Follow Us @riafasha

Wednesday, March 11, 2015

[Cerita Hijab Pertamaku] Menjemput Pelangi Hidayah

Sore ini sengaja aku duduk di beranda, menikmati luncuran kasih sayang Allah yang turun perlahan dengan kehangatan dan kesejukan untuk hamba-Nya yang senantiasa menanti rahmat dan hidayah. Aku tidak sendiri, segelas teh rosella hangat menemani dengan aroma khas yang menawarkan ketenangan. 

Hujan ini, aroma tanah basah juga teriakan bocah-bocah gang senggol membuatku tersenyum sembari menahan haru. Ada kerinduan yang menjalari ingatan tentang saat pertama rasa itu ada. Perasaan yang membuatku bertahan hingga sekarang sebagai pembuktian bagi-Nya. Bahwa hidayah-Nya begitu kusyukuri.

It has been 10 years ago

Aku duduk di sebuah bangku kayu mengamati kerumunan siswa SMA berseragam putih abu-abu dengan dandanan aneh yang membuat setiap orang yang melihatnya tergelitik sehingga ingin tertawa. Aku sengaja menyendiri, mengumpulkan sisa-sisa keberanianku untuk berbaur dengan wajah-wajah asing yang sama sekali tak kukenali.

Ya, hari ini adalah hari yang sebenarnya tidak pernah aku inginkan, Orientasi Siswa Baru. Pikiranku mulai membayangkan banyak hal aneh tentang hari ini, hingga dadaku berguncang hebat juga keringatku tak henti bercucuran.

“Diberitahukan kepada seluruh siswa baru harap berkumpul di aula.” Tiba-tiba mukaku memerah, ada ketakutan yang merasuk hingga sendi-sendiku rasa kaku. Sebagian siswa berlari terburu-buru dan aku pun akhirnya perlahan menuju aula sekolah yang cukup besar.

Semua terasa begitu cepat, aku telah bergabung bersama sekelompok siswa lainnya. Kami dibagi dalam kelompok yang berjumlah sepuluh orang dan diharuskan mencari tanda tangan kakak kelas yang sudah ditentukan. Aku menghela nafas panjang, ini akan sangat berat.

***

“Coba goyang inul dulu!” mukaku merah padam mendengar ucapan seorang senior berbadan gempal. Ia tertawa menyebalkan memperlihatkan deretan giginya yang tak rata. Aku yang saat itu berada di barisan terdepan hanya bisa menggeleng dan mengalihkan pandanganku pada teman-teman sekelompok. Mereka pun hanya diam tak bisa berbuat banyak.

“Ayo, kalau mau tanda tangan goyang inul dulu, atau goyang apalah pokoknya goyang, goyangnya itu di atas meja batu di depan taman. Kamu kan gendut jadi pasti lucu.”

Ada sesak juga perih yang tiba-tiba saja menerpa mataku. Aku menunduk menahan amarah karena diperlakukan seperti ini.

“Jangan mau ya. Jangan!” tiba-tiba ada suara lirih yang ternyata berasal dari teman sekelompokku. Retno, perempuan berkerudung putih yang baru saja kukenal.

“Saya tidak bisa kak.” Ucapku perlahan memberanikan diri.

“Murid baru sudah berani ngelawan. Hoi sini, ada anak baru yang mau dikasih hadiah nih.” Lelaki yang tak ingin kuingat namanya itu malah memanggil teman-temannya. Hanya tawa menyebalkan yang kudengar hingga akhirnya seorang siswa kelas sebelas menarik lenganku menjauh dari kerumunan itu.

Aku menangis dihadapannya, di sebuah ruangan yang sangat nyaman dan penuh kehangatan orang-orang di dalamnya. Ia memberikan tissue, memujukku untuk menenangkan diri. Ia juga mengusap-ngusap pundakku, memberikan segelas air putih lalu mengelus rambutku lembut.

“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.” Ia tersenyum memperhatikan wajahku yang penuh dengan air mata.

“Makasih mba. Apa memang semua siswa baru diperlakukan seperti itu” tanyaku terbata-bata.
“Tidak dek. Sudahlah, nanti mba yang akan mengingatkan mereka. Sekarang masuk kelas saja, akan ada penjelasan dari wali kelas.” Jawabnya lembut.

 Setelah yakin aku baik-baik saja ia mengantarkanku menuju kelas lalu memberikan sebuah pembatas buku bergambar seorang wanita berjilbab  dan ada tulisan dibawahnya, QS: Al-Azhab:59. Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali untuk simpatinya.

Sepanjang jalan pulang sekolah ku amati pembatas buku yang ia berikan. Kutanyakan pada Retno apa isi ayat yang tertera disana, tapi Retno hanya tersenyum dan menganjurkanku untuk mengeceknya nanti di Al-Quran.
***
Aku dan Retno sengaja tidak langsung pulang ke rumah selepas pulang sekolah. Ada festival Tabot yang berlangsung selama hingga sepuluh Muharram. Jadi kami berniat untuk jalan-jalan sekaligus refreshing karena ospek telah selesai.

“Kita ke sana yuk, ada pertunjukkan sulap.” Aku begitu antusias hingga menarik lengan Retno.
“Nggak usah ah ya, disana terlalu rame.” Retno menggeleng.
“Sebentar aja. Please!” karena tak tega akhirnya Retno setuju untuk mengikutiku. Walaupun ia berkali-kali mengingatkanku untuk tidak berdesakan. Karena penasaran aku mendesak maju di dalam kerumunan

Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang mencolek bagian tubuh belakangku. Aku menoleh ke belekang, namun orang itu langsung pergi. Aku keluar dari kerumunan dan mencari-cari Retno.
“Kenapa Ya?” aku diam dengan muka memerah.
“Apa kamu baik-baik saja tadi di kerumunan orang banyak?”
“Ia, emang kenapa Ya? Ada yang mengganggu? Tanya Retno kebingungan.
“Aku mau pulang saja.”
***

Kuperhatikan titik-titik air hujan yang menjentik kaca jendela kamar. Titik air itu semakin lama semakin banyak membentuk sebuah pola abstak yang indah. Perlahan aku teringat pembatas buku yang diberikan mbak Putri, kakak kelas yang siang tadi menolongku.

“Hai Nabi,katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri kaum mukmin:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah di kenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang "(Al-Ahzab:59)

Termangu. Keringatku mengucur deras memperhatikan deretan ayat yang saat ini kubaca. Kuulang beberapa kali, hingga akhirnya aku menyender di dinding kamar.

Hari ini, Allah menegurku. Allah mengajarkanku dengan cara-Nya. Dua kali aku diingatkan, namun aku hanyalah seorang yang alpa hingga tak menyadari betapa Allah begitu menyayangiku.
Ku eja ayat itu dengan getar yang membuncah, mataku sudah penuh dan ingin tumpah.

“Astaghfirullah hal azim.” Hujan menderu dengan rindu yang kini meliputi hatiku. Rindu untuk diriku yang baru, rindu untuk menjadi kekasih-Nya. Sebuah rindu yang dijalari kasih Allah yang tak pernah kukira sebelumnya.

Kuakhiri sore ini dengan keinginan yang kuat. Untuk memperbaiki diri dengan menjalankan apa yang Allah perintahkan, sehingga aku memang layak sebagai hamba yang ia anugrahkan sebuah hidayah.
Bismillah.
Aku mendekati Ibu yang asyik menonton sinetron di ruang tengah.
“Kenapa kak?”
“Kalau kakak pake jilbab boleh nggak bu?” Tanyaku ragu. Ibu diam lalu menyuruhku duduk di sebelahnya. Ia memperhatikan wajahku yang terlihat pucat.
“Kenapa mau pakai jilbab?” Ibu bertanya lagi.
“Nanti saja kalau sudah dapat kerja baru pakai jilbab, kalau pakai jilbab sekarang susah dapat kerja.” Perkataan Ibu membuatku tak bisa berkata apa-apa, tidak ada perbincangan lebih lanjut sebelum akhirnya Ibu melanjutkan menonton sinetron.
***
Berjilbab tidak berarti kamu sempurna, tetapi semoga menjadi awal untuk membuktikan kesungguhanmu menyempurnakan diri di hadapanNya (Asma Nadia)

“Menuju kebaikan itu pastilah ada rintangan yang tidak mudah Ya, tapi yakinlah Allah selalu memberikan jalanNya jika kita percaya. Ria Mustika Fasha yang mbak kenal pasti bisa meyakinkan Ibu. InsyaAllah.” Mbak Putri, Ketua Bidang Kemuslimahan RISMA Surya Ramadhan itu menguatkanku. Begitu juga teman-teman lainnya. Mereka malah menawarkan beberapa jilbab koleksi mereka untuk ku kenakan jika aku belum mempunyai jilbab.

Aku tidak ingin kalah kedua kalinya
Karena  tidak semua orang yang beruntung diberikan hidayah-Nya
Aku akan menjemputnya
Menjemput pelangi yang telah Allah siapkan disana
Untuk semua penanti yang percaya
Bahwa Allah itu selalu ada
Untuk kita

“Kakak besok sudah mulai berjilbab bu!” ucapku pasti membuat semua anggota keluarga termasuk ayah, tante dan adik-adikku kebingungan tak percaya.
“Kakak? Pakai jilbab? Yakin? Tomboy kayak gitu.” Goda adik perempuanku.
Aku mengangguk pasti.
“Bagus itu,” jawab tanteku menguatkan.

Hal yang tak pernah kuduga sebelumnya, Ibu tersenyum lalu memelukku.
“Kemarin Ibu hanya menguji kesungguhan kakak, karena setelah ini cobaan untuk wanita yang berjilbab akan semakin berat. Harus terus memperbaiki diri agar menjadi muslimah cantik akhlaknya.” Ah, aku sesenggukan mendengar apa yang diucapkan ibu. Alhamdulillah, terimakasih Allah telah memberikan Ibu yang luar biasa. Terimakasih telah memberikan teman-teman yang membuatku kuat, juga kejadian-kejadian yang membuatku belajar tentangMu. Tentang kasihMu, juga tentang rindu yang kini membuncah di hatiku. Bismillah, dengan sangat bangga akhirnya aku mulai menjalankan perintah Allah untuk berhijab.
***
Menjemput pelangi adalah hal yang akan selalu kulakukan dan kuusahakan hingga pelangi sebenarnya benar-benar untukku, yaitu rahmat dan kasihNya. Aku menjalani proses yang indah, dengan bantuan orang-orang yang aku yakin sangat disayangi Allah. Mba Putri, Retno dan teman-teman RISMA mengajariku mengeja Al-Quran, mengkaji maknanya juga mengajakku untuk berbagi bersama dalam sebuah mushola kecil yang penuh dengan cahaya. Tidak ada paksaan, hanya senyuman ikhlas dan ukhuwah yang membuatku kuat hingga saat ini.

“Bermetamorfosislah ukhti, menjadi kupu-kupu yang cantik. Berproseslah dengan kasih sayang Allah. Dan yakinlah selalu, jika kita selalu berusaha untuk membuat Allah mencintai kita. Maka Allahpun akan sangat dekat, hingga hati selalu tenang dalam rahmatNya.”
***

 “Ibu Ria dengar kan apa kata Tia?” Muridku Tia mengguncang bahuku pelan.
“Apa sayang, maaf Ibu melamun.” Ucapku sambil mengelus rambutnya.
“Itu, ada pelangi!”
“Dimana?” tanyaku antusias.
“Itu dimata Ibu?”
Aku tersenyum lalu menyeka air mata. Air mata yang penuh dimataku disirami seberkas cahaya matahari dan menyebarkan spectrum warna yang dipahami Tia sebagai pelangi.

Alhamdulillah, terimakasih Allah hingga saat ini aku masih merasakan getar rindu padaMu juga pada orang-orang yang mengajarkanku tentang bagaimana mencintaiMu.



5 comments:

  1. Hidayah itu indah ya, dek. Semoga selalu istiqomah. Aamiin.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, moga istiqomah ya...

    ReplyDelete
  3. Semoga selalu istiqomah untuk kita semua ya

    ReplyDelete

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)