Follow Us @riafasha

Monday, March 2, 2015

Akila Dempo (I)

Hujan datang lagi. Mengguyur jalanan kota yang hampir gersang termakan matahari. Rintiknya menelurkan bermacam respon yang terbilang cukup aneh dari para mahasiswi. Ada yang mensyukuri karena artinya Pak Dosen tak kan hadir hari ini karena lebih memilih duduk di beranda rumahnya dengan secangkir kopi. Namun ada pula yang mengutuki karena make up menor yang menutupi ketidaksempurnaan wajahnya harus luntur dan belepotan. Seperti Picki yang sedari tadi mengeringkan rambutnya yang basah dan menata ulang riasan wajahnya.
“Bete deh, kenapa sih hujan terus November ini.” Ucapnya sambil mengoleskan lipstick di bibirnya yang sedikit dimajukan. Aku memperhatikannya. Lebih tepat dengan pandangan  tidak suka. Mulut bawelnya itu sudah memecahkan konsentrasiku untuk menamatkan Novel Please Look After Mom yang harusnya kuselesaikan.
“Kenapa sih liat-liat La? Nggak suka?” dia mulai sewot.
“Kamu yang kenapa? Ribet amat, cuma hujan juga.” Aku melotot sebelum akhirnya membalikkan tubuhku untuk melanjutkan lembar terakhir novel. Rasa penasaranku dengan akhir pencarian anak-anak Park Son You untuk menemukannya begitu menggebu dibanding harus mendengar ocehan Picki.  Rupanya wanita langsing dengan pakaian ketat itu tak bisa terima dengan sikap jutekku. Ia lalu berdiri didepanku, mengambil buku yang kubaca dan mengangkat buku itu tinggi-tinggi, hingga bulu ketiak halusnya hampir saja terlihat. Sontak saja aku tertawa terpingkal-pingkal yang membuatnya tambah emosi.
“Dasar cewek udik, orang marah malah diketawain!” iya membanting bukuku dan melambung ke lantai yang becek. Ku ambil buku bercover hijau itu perlahan dan kembali tertawa, kali ini dengan sedikit senyuman mengejek.
“Hahaa, yang udik itu siapa! Kenyataannya begini, kamu protes karena hari ini hujan, mau protes ke siapa? Mau protes sama Tuhan? Bersyukur donk hujan itu dikasih buat penyeimbang, kalau setiap hari kering terus, muka kamu yang putih itu juga bisa gosong tau. Kedua, kamu bener-bener udik karena…” aku menutup mulut menahan tawa.
“Apa?” muka Picki kini memerah.
“Aku bukan bermaksud untuk mempermalukan kamu loh, aku jujur nih, kamu ini pake baju ketat hampir kayak baju you can see tapi kok…”
“Tapi apa!” teriaknya.
“Tapi kok ketiak mu belum dicukur hahaha…” pernyataanku itu sontak membuat seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Picky yang awalnya emosi tiba-tiba diam menahan malu, lalu ia keluar dari kelas dan bisa kulihat ia meneteskan air mata.

Inilah aku Akila Dempo. Perempuan yang hampir tak bisa menjaga kata-kata. Entah karena keterbatasan kosakata atau karena tempramenku yang kasar dan urakan. Orang yang baru pertama kali melihatku, pasti tak ingin mengenal lebih jauh. Dan orang yang sudah mengenalku tak ingin bersahabat denganku. Bahkan orang yang sudah bersahabat denganku lebih memilih meninggalkanku.
bersambung

1 comment:

  1. Penasaran lanjutannya. Dibikin cerbung kirim ke majalah aja, che.

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)