta api, membantu bongkar muat ikat di pelabuhan, hingga menjajakan kue keliling di panas terik pun ia lakoni.

Ibu mewujudkannya, mimpi-mimpi itu. Walau ia hanya bisa tamat SMA, ketujuh adiknya menamatkan sekolah bahkan hingga jenjang master. Mereka menjadi sukses dibidangnya.



No comments:

Post a Comment

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)