Dempo, A Mountain to Remember

12:52:00 PM

Bengkulu diguyur hujan. Titik air penuh berkah itu tak sengaja jatuh di pipiku, sensasi dingin menjalari. Perlahan kubentangkan tangan, mencoba menampung kesejukannya.
“Kira…  pasti mau mandi hujan lagi kan?” hampir berlari kulihat Mbak Arin keluar dari Radio, menyuruhku untuk menghindar dari guyuran hujan. Hanya kujawab dengan senyum tertahan. “Ayolah ini Cuma masalah cowok  kamu nggak boleh kayak gini. Dimana Kira yang bersemangat?!” aku diam lagi, Mbak Arin benar. Aku harusnya tidak terpuruk.
“Ada yang bisa kita lakukan untuk buat kamu semangat lagi.”
“Apa?” tiba-tiba aku jadi antusias.
“Hicking, Dempo? Gunung tertinggi di sumatera selatan 3.195 mdpl dan menantang. Kamu pasti suka.” Mba Arin terkekeh.
“Boleh, tapi aku mau besok.” Ujarku menantang.
“Oke, siapa takut. Awas kalau kamu besok nggak datang, mbak tunggu di terminal bus Sarana Sakti jam 7 pagi.” Aku hampir tak percaya Mbak Arin seserius itu.

Esoknya aku tiba di terminal bus pukul tujuh, Bus Sarana Sakti sudah mulai parkir dan memanggil penumpang. Di luar ekspektasi ku yang mengharapkan perjalanan yang menyenangkan, namun malah sebaliknya. Kami punya tambahan personil lainnya, Mbak Yasmin yang cerewet dan Mas Rinto yang suka menggombal, serta penumpang bus yang semaunya bawa ayam dan sayuran menyengat. Lengkap sudah!

Setibanya di Pagar Alam pukul 3 sore kami langsung menuju rumah Mba Arin. Mabuk perjalananku langsung hilang ketika disajikan pempek khas Palembang kesukaanku, ditambah dengan segarnya teh asli Pagar Alam.

 “Dek Kira yakin mau tetap naik nih, padahal kan demam.” Tanya mas Rinto mencemaskan kondisiku yang alergi karena perubahan cuaca, badanku memerah dan sedikit lemas.
“Yang bener aja mas udah sejauh ini terus aku nanti ditinggal sendirian”
“Hahaha, ya udah adikku ayo cepat naikkan barang ke mobil keburu siang nanti.” Ujar mba Arin.

Ditemani Gilang dan Ardi sepupu mbak arin kami kami menuju ke Gunung Demp  dengan menggunakan mobil dulu untuk sampai di pos awal yang dikenal dengan Tugu Rimau.Mabukku sedikit berkurang karena perjalanan kali ini aku melihat hamparan kebun teh yang luas. Berwarna hijau cerah, Jalannya berkelok dan sesekali kulihat petani teh tersenyum ramah.

 “Apa yang dilarang di gunung ini Lang,” tanyaku antusias pada gilang.
“Yah seperti layaknya kita mendaki gunung, tidak boleh mengambil apapun selain foto dan tidak boleh meninggalkan apapun selain jejak.” Gilang menjelaskan dengan serius.

setelah melapor di Pos, kami mulai mendaki dengan tidak lupa berdo’a dahulu. Gilang memimpin pendakian. Sepanjang perjalanan menuju shelter 1 kami dikelilingi pepohonan yang masih sangat asri dan jalanan yang cukup terjal. Trek di Gunung Dempo cukup menantang. Jalan setapak penuh dengan akar yang melintang, kemiringan lereng sendiri cukup curam untuk memeras keringat.
Entah kenapa aku ingin melihat kebelakang, namun tiba-tiba kepalaku terasa pusing, ada kabut yang begitu tebal di penglihatanku.
“Kalau mendaki tidak usah melihat kebelakang Kira! Nanti kamu pusing”Aku mengangguk, namun aku tidak tahan lagi dan secara tiba-tiba aku muntah. Mba Yasmin memberikanku teh hangat hingga merasa membaik.

“Tetap tenang ya, jangan pikirkan macam-macam. Ayo kita lanjut lagi, nanti di shelter 1 baru kita akan makan.” Mba Arin merangkulku Hingga aku bisa berjalan sendiri.
Perjalanan menuju Shelter 2 hingga ke puncak agak terasa berat. Jalan setapak yang mulanya tidak terlalu sulit kini dipenuhi dengan kerikil dan bebatuan. Area yang menurutku begitu sulit adalah ketika kemiringan jalan yang kami harus lalui mencapai 90 drajat, yang berarti harus menggunakan tali tambang untuk menaikinya. Dibantu oleh Gilang dan Ardi akhirnya kami bisa melewatinya.

“Allahuakbar, ini benar-benar best adventure mbak,” teriakku bersemangat. Yang lain malah tertawa.  Kami juga menemukan bunga panjang umur yang katanya tidak akan layu jika sudah mati.
Kami terus berjalan Hingga memasuki daerah dengan vegetasi tumbuhan berpohon rendah dan semakin rendah, beberapa daerah agak terbuka, pandangan pun menjadi luas.

“Teman-teman. Kita memasuki daerah yang dipenuhi dengan lumut. Yang berarti sebentar lagi kita akan sampai di top dempo.” Gilang tersenyum misterius. Benar saja, saat melihat semua pepohonan dan bebatuan dihinggapi lumut berwarna coklat kehijauan, kudukku tiba-tiba merinding. Terbayang film-film misteri di kepalaku. Namun langsung kuhilangkan agar tidak mengganggu perjalananku. Tak lama berselang, kami tiba di top dempo. Puncak pertama Dempo ternyata dataran masif, yang itumbuhi tanaman yang rendah mirip perdu. Dari puncak pertama ini kami turun kembali ke lembah yang diapit oleh puncak pertama dan puncak utama.  Ada beberapa pendaki dari Lampung dan Riau yang kesemuanya laki-laki.

“Puncak Dempo memang hanya dataran masif, yang menganggumkan adalah Top merapi disana. Karena sudah sore, kita ke Merapi besok pagi, biasanya kawah terbuka di pagi hari. Sekarang kita bikin perkemahan ya, yang mau bersih-bersih ada mata air di ujung sana.” Ardi menunjuk ke arah 

“Subhanallah airnya membeku,” sorakku pada yang lainnya. Mata air yang disebutkan ardi ini sebagian telah membeku seperti bongkahan es. Airnya sangat jernih dan dingin, namun saat aku meminumnya agak terasa kecut dan asam.“Airnya asam karena rembesan belerang. Tapi semoga kita nggak sakit minumnya. Hehe.. Baca bismillah jangan lupa.” Ucap Mba Arin.

***
Malam harinya kami tidak bisa tidur, angin bertiup kencang diiringi hujan, kami kedinginan di dalam tenda karena tidak bisa membuat api unggun. Syukurlah kami bisa bertahan hingga pagi menjelang.
Pendakian kepuncak utama tidak terlalu sulit. Lerengnya terdiri dari kerikil dan batu-batu dengan kemitingan sekitar 40°, cukup stabil untuk didaki. Puncak utama gunung Dempu Merupakan kawah gunung berapi yang masih bergejolak. Dinding kawah cukup terjal dan tidak mungkin bisa dituruni tanpa batuan tali temali. Pemandangan dari puncak sangat mengasyikan. Selain kawah yang memberikan kesan khusus, tampak juga terhamparan provinsi Bengkulu dengan hamparan lembah yang sunyi dan hening.  Mas Rinto mengambil posisi dan melantunkan adzan dengan merdu, kami mendengarkan dengan khusuk dan setalah itu sujud bersamaan. Begivftu besar keagungan sang Pencipta. Begitu kecilnya kami di hadapan-Nya.

***
Setelah cukup puas mengambil foto, akhirnya kami mulai untuk turun. Ada kejadian yang membuat kami begitu cemas. Di tengah perjalanan, Mba Arin merasa tubuhnya kaku dan lemas. Ia tidak bisa berjalan, sehingga secara bergantian Ardi dan Gilang menggendong.

“Kira dengan Mbak Yasmin tolong bawa tas ini ya, kalian turun dahulu. Ikuti saja tali kuning yang sudah kita pasang” Kami menuruti keinginan Gilang.

Aku dan Mbak Yasmin berusaha secepat mungkin untuk turun. Bahkan kami menggelindingkan tas bawaan agar tidak terlalu berat dan bisa segera tiba. Kecemasan ternyata bertambah saat di tengah perjalanan, tim pendaki dari Lampung berbalik lagi ke atas karena kehilangan dua teman mereka. Syukurlah, kami bisa segera tiba di Tugu Rimau dan melapor ke penjaga sehingga bisa membantu Mbak Arin untuk turun.

“Bagaimana Kira? Kamu masih nggak semangat?” walaupun masih lemas Mba Arin terus menggoda
“Nggak lah, gunung lebih menggiurkan dari laki-laki.” Ucapku sembari tertawa keras.


Petualangan di Gunung Dempo ini benar-benar mengasyikkan. Banyak kejadian yang akhirnya bisa ku ambil hikmah. ada beberapa rahasia yang sengaja tak kutanyakan di perjalanan kepada teman-teman. Diantaranya aku mendengar suara orang membaca Al-Quran saat perjalanan turun, dan aku memperhatikan sepanjang perjalanan kami diikuti oleh lalat . Hingga suatu waktu aku tanyakan pada Gilang. Ia hanya terkekeh. “Kalo lalat itu keponakan, kalau kamu dengar orang mengaji berarti Alhamdulillah, daripada aku dengar suara raungan motor!” kami berdua terkekeh dan berjanji suatu saat nanti akan kembali mendaki Gunung Dempo, a mountain to remember!

You Might Also Like

0 komentar

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)

Instagram

IBX583D9E221356E

Like us on Facebook

Flickr Images