Follow Us @soratemplates

Tuesday, March 31, 2015

Hadiah dari Sun Life Financial Indonesia

8:51:00 PM 4 Comments

Nulis dan Ngeblog itu memang asyik, apalagi dengan nulis saya bisa dapat banyak hal termasuk bonus yang nggak terduga datangnya. Ini saya nulisnya emang agak telat hehe, Oktober 2014 saya ikutan Blog Competition SUN Anugerah Caraka tentang Melek Finansial, yang ngadainnya Sun Life,

Alhamdullillah saya dapat Juara 3 nya. Seneng banget euy, Ibu Rumah Tangga kayak saya kalau dipikir-pikir nggak bisa menghasilkan apa-apa selain jadi PNS (Penerima Nafkah Suami) hehe. Tapi dengan nulis saya juga tetap bisa bantu suami sekadar untuk beli kebutuhan harian keluarga.

Oh ya sebagai juara 3 alhamdulillah saya dikasih uang jajan sama Sun Life senilai 2 juta, terus dikirimi Merchandise berupa Power Bank

power bank nya imut
plus Piagam penghargaan. Piagamnya langsung saya pajang di kontrakan kami, soalnya jarang-jarang dapat piagam untuk lomba Blog ^_^ Walau sayang nama saya agak salah ditulis Fasya harusnya Fasha

piagam
Satu lagi hadiah dari Sun Life yang jadi koleksi saya yaitu Tas olahraga, kalo ini saya ikutan kuis NBA di fanspagenya sunlife ^_^


Makasih Sun LIfe ^_^

Tuesday, March 24, 2015

Bersabar

4:10:00 PM 0 Comments
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)

Belum lama ini saya mendapat cerita dari seorang teman tentang permasalahan keluarga yang dihadapinya. Memang bukan permasalah antara dia dengan suaminya, tapi masalah beban yang harus dihadapi keluarganya. mulai dari ekonomi, adik ipar, dan mertua. Sungguh masalah yang kompleks, hingga saya pun heran bagaimana ia bertahan dalam kondisi yang menurut saya begitu peliknya, dan Subhanallah ia masih bisa tersenyum ceria setelah menceritakan masalahnnya.

Saya katakan padanya saya saat ini belum bisa menolong apa-apa. Hanya sebatas semangat dan do'a. Beliau pun memaklumi, dan berkata bahwa kita hanya bisa berikhtiar untuk permasalahan yang kita hadapi. Tapi dengan sabar dan sholatlah semuanya akan menjadi lebih baik, karena Allah bersama orang-orang yang sabar.

Ah, saya menjadi tertampar. Sabar selama ini tidak bisa saya wujudkan secara nyata, hanya sebatas lisan yang kadangpun sering mengeluh. Permasalahan saya pun tidak sebanyak orang yang kini di depan saya. tapi dia masih tetap bersabar dan yakin akan pertolongan Allah :)

Semoga saya bisa terus mempelajari kata "sabar" dengan sebaik-baiknya, karena ada teman saya yang bilang kalau sabar itu ada batasnya, namanya bukan sabar hehee. :D


Ekosistem Blogger, Bikin Ngeblog lebih Berarti

10:29:00 AM 16 Comments
Finally, LBI2015 menaiki anak tangga terakhir. Alhamdulillah, saya pribadi bisa mengikuti kompetisi ini hingga pekan terakhir tanpa absen. Yeayyy ^_^ apapun hasilnya, sejauh ini saya sudah merasa menang karena bisa mengalahkan kemalasan selama 12 pekan lamanya dan bisa meningkatkan semangat ngeblog saya yang sempat anjlok saat mengandung dan pasca melahirkan Selamat juga untuk teman-teman yang sudah berhasil melalui LBI2015 hingga akhir. Kita semua adalah pemenang!

sumber gambar : google.com


Namun kekhawatiran panitia setelah kompetisi ini berakhir memang sangat beralasan, semangat blogger profesional mungkin akan tenggelam bersama berakhirnya kompetisi LBI2015. Kekhawatiran yang sama dengan yang saya rasakan, karena selama dua belas pekan mengikuti LBI2015 saya masih bertahan karena terpengaruh dan termotivasi dengan semangat sesama peserta.
Layaknya sebuah ekosistem yang terdiri dari berbagai komponen, LBI dan pesertanya saling mempengaruhi satu sama lain. LBI tanpa peserta tentu tak akan berjalan kompetisinya, dan begitupun sebaliknya.

Harapan untuk menjadi blogger profesional layaknya tak pupus sampai disini. Seorang blogger profesional tentu punya banyak cara untuk mempertahankan konsistensi ngeblognya hingga ia bisa dikenal karena kualitasnya yang mumpuni. Tentu kita yang nantinya sebagai alumni LBI2015 tidak menginginkan semangat yang telah dibangun selama tiga bulan ini hilang begitu saja dan kita kembali menjadi blogger sederhana seperti yang dikatakan panitia hidup segan mati tak mau.

Membangun ekosistem blogger merupakan salah satu cara agar kita tetap bisa mempertahankan semangat ngeblog. Ekosistem blogger terdiri dari bayak komponen yang saling mendukung termasuk blogger itu sendiri ataupun komunitas blogger. Layaknya sebuah ekosistem dalam istilah IPA, ekosistem bia terbentuk karena berkumpulnya berbagai komponen hidup maupun tak hidup. Ekosistem blogger pun bisa terbentuk karena berkumpulnya para blogger dan komunitas yang mempunyai minat yang sama ataupun berbeda.

Ketika ekosistem itu sudah terbentuk, tentulah blogger secara pribadi akan merasakan manfaatnya. Diantaranya bisa bertemu dengan banyak blogger yang menawarkan ilmu dan wawasan baik seputar dunia blogger ataupun hal lain, pun tidak menutup kemungkinan kita bisa juga berbagi akan ilmu yang kita punya. Pemikiran akan terbuka luas dengan semakin luasnya ekosistem yang kita bentuk.

Sekalipun menjadi blogger profesional butuh waktu yang lama dan saya pribadi pun lebih nyaman dikatakan sebagai blogger biasa yang menjadikan blog sebagai hobi, membangun ekosistem tentu tak akan mendatangkan rugi. Karena sejatinya hidup akan sepi jika sendiri, membangun ekosistem blogger membuat hidup kita lebih berwarna, lebih ceria, dan lebih berarti. Ngeblog pun semakin menyenangkan hati :)


Berdakwah dengan Cara yang Baik

9:03:00 AM 0 Comments


"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS.An-Nahl-125)

***

Ada seorang ustadz yang baru baru ini saya kenal. Bukan kenal secara langsung, tapi dari pembicaraan dikalangan mahasiswa dan teman lainnya. Mereka menyebutkan bahwa ustadz itu sering menegur mahasiswa masalah ibadah. Saya pikir malah bagus. Tapi ternyata tidak bagi yang lain. Mereka mengatakan bahwa cara ustadz menegur selalu keras dan kasar. alih-alih membuat yang didakwahi sadar, malah mereka menjadi murka dan mengeneralisir bahwa orang yang paham agama itu biasa selalu menjudge dan menganggap orang lain rendah.

Saya jadi ingat pernah belajaran tentang Dakwah yang baik. Karena dakwah itu kan sebenarnya adalah mengajak, bukan mengejek apalagi mencaci. Banyak cara menuju syurga, namun di balik itu banyak jalan justru membawa manusia menuju ke neraka. Niatnya baik, tapi cara atau metodenya salah, niatnya  mengajak orang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, tapi cara yang digunakannya mencaci maki, menghina dan memburuk-burukan pihak lain yang tak sepaham dengannya.

Seakan syurga dia yang punya dan pihak lain yang tak sepaham dengannya masuk neraka semuanya. Jadi kebenaran ada di tangannya sendiri, pihak lain yang sama-sama muslim ketika berbeda pendapat dengannya justru dimaki-maki, dihina dijadikan bahan gunjingan yang mengaksyikan, dengan kata-kata kasarnya saudaranya sesama muslim”dibantainya!” dipermalukan di depan umum. Menyedihkan, dakwahnya bukan mengajak, tapi mengejek!

Nabi adalah semulia-mulia manusia, Beliau mengajarkan kepada kita semua untuk berlaku lemah lembut dan tak mudah mengkafirkan sesama muslim, apapun perbedaan pendapat dan mazhabnya. Islam disebarkan dengan kelembutan bukan dengan kekerasan dan menghina paham orang lain atau kelompok lain yang berbeda pendapat.

Nabi tak pernah mengajarkan untuk memaki pihak lain, menghina pihak lain dan mudah mengkafirkan orang lain yang sama-sama akidahnya, sama-sama syahadatnya, sama dalam gerakan dan bacaan sholatnya, sama iman dan Islamnya, sama dengan tata cara zakat, puasa dan hajinya. Bila seandainya pun berbeda, mereka juga punya dalil sendiri, yang bisa saja benar. Tak mengklaim kebenaran milik pribadi, kebenaran datangnya dari allah SWT

Jadi mengajak orang kepada Islam lagi-lagi harus dengan kelembutan, kalimat disampaikan adalah ajakan, bukan ejekan, amanah bukan amarah, rendah hati bukan emosi, berbagi bukan mengusili, menyejukan bukan membuat hati panas dan seterusnya. Itulah dakwah yang hakiki, dakwah yang membuat orang menjadi sejuk di dalam masjid, mushollah atau di dalam pengajian, sehingga ketika mereka pulang kerumah, mereka makin dekat kepada Allah SWT, bukan malah lari dari Allah, karena salah metode yang menyampaikan.

Wednesday, March 18, 2015

Jangan Ragu, Ayo Menikah!

2:58:00 PM 6 Comments
Allah itu suka memberi kejutan. Kejutan dari Allah kadang bikin kita terharu, kaget, senang dan tentunya bersyukur. Salah satu kejutan Allah yang sangat saya syukuri adalah takdir akan jodoh yang tak disangka-sangka datangnya. 
Sebenarnya saya punya target menikah di umur 25 tahun, namun Allah menghendaki saya menikah lebih cepat di umur 23 tahun.Banyak teman yang menanyakan kenapa kok bisa nikah sama dia *suami saya, gimana bisa ketemunya? dia itu kan bukan kriteria kamu, kok bisa? gimana rasanya nikah muda? enak nggak?

Dicecar pertanyaan sedemikian banyak saya tersenyum dan menjawab seadanya. Karena banyak pertanyaan yang sebenarnya tidak penting untuk diceritakan. Malah akan menambah rentetan pertanyaan baru. Hehe.

Jika diingat perjalanan saya menemukan tambatan hati memang terkesan berliku-liku dan penuh kejutan. Allah ternyata memberi kejutan indah itu setelah banyak rintangan.

Jika diceritakan dari awal rasanya terlalu panjang hehe. tapi puncak pencarian saya itu di tahun 2013, setelah tahun  2011 sebelumnya saya memutuskan untuk sendiri (memutuskan hubungan dengan teman dekat lelaki) dan memutuskan untuk tidak menjalin hubungan abal-abal dengan lelaki manapun. Saat itu saya menangis, sebuah tamparan telak untuk diri saya. Saya menangis bukan karena sedih berpisah, namun lebih pada penyesalan karena waktu saya telah  sia-sia dengan banyak hal yang tidak bermanfaat, lebih-lebih membuat diri saya semakin jauh dari Sang Pemilik Cinta Allah SWT. :(

Dulu. Saya seakan tuli mendengar nasihat teman-teman yang sangat menyayangi saya. Mereka padahal terus mengingatkan "Berhentilah. Tidak ada satupun kebaikan jika yang kita lakukan itu bukan perintah Allah. Cinta yang kamu perjuangkan itu semu, orientasinya dunia dan nafsu." Namun begitulah, masa muda yang bergejolak membuat kita jauh dari kebenaran. Namun Allah masih sayang sama saya walau sudah banyak hal buruk di masa lalu yang saya lakukan. Allah tidak meninggalkan saya. Dia mempertemukan saya dengan orang-orang soleh yang akhirnya mau membantu membimbing saya untuk memperbaiki diri.

Tahun 2012, saya pisah dengan orang tua. karena saya bersama teman mengelola PAUD, Bimbel dan TPQ di Curup, Rejang Lebong. Disanalah saya mulai menyibukkan diri saya dengan hal-hal positif. Hari-hari saya habiskan dengan mengajar dan menulis. Melihat kesibukan saya itu yang tidak punya waktu untuk berfikir tentang menikah, kakak-kakak dan mba-mba saya berusaha untuk menjodohkan saya dengan pilihan mereka. Saya sangat berterima kasih untuk itu, karena lelaki yang mereka ajukan itu soleh-soleh dan saya tau mereka orang baik. Namun saya masih ragu, karena saya tidak sebaik yang mereka bayangkan dan akhirnya saya tidak menerima untuk dijodohkan. Saya masih perlu waktu untuk memperbaiki diri hingga saya rasa siap.

Kalau kamu sekarang Lagi memperbaiki diri dan Menjaga Hati, Insya Allah jodohmu juga lagi memperbaiki diri dan menjaga hatinya 
RT @ManJaddaWaJadaa 

Awal tahun 2013. Ayah Ibu saya mulai resah karena kecuekan saya dengan perihal menikah. Saya maklum karena orang tua pasti cemas jika anak gadisnya belum juga menikah walaupun waktu itu umur saya masih 23 tahun.

Namun tiba-tiba Allah menunjukkan jalan pada saya. Entah bagaimana mulanya saya akhirnya berkomunikasi dengan kakak kelas saya di kampus yang beda jurusan. Saya agak lupa,  Namun seingat saya komunikasi itu dimulai saat beliau meminta saya menjadi pembicara dalam acara "Success in Campus" namun saya menolak dengan alasan kurangnya ilmu dan saya belum sukses. Hehehe.. Beliau kesal dan hampir marah karena alasan yang katanya tidak masuk akal itu, bahkan beliau mengatakan kalau saya pelit ilmu. :D Kalau kata beliau, sejak saat itu ia "bete" kalau lihat saya. "Akhwat jutek" begitu ia memanggil saya.

Mulai dari sanalah kami mulai berkomunikasi, namun dalam hal wajar seperti mengisi acara outbound bersama atau hal-hal berkaitan dengan dunia kampus. Dia yang sudah saya anggap kakak sendiri meminta saya mencarikan ia calon istri yang kalau bisa keturunan orang Padang. Saya membantu sebisanya, namun tidak berhasil.

Hingga dengan mendadak, ia meminta saya untuk menikah. Saya jawab cuek "Jika ingin menikahi saya, datang ke ayah ibu dirumah." Saya kira dengan begitu ia takut atau seperti lelaki lainnya selalu mengatakan "saya siap nikah, tapi tunggu saya kumpulkan uang dulu, atau tunggu saya sukses dulu, dapat pekerjaan ini itu dulu..." Namun beliau langsung datang ke rumah saat saya di Bengkulu. Betapa terkejutnya saya, kedatangan pertamanya dirumah, ia langsung mengutarakan bahwa ia minta izin menikahi saya. Saya yang tidak ikut pembicaraan itu respek menggigit bantal di kamar belakang bersama adik saya. Subhanallah, dia seberani itu :")

Jawaban ayah sangat bijak. Jika saya dan dia siap silahkan. InsyaAllah mereka akan membantu memudahkannya. Alhamdulillah, semuanya berlangsung begitu mudah. dan saya yakin kesemuanya itu dimudahkan oleh Allah. bukankah ketika kita berniat untuk ibadah dan karena Allah, maka Allah akan memudahkan. yang saya ingat, April beliau datang kerumah, Mei lamaran, dan Juni kami menikah.

sumber gambar : google.com

***

Ahh menikah itu luar biasa! Saya memang tidak sempurna, suami saya juga tidak sempurna. Namun saya yakin cinta kami yang diikat dengan kecintaan Allah merupakan cinta yang sempurna. Yuk jangan ragu untuk menikah, karena kamu nggak akan merugi dengan menikah.

Menikah, Menjauhkan Diri Dari Dosa
Allah nggak mungkin memberikan perintah kalau nggak ada faedahnya, betul tidak? Mengingat banyaknya dosa yang pernah saya lakukan di masa muda saya menyesali kenapa dulu saya tidak lebih cepat menikah. Hanya Allah yang tahu dosa yang diperbuat oleh mata, hati, dan diri saya yang sebenarnya bisa dihindari dengan menikah. Jika sudah menikah pikiran jadi tenang, nggak sibuk celingak celinguk liatin lawan jenis lalu memendam perasaan yang memupuk penyakit hati. COba deh bandingkan pacaran  dengan menikah, pegang tangan pacar dosa, genggam jari suami dengan penuh kasih sayang dosa kita berguguran. :D Berhias untuk pacar nggak dapat pahala, berhias untuk suami dan suami ridho dapat pahala. Jadi jelas dengan menikah menjauhkan diri dari dosa.

Menikah, Ada Pendamping yang Selalu Mengingatkan Kebaikan
Dulu saya sering tersinggung kalau ada yang mengingatkan saya hihi.. Namun setelah menikah saya jadi sadar bahwa mengingatkan adalah salah satu bentuk perhatian dan kasih sayang dari seseorang. Suami saya pernah bilang bahwa ia bertanggung jawab untuk menjaga saya dan keluarga dari siksa api neraka. Walaupun masih sering ngambek saat ditegur, suami saya tetap nggak bosan mengingatkan kalau saya lalai dan lupa akan sesuatu, tentu saja semuanya demi kebaikan. Gimana? enakkan ada seseorang yang mau mengingatkan kita secara jujur tanpa berpura-pura. suami juga sering mengajak saya untuk mengupgrade ibadah dengan ikut pengajian dan taklim :)

Menikah, Buat Saya Mau Belajar
Sebelum menikah saya pernah berkata jujur dengan suami kalau saya tidak bisa masak, kalaupun bisa hanya beberapa masakan dan rasanya tidak karuan. Suami memaklumi dan berharap saya mau belajar dan ia akan terus mendukung. Akhirnya dengan kemauan keras saya cari resep-resep dan tanya sama tetua-tetua cara masak yang baik dan benar hihii... Alhamdulillah walaupun belum seenak makanan di rumah makan, saya selalu memasakkan suami makanan setiap harinya. Bersyukur banget karena beliau selalu makan makanan saya walaupun rasanya ada yang kurang. Dan nggak lupa untuk memberi nasehat biar masakan saya lebih enak lagi, misalnya : Dek ini besok tambah garam lagi, eh ini kayaknya kurang santan dll ^_^ 

Selain itu saya juga belajar untuk jadi disiplin dan pengertian. Walau banyak orang yang mengatakan karakter kami berdua tidak cocok. Saya yakin Allah akan membuat kami saling melengkapi. Saya yang ceroboh dan berantakan akan dilengkapi oleh suami yang perapi dan disiplin. Suami yang karakternya keras akan dilengkapi karakter saya yang lebih ceria. Dan sampai saat ini saya merasa begitu bahagia menjadi istrinya. Karena ia selalu mengingatkan saya di saat saya lupa :)

Menikah, Rejeki Lancar dan Berkah
Ragu awalnya menikah pasti ada, salah satunya soal rejeki. Hitungan kita sih menikah gaji suami dibagi dua, namun hitungan Allah beda. Menikah, pintu rejeki terbuka lebar dari jalan yang nggak disangka-sangka. Banyak yang nggak percaya dengan gaji suami yang tak besar dan saya tidak bekerja bisa mencukupi untuk uang kontrakan dan makan sehari-hari. Kalau dihitung minusnya mah banyak, tapi Allah menutupi minusnya, malah ditambah plus plus. alhamdulillah memasuki tahun kedua pernikahan saya dan suami belum pernah kelaparan ^_^

Menikah, membuat kami punya cita-cita yang tinggi. Punya banyak anak yang semoga jadi soleh dan solehah yang kelak akan menjadi penghibur hati, penyejuk mata, dan pemberat amal saat dihisab. Semoga  keturunan kami nantinya adalah keturunan yang bermanfaat untuk umat.





Semoga Allah mengikat hati kita dengan cinta-Nya. 

Hingga kita bukan hanya menjadi pasangan di dunia, 

namun juga di Jannah-Nya. Aamiin Ya Allah.


Terakhir spesial Untuk saudariku yang sedang dalam penantian. Bersabarlah ^_^
Allah pasti menyiapkan yang terbaik. Teruslah memperbaiki diri, agar jodoh yang datang kelak adalah seorang imam yang soleh yang bisa membimbing menuju jannah-Nya. Aamiin



Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway 3rd Anniversary The Sultonation

Tuesday, March 17, 2015

Foto Sebagai Inspirasi Ngeblog

3:38:00 PM 28 Comments
Tema LBI2015 Pekan ke-sebelas ini cukup unik dan menarik. Tentang photo blog yang jarang dibicarakan sebelumnya. Waktu baca tema pekan ini saya pun jadi mikir dan akhirnya angguk-angguk. Selama ini ya pemikiran saya soal ngeblog yah nggak jauh-jauh dari nulis dan nulis. Namun, ternyata ada ide lain untuk ngeblog selain nulis, yaitu foto. Biasanya saya memang menyertakan foto di postingan saya sekedar untuk menguatkan tulisan, tapi sejauh ini saya belum pernah menjadikan foto sebagai objek utama untuk dibaca oleh pengunjung.

Photo Blog mungkin nggak setenar instagram yang sekarang lagi gandrung digunakan. Tapi bagi saya pribadi photo blog itu kesannya lebih keren dan elegan kalau dilihat dibanding melihat foto di akun social media. Ada beberapa blogger yang hobi fotografi yang memilih membuat blog niche khusus untuk menempatkan hasil jepretannya agar lebih tertata rapi. Yang paling saya suka itu blog foto tentang masakan dan jalan-jalan.

Photo Blog tentang travelling bisa jadi referensi untuk traveller yang mau menjelajah tempat-tempat di seluruh belahan dunia. Salah satunya yaitu http://machinami.biz/ yang merupakan blog dengan galeri foto tempat-tempat di Jepang dan dunia yang didominasi dengan foto jalan-jalan di Jepang. Pemiliknya Minako Shoh merupakan seorang Pengacara di Jepang yang punya hobi jalan-jalan dan berharap informasi di blognya bisa bermanfaat untuk para traveller.

salah satu foto di blog http://machinami.biz/
(Little Kyoto, Takahashi City)

Blog yang ditulis dengan dua bahasa yaitu Jepang dan Inggris ini bikin kita jadi ingin keliling dunia terutama Jepang. Saya inginnya bisa menjelajah banyak foto indah disana, tapi apakah koneksi saya yang lemot, atau memang blognya agak berat untuk dibuka, jadi hanya beberapa foto yang bisa saya buka dan nikmati. Dan ada satu hal yang cukup mengganggu saya ketika melihat blog ini karena caption foto yang kurang detail ditambah begitu banyaknya foto dalam satu postingan, berharapnya setiap foto bisa dikasih penjelasan walau singkat, jadi pembaca bisa tahu ini dimana dan bagian mana :D
ini foto di italia
Overall blog ini bagus dan punya kelebihan bisa dinikmati seluruh pengunjung di dunia. Semoga kedepannya semakin lebih banyak foto yang variatif yang bisa menginspirasi. 

Eh ngomong-ngomong saya jadi tertarik mau punya photo blog juga  ^_^

Wednesday, March 11, 2015

[Cerita Hijab Pertamaku] Menjemput Pelangi Hidayah

8:53:00 PM 5 Comments
Sore ini sengaja aku duduk di beranda, menikmati luncuran kasih sayang Allah yang turun perlahan dengan kehangatan dan kesejukan untuk hamba-Nya yang senantiasa menanti rahmat dan hidayah. Aku tidak sendiri, segelas teh rosella hangat menemani dengan aroma khas yang menawarkan ketenangan. 

Hujan ini, aroma tanah basah juga teriakan bocah-bocah gang senggol membuatku tersenyum sembari menahan haru. Ada kerinduan yang menjalari ingatan tentang saat pertama rasa itu ada. Perasaan yang membuatku bertahan hingga sekarang sebagai pembuktian bagi-Nya. Bahwa hidayah-Nya begitu kusyukuri.

It has been 10 years ago

Aku duduk di sebuah bangku kayu mengamati kerumunan siswa SMA berseragam putih abu-abu dengan dandanan aneh yang membuat setiap orang yang melihatnya tergelitik sehingga ingin tertawa. Aku sengaja menyendiri, mengumpulkan sisa-sisa keberanianku untuk berbaur dengan wajah-wajah asing yang sama sekali tak kukenali.

Ya, hari ini adalah hari yang sebenarnya tidak pernah aku inginkan, Orientasi Siswa Baru. Pikiranku mulai membayangkan banyak hal aneh tentang hari ini, hingga dadaku berguncang hebat juga keringatku tak henti bercucuran.

“Diberitahukan kepada seluruh siswa baru harap berkumpul di aula.” Tiba-tiba mukaku memerah, ada ketakutan yang merasuk hingga sendi-sendiku rasa kaku. Sebagian siswa berlari terburu-buru dan aku pun akhirnya perlahan menuju aula sekolah yang cukup besar.

Semua terasa begitu cepat, aku telah bergabung bersama sekelompok siswa lainnya. Kami dibagi dalam kelompok yang berjumlah sepuluh orang dan diharuskan mencari tanda tangan kakak kelas yang sudah ditentukan. Aku menghela nafas panjang, ini akan sangat berat.

***

“Coba goyang inul dulu!” mukaku merah padam mendengar ucapan seorang senior berbadan gempal. Ia tertawa menyebalkan memperlihatkan deretan giginya yang tak rata. Aku yang saat itu berada di barisan terdepan hanya bisa menggeleng dan mengalihkan pandanganku pada teman-teman sekelompok. Mereka pun hanya diam tak bisa berbuat banyak.

“Ayo, kalau mau tanda tangan goyang inul dulu, atau goyang apalah pokoknya goyang, goyangnya itu di atas meja batu di depan taman. Kamu kan gendut jadi pasti lucu.”

Ada sesak juga perih yang tiba-tiba saja menerpa mataku. Aku menunduk menahan amarah karena diperlakukan seperti ini.

“Jangan mau ya. Jangan!” tiba-tiba ada suara lirih yang ternyata berasal dari teman sekelompokku. Retno, perempuan berkerudung putih yang baru saja kukenal.

“Saya tidak bisa kak.” Ucapku perlahan memberanikan diri.

“Murid baru sudah berani ngelawan. Hoi sini, ada anak baru yang mau dikasih hadiah nih.” Lelaki yang tak ingin kuingat namanya itu malah memanggil teman-temannya. Hanya tawa menyebalkan yang kudengar hingga akhirnya seorang siswa kelas sebelas menarik lenganku menjauh dari kerumunan itu.

Aku menangis dihadapannya, di sebuah ruangan yang sangat nyaman dan penuh kehangatan orang-orang di dalamnya. Ia memberikan tissue, memujukku untuk menenangkan diri. Ia juga mengusap-ngusap pundakku, memberikan segelas air putih lalu mengelus rambutku lembut.

“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.” Ia tersenyum memperhatikan wajahku yang penuh dengan air mata.

“Makasih mba. Apa memang semua siswa baru diperlakukan seperti itu” tanyaku terbata-bata.
“Tidak dek. Sudahlah, nanti mba yang akan mengingatkan mereka. Sekarang masuk kelas saja, akan ada penjelasan dari wali kelas.” Jawabnya lembut.

 Setelah yakin aku baik-baik saja ia mengantarkanku menuju kelas lalu memberikan sebuah pembatas buku bergambar seorang wanita berjilbab  dan ada tulisan dibawahnya, QS: Al-Azhab:59. Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali untuk simpatinya.

Sepanjang jalan pulang sekolah ku amati pembatas buku yang ia berikan. Kutanyakan pada Retno apa isi ayat yang tertera disana, tapi Retno hanya tersenyum dan menganjurkanku untuk mengeceknya nanti di Al-Quran.
***
Aku dan Retno sengaja tidak langsung pulang ke rumah selepas pulang sekolah. Ada festival Tabot yang berlangsung selama hingga sepuluh Muharram. Jadi kami berniat untuk jalan-jalan sekaligus refreshing karena ospek telah selesai.

“Kita ke sana yuk, ada pertunjukkan sulap.” Aku begitu antusias hingga menarik lengan Retno.
“Nggak usah ah ya, disana terlalu rame.” Retno menggeleng.
“Sebentar aja. Please!” karena tak tega akhirnya Retno setuju untuk mengikutiku. Walaupun ia berkali-kali mengingatkanku untuk tidak berdesakan. Karena penasaran aku mendesak maju di dalam kerumunan

Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang mencolek bagian tubuh belakangku. Aku menoleh ke belekang, namun orang itu langsung pergi. Aku keluar dari kerumunan dan mencari-cari Retno.
“Kenapa Ya?” aku diam dengan muka memerah.
“Apa kamu baik-baik saja tadi di kerumunan orang banyak?”
“Ia, emang kenapa Ya? Ada yang mengganggu? Tanya Retno kebingungan.
“Aku mau pulang saja.”
***

Kuperhatikan titik-titik air hujan yang menjentik kaca jendela kamar. Titik air itu semakin lama semakin banyak membentuk sebuah pola abstak yang indah. Perlahan aku teringat pembatas buku yang diberikan mbak Putri, kakak kelas yang siang tadi menolongku.

“Hai Nabi,katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri kaum mukmin:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah di kenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang "(Al-Ahzab:59)

Termangu. Keringatku mengucur deras memperhatikan deretan ayat yang saat ini kubaca. Kuulang beberapa kali, hingga akhirnya aku menyender di dinding kamar.

Hari ini, Allah menegurku. Allah mengajarkanku dengan cara-Nya. Dua kali aku diingatkan, namun aku hanyalah seorang yang alpa hingga tak menyadari betapa Allah begitu menyayangiku.
Ku eja ayat itu dengan getar yang membuncah, mataku sudah penuh dan ingin tumpah.

“Astaghfirullah hal azim.” Hujan menderu dengan rindu yang kini meliputi hatiku. Rindu untuk diriku yang baru, rindu untuk menjadi kekasih-Nya. Sebuah rindu yang dijalari kasih Allah yang tak pernah kukira sebelumnya.

Kuakhiri sore ini dengan keinginan yang kuat. Untuk memperbaiki diri dengan menjalankan apa yang Allah perintahkan, sehingga aku memang layak sebagai hamba yang ia anugrahkan sebuah hidayah.
Bismillah.
Aku mendekati Ibu yang asyik menonton sinetron di ruang tengah.
“Kenapa kak?”
“Kalau kakak pake jilbab boleh nggak bu?” Tanyaku ragu. Ibu diam lalu menyuruhku duduk di sebelahnya. Ia memperhatikan wajahku yang terlihat pucat.
“Kenapa mau pakai jilbab?” Ibu bertanya lagi.
“Nanti saja kalau sudah dapat kerja baru pakai jilbab, kalau pakai jilbab sekarang susah dapat kerja.” Perkataan Ibu membuatku tak bisa berkata apa-apa, tidak ada perbincangan lebih lanjut sebelum akhirnya Ibu melanjutkan menonton sinetron.
***
Berjilbab tidak berarti kamu sempurna, tetapi semoga menjadi awal untuk membuktikan kesungguhanmu menyempurnakan diri di hadapanNya (Asma Nadia)

“Menuju kebaikan itu pastilah ada rintangan yang tidak mudah Ya, tapi yakinlah Allah selalu memberikan jalanNya jika kita percaya. Ria Mustika Fasha yang mbak kenal pasti bisa meyakinkan Ibu. InsyaAllah.” Mbak Putri, Ketua Bidang Kemuslimahan RISMA Surya Ramadhan itu menguatkanku. Begitu juga teman-teman lainnya. Mereka malah menawarkan beberapa jilbab koleksi mereka untuk ku kenakan jika aku belum mempunyai jilbab.

Aku tidak ingin kalah kedua kalinya
Karena  tidak semua orang yang beruntung diberikan hidayah-Nya
Aku akan menjemputnya
Menjemput pelangi yang telah Allah siapkan disana
Untuk semua penanti yang percaya
Bahwa Allah itu selalu ada
Untuk kita

“Kakak besok sudah mulai berjilbab bu!” ucapku pasti membuat semua anggota keluarga termasuk ayah, tante dan adik-adikku kebingungan tak percaya.
“Kakak? Pakai jilbab? Yakin? Tomboy kayak gitu.” Goda adik perempuanku.
Aku mengangguk pasti.
“Bagus itu,” jawab tanteku menguatkan.

Hal yang tak pernah kuduga sebelumnya, Ibu tersenyum lalu memelukku.
“Kemarin Ibu hanya menguji kesungguhan kakak, karena setelah ini cobaan untuk wanita yang berjilbab akan semakin berat. Harus terus memperbaiki diri agar menjadi muslimah cantik akhlaknya.” Ah, aku sesenggukan mendengar apa yang diucapkan ibu. Alhamdulillah, terimakasih Allah telah memberikan Ibu yang luar biasa. Terimakasih telah memberikan teman-teman yang membuatku kuat, juga kejadian-kejadian yang membuatku belajar tentangMu. Tentang kasihMu, juga tentang rindu yang kini membuncah di hatiku. Bismillah, dengan sangat bangga akhirnya aku mulai menjalankan perintah Allah untuk berhijab.
***
Menjemput pelangi adalah hal yang akan selalu kulakukan dan kuusahakan hingga pelangi sebenarnya benar-benar untukku, yaitu rahmat dan kasihNya. Aku menjalani proses yang indah, dengan bantuan orang-orang yang aku yakin sangat disayangi Allah. Mba Putri, Retno dan teman-teman RISMA mengajariku mengeja Al-Quran, mengkaji maknanya juga mengajakku untuk berbagi bersama dalam sebuah mushola kecil yang penuh dengan cahaya. Tidak ada paksaan, hanya senyuman ikhlas dan ukhuwah yang membuatku kuat hingga saat ini.

“Bermetamorfosislah ukhti, menjadi kupu-kupu yang cantik. Berproseslah dengan kasih sayang Allah. Dan yakinlah selalu, jika kita selalu berusaha untuk membuat Allah mencintai kita. Maka Allahpun akan sangat dekat, hingga hati selalu tenang dalam rahmatNya.”
***

 “Ibu Ria dengar kan apa kata Tia?” Muridku Tia mengguncang bahuku pelan.
“Apa sayang, maaf Ibu melamun.” Ucapku sambil mengelus rambutnya.
“Itu, ada pelangi!”
“Dimana?” tanyaku antusias.
“Itu dimata Ibu?”
Aku tersenyum lalu menyeka air mata. Air mata yang penuh dimataku disirami seberkas cahaya matahari dan menyebarkan spectrum warna yang dipahami Tia sebagai pelangi.


Alhamdulillah, terimakasih Allah hingga saat ini aku masih merasakan getar rindu padaMu juga pada orang-orang yang mengajarkanku tentang bagaimana mencintaiMu.

 Artikel ini diikutsertakan  dalam "Hijab Syar'i Story Giveaway"



Tuesday, March 10, 2015

Balada Blogger Sepi Job Review

9:15:00 PM 1 Comments
Menjalani kehidupan sebagai Ibu Rumah Tangga saya  punya kegalauan tersendiri. Nggak bisa dipungkiri saya hanyalah seorang “PNS” (Penerima Nafkah Suami) :D Tiap bulan suami memberikan gajinya untuk saya atur sedemikian rupa hingga cukup untuk kebutuhan keluarga selama sebulan. Terbayang nggak sih galaunya? Walaupun suami saya tidak pernah menuntut saya untuk bekerja atau mendapatkan penghasilan, saya merasa nggak enak aja kalau tidak bisa membantu. Setidaknya untuk beli cemilan,  masa harus minta juga sama suami?

Sebagai Ibu Rumah Tangga, selain woro wiri ngurusin rumah dan anak, saya mengisi hari-hari dengan ngeblog. Sudah cukup lama blog jadi sahabat saya, pastinya saya tidak ingat tapi kira-kira sejak tahun 2008 atau 2009 saat masih jadi mahasiswi saya sudah mulai bergentayangan di jagad perbloggeran. Niat awalnya sih ingin menyalurkan hobi menulis saya. Karena suka banget nulis puisi di diary, seringkali tercecer dimana-mana. Kalau nulis di blog kan nggak bakal tercecer kalo bukan karena dihapus hihii..  Saya memulainya dengan aktif di multiply, lalu blogspot, wordpress hingga blogdetik. Namun sekarang yang aktif hanya yang blogspot.

Ngeblog makin terasa asyik karena bisa menemukan banyak teman baru, ilmu baru, juga hadiah hihi... Giveaway atau lomba di blog seringkali diadakan oleh pemilik blog atau perusahaan yang ingin berbagi. Awalnya saya ragu mau ikutan karena saya hanya blogger amatiran yang isi blognya sekadar curhatan. Tapi setelah pernah nyobain rasanya “menang” rasanya kayak mau nambuh lagi dan lagi. Alhamdulillah walaupun masih hadiah kecil-kecilan, sedikit banyak rejeki datang dari giveaway dan lomba blog yang saya ikuti.

sumber gambar : google.com


***

Setelah beberapa tahun ngeblog, saya menemukan sebuah istilah yang selama ini jarang saya cicipi yaitu Job Review. Rejeki saya dalam Job Review ternyata tidak sebagus dalam lomba di blog :(

Kenapa?
Saya sadar sih, walaupun sudah bertahun-tahun ngeblog, saya tetap saja blogger amatiran yang minim ilmu blogging, minim posting, minim blogwalking, minim juga earningnya hahaha... Jadi saya maklum jika job review tak mendekat pada saya.

Tapi apa saya benar-benar belum pernah dapat job review?
Nggak setragis itu sebenarnya sih :D Tahun 2013 dan 2014 saya pernah dapat tawaran job review beberapa kali (catet : beberapa kali yang nggak lebih dari jumlah jari tangan kita).

1. Waktu gabung di salah satu paid review nya Indonesia yang membayar blogger per post sesuai dengan page rank blog. Semakin tinggi page rank, semakin tinggi bayaran postingannya. Kalau saya? Yah cukuplah buat beli bakso sama es teler :D
Banyak yang bilang kalau bayaran disini kecil banget, jadi banyak yang nggak tertarik. Tapi bagi saya nggak masalah, saya mau nyobain rasanya dapat job review, sambil berdoa dapat job yang bayarannya lebih baik.

2. Ada yang bilang silaturahmi itu mendatangkan rejeki. Yup betul banget, berkat kebaikan salah satu blogger, mba ila yang rekomendasikan blog saya, saya dapat job dari mbak bule Joana untuk nulis review tentang properti yang ada di Indonesia, bayarannya dolar yang cukup gede, karena saya dapat job di dua blog plus dapat fee saat merekomendasikan blog lain. Bersyukur banget karena bisa nambah perlengkapan rumah dari hasil ngeblog. Seingat saya ini job yang paling besar yang saya dapatkan, totalnya saya dapat USD$50.


3. Kalau yang ini blogger lain mungkin banyak yang dapat, dari salah satu perusahaan fashion Indonesia. Dikasih dua voucher belanja, yang saya gunakan untuk beli sepatu suami dan saya.

4. Beberapa job review yang dihadiahi kacamata, hampers, kosmetik dan buku

Baru beberapa saja sih pengalaman saya dapat job review. Tahun 2015 ini malah sepi banget euy. Bukan salah siapa-siapa, hanya saya saja yang kurang semangat dan nggak memperdalam ilmu blogging, karena saya pernah baca job review itu nggak serta merta datang dari langit. Butuh konsistensi kita dalam menulis hingga bisa dilirik untuk dapat job review.

Tentu saya butuh perbaikan kualitas dan kuantitas dalam ngeblog. Job review nggak akan datang jika saya malas-malasan dan semaunya aja ngeblog -.-'

Banyak hal yang harus saya ubah, berikut diantaranya:

1. Terus Menulis
Bermimpi dapat job review harus diimbangi dengan konsistensi menulis. Seorang blogger pernah bagi tipsnya ke saya, kalau satu hari dia menulis 5-10 postingan sehari secara terus menerus selama beberapa bulan. Lalu ia daftarkan blognya ke salah satu layanan PPP (Pay Per Post),  tidak lama berselang ia terus mendapatkan job review dengan bayaran yang besar. Walaupun belum bisa menulis banyak dalam sehari, semoga saya bisa rutin menulis minimal satu postingan per hari.

2. Blogwalking dan Aktif di Komunitas Blog
Ngeblog bukan sebatas nulis aja. Banyak jaringan di dalamnya, dengan blogwalking tentu akan banyak menemukan blogger senior yang sudah banyak pengalaman dalam job review. Saya nantinya mau aktif juga di Komunitas blog seperti Kumpulan Emak Blogger atau Warung Blogger biar bisa ketularan ilmu ngeblog nya. Siapa tahu bisa ketiban rejeki dari blogger senior yang nawari job review.

3. Aktif di Sosmed
Ternyata sosmed sedikit banyak mempengaruhi penawaran untuk job review. Semakin banyak follower dan teman kemungkinan kita mendapatkan job review akan semakin besar.

4. Bergabung di Media Internet Marketing
Saya sih udah bergabung di beberapa media blogger yang sering memberikan job review pada blogger.
Tapi sejauh ini saya belum pernah dapat tawaran pay per post hehe... baru sebatas pay per click doang :D Moga kedepannya bisa ya

5. Saatnya Ganti Domain
Nggak bisa dipungkiri, pihak pengiklan lebih senang dengan blog yang udah punya TLD  atau top level domain.
Bukan blog gratisan kayak saya hihi... Awalnya mungkin berat untuk ngeluarin kocek karena takut nggak bisa konsisten ngeblog (soalnya saya pernah pengalaman buat domain eh sayangnya abis itu blognya dianggurin). Tapi saya punya rencana kedepan untuk ganti domain biar makin semangat ngeblognya.

Yoshh semoga saya bisa merubah prilaku saya dalam ngeblog ^_^
Terakhir, walaupun akhirnya saya tetaplah jadi blogger yang sepi job review tidaklah mengapa. Karena niat awal saya ngeblog ingin menyalurkan hobi nulis, jadi dengan menulis saja itu udah buat saya seneng, kalaupun dapat rejeki dari ngeblog itu saya anggap kayak bonus atas usaha saya selama ini.

Kalau teman-teman? Seringkah dapat job review? Bagi dong pengalamannya



Monday, March 9, 2015

Menjadi Blogger Profesional, Bisakah?

8:28:00 PM 25 Comments
Liga Blogger Indonesia 2015 kini memasuki pekan ke-10. Tema yang diangkat minggu ini adalah menjadi blogger profesional. Lagi-lagi agak menggelitik saya ketika harus menuliskannya, karena akan sangat lucu jika saya menuliskan kiat atau cara menjadi blogger profesional tapi saya sendiri masih jauh dari anak tangga blogger profesional hehe...

source: google.com

Bicara tentang profesional, mungkin pembaca sudah mengetahui pengertian profesional. Dari banyak pengertian secara garis besar bisa dikatakan bahwa profesional itu adalah "ahli" dalam bidangnya. Begitu pun dengan blogger profesional atau yang juga disebut problogger, merupakan blogger yang memiliki keahlian dalam ngeblog dan juga blogger yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas ngeblog.

Jika dilihat dari berbagai sisi, bagaimanapun jika dibandingkan dengan blogger amatiran seperti saya, seorang blogger profesional tentulah banyak mendapatkan "rejeki" dari aktivitas ngeblognya. Sebut saja Darren Rowse, pemilik problogger.net yang sering disebut Bapak Blogger yang menghasilkan uang dalam dunia ngeblog dengan penghasilan rata-rata 1 milyar per tahun.

Iri memang sama blogger profesional yang sudah malang melintang di jagad blog. Tapi setelah ditelusuri ternyata menjadi blogger profesional itu tidaklah instan, tidaklah mudah. Saya dulu mikir, cukup update postingan satu kali sehari, maka saya akan bisa jadi blogger profesional. hihi.. lucu deh, padahal kalau saya baca, ternyata para blogger profesional itu satu hari bisa update puluhan puluhan postingan dengan page views yang jutaan. amazing...

***
Seperti yang sudah saya singgung di atas, ternyata menjadi blogger profesional butuh keseriusan dan kerja keras dalam menggeluti profesi sebagai blogger. kemampuan saja tidak cukup ternyata.

Orang-orang yang kemampuannya biasa saja, tetapi karena mampu menjalankan pekerjaannya secara profesional, penuh etika dan moralitasnya tinggi, akhirnya prestasi mereka melejit dan meraih kesuksesan. 

Ingin menjadi blogger profesional berarti kita harus siap dengan beberapa hal berikut:
1. Punya keahlian ngeblog. Keahlian bukan hanya sebatas membuat blog lalu menuliskannya, keahlian editing, seo, marketing, pun diperlukan.
2. Mendedikasikan diri dan waktu untuk membangun dan mengembangkan blognya.
3. Kreatif, inovatif yang sangat diperlukan agar bisa menuliskan sesuatu yang orisinil dengan kualitas tulisan yang mumpuni.
4. Punya jaringan yang luas.
5. Kemampuan komunikasi, termasuk kemampuan bahasa inggris yang baik

Lalu Bisakah kita Jadi Blogger Profesional
Jawabannya tentu bisa. Seorang blogger profesional tentu melewati banyak fase hingga menjadi seperti mereka sekarang. Butuh keseriusan, kerja keras dan pantang menyerah untuk itu. Jika kita mau berusaha, insyaAllah bisa.

Terakhir walaupun Image blogger profesional memang seringkali diidentikkan sebagai blogger yang memiliki penghasilan dari aktivitas ngeblognya. Tapi menurut saya pribadi, profesional harusnya nggak melulu disangkut pautkan dengan uang. Toh banyak profesi lain seperti dokter atau guru yang tetap profesional dalam mengabdikan dirinya pada masyarakat tanpa digaji dan mendapatkan uang. Harapannya juga begitu dengan blogger profesional, tetap mau berbagi walau tanpa digaji ;)

Monday, March 2, 2015

Nyalakan Semangat Ngeblogmu

8:25:00 PM 19 Comments
Liga Blogger Indonesia 2015 telah memasuki pekan kesembilan. Layaknya sebuah pertandingan lari dengan jarak tempuh yang jauh, sebagian peserta mulai lelah, bahkan memilih berhenti sebelum garis finish. Banyak faktor yang mungkin mempengaruhi. Salah satunya kesibukan di dunia nyata yang tentu tidak bisa dilalaikan begitu saja. Namun ini hanyalah masalah pilihan, mau atau tidak. Jika memilih ingin meneruskan pertandingan hingga selesai seyogyanya akan berusaha untuk menjalaninya, dan jika ingin berhenti tentulah itu hak masing-masing yang tidak bisa kita interupsi.

Sungguh, menulis tema pekan ini tentang tips agar semangat ngeblog tetap menyala adalah hal yang sulit bagi saya. Bukannya sulit menuliskan kata-kata, tapi sulitnya mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis. Jujur saya akui, saya bukanlah blogger yang konsisten terus untuk ngeblog. Ada-ada saja halangan yang kadang membuat semangat saya kendor lalu memilih menelantarkan blog berhari-hari. Tapi syukurlah, disaat semangat saya mulai redup, ada-ada saja hal yang membuat semangat ngeblog bangkit lagi. Berikut beberapa Tips agar semangat ngeblog tetap menyala di ajang LBI 2015 ala saya.

Ciptakan Suasana Nyaman Saat Menulis
Nyaman sangat penting ketika ingin menulis. Saya biasanya sebelum menulis atau ngeblog tidak ingin dalam kondisi terburu-buru. Jika di rumah, saya akan membereskan pekerjaan rumah hingga selesai lalu baru deh ngeblog :) kadang-kadang sembari mendengarkan musik pun bisa bikin nyaman.

Siapkan Cemilan, Air Putih Bening, dan Bacaan



Biasanya saya kalau sudah  kelamaan ngeblog sering kehausan dan nggak terasa tenggorokan sakit plus mata perih, dan ini kadang bikin kita malas untuk ngeblog. Jadi saya mensiasatinya dengan menyiapkan cemilan (biasanya saya siapkan potongan buah) juga air agar bisa terus segar :)
Buku bacaan pun sering saya siapkan jika saya agak jenuh agar bisa mendapatkan inspirasi lagi.

Refreshing
Siapa yang bosan kalau seharian hanya didepan layar komputer? :D Saya termasuk diantaranya. Jadi refreshing butuh banget untuk menjaga semangat ngeblog. Refreshing nggak mesti jauh-jauh kok. Jalan-jalan sore sama anak, berkebun, crafting, masak-masak atau silaturahmi ke tetangga atau kerabat bisa jadi alternatif mengusir kepenatan saya :)

disela-sela waktu saya hobby buat papercraft :)

Ngeblog Bukan Hanya Kontes
Tidak bisa dipungkiri, bagi saya pribadi kontes ataupun lomba blog punya ruang spesial untuk memacu menyalakan semangat ngeblog. Kadangkala rasa kecewa menghampiri saat saya kalah dalam sebuah lomba. Namun prinsip nggak selamanya menang, nggak selamanya kalah bisa bikin saya nggak sedih-sedih banget. Toh kalaupun kalah, kita sudah dapat banyak manfaat: Update blog, mengasah kemampuan menulis, banyak dapat teman juga. Sesekali saya update blog bukan demi "kontes", agar saya  nggak melulu kontes hehe...

Bersyukurlah dan Manfaatkan Waktumu
Sebelum melahirkan, saya termasuk orang yang suka bermalas-malasan di waktu senggang. Banyak waktu saya terbuang dengan percuma. Padahal dengan waktu senggang yang banyak, saya bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat termasuk menulis. Sedangkan banyak orang yang padat sekali kesibukannya masih sempat untuk terus mengupdate blognya. Ya lagi-lagi ini bukan masalah sibuk atau tidak, tapi mau atau tidak !

Namun setelah melahirkan dan menjadi seorang ibu dengan bayi yang masih sulit untuk ditinggal, saya jadi sadar bahwa waktu senggang bahkan beberapa menitpun sangatlah berharga. Setiap harinya saya memanfaatkan waktu anak saya (Ubay) tidur untuk menulis dan mengurus rumah. Jadi sahabat, sebelum waktu senggangmu semakin sedikit. Bersyukurlah, lalu isilah waktumu untuk hal yang bermanfaat ^_^

Ubah Mindset
Terakhir yang menurut saya begitu penting adalah mengubah mindset tentang ngeblog. Mengubah pola pikir dari apa yang bisa blog berikan pada saya? dengan apa yang bisa saya berikan dengan ngeblog? 

Yup, semoga saja dengan menggalakkan semangat untuk berbagi lewat ngblog, semangat ngeblog kita terus menyala dan kebaikan pun akan datang dengan sendirinya.

Ayo Nyalakan Semangat Ngeblogmu :)

Akila Dempo (I)

12:54:00 PM 1 Comments
Hujan datang lagi. Mengguyur jalanan kota yang hampir gersang termakan matahari. Rintiknya menelurkan bermacam respon yang terbilang cukup aneh dari para mahasiswi. Ada yang mensyukuri karena artinya Pak Dosen tak kan hadir hari ini karena lebih memilih duduk di beranda rumahnya dengan secangkir kopi. Namun ada pula yang mengutuki karena make up menor yang menutupi ketidaksempurnaan wajahnya harus luntur dan belepotan. Seperti Picki yang sedari tadi mengeringkan rambutnya yang basah dan menata ulang riasan wajahnya.
“Bete deh, kenapa sih hujan terus November ini.” Ucapnya sambil mengoleskan lipstick di bibirnya yang sedikit dimajukan. Aku memperhatikannya. Lebih tepat dengan pandangan  tidak suka. Mulut bawelnya itu sudah memecahkan konsentrasiku untuk menamatkan Novel Please Look After Mom yang harusnya kuselesaikan.
“Kenapa sih liat-liat La? Nggak suka?” dia mulai sewot.
“Kamu yang kenapa? Ribet amat, cuma hujan juga.” Aku melotot sebelum akhirnya membalikkan tubuhku untuk melanjutkan lembar terakhir novel. Rasa penasaranku dengan akhir pencarian anak-anak Park Son You untuk menemukannya begitu menggebu dibanding harus mendengar ocehan Picki.  Rupanya wanita langsing dengan pakaian ketat itu tak bisa terima dengan sikap jutekku. Ia lalu berdiri didepanku, mengambil buku yang kubaca dan mengangkat buku itu tinggi-tinggi, hingga bulu ketiak halusnya hampir saja terlihat. Sontak saja aku tertawa terpingkal-pingkal yang membuatnya tambah emosi.
“Dasar cewek udik, orang marah malah diketawain!” iya membanting bukuku dan melambung ke lantai yang becek. Ku ambil buku bercover hijau itu perlahan dan kembali tertawa, kali ini dengan sedikit senyuman mengejek.
“Hahaa, yang udik itu siapa! Kenyataannya begini, kamu protes karena hari ini hujan, mau protes ke siapa? Mau protes sama Tuhan? Bersyukur donk hujan itu dikasih buat penyeimbang, kalau setiap hari kering terus, muka kamu yang putih itu juga bisa gosong tau. Kedua, kamu bener-bener udik karena…” aku menutup mulut menahan tawa.
“Apa?” muka Picki kini memerah.
“Aku bukan bermaksud untuk mempermalukan kamu loh, aku jujur nih, kamu ini pake baju ketat hampir kayak baju you can see tapi kok…”
“Tapi apa!” teriaknya.
“Tapi kok ketiak mu belum dicukur hahaha…” pernyataanku itu sontak membuat seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Picky yang awalnya emosi tiba-tiba diam menahan malu, lalu ia keluar dari kelas dan bisa kulihat ia meneteskan air mata.

Inilah aku Akila Dempo. Perempuan yang hampir tak bisa menjaga kata-kata. Entah karena keterbatasan kosakata atau karena tempramenku yang kasar dan urakan. Orang yang baru pertama kali melihatku, pasti tak ingin mengenal lebih jauh. Dan orang yang sudah mengenalku tak ingin bersahabat denganku. Bahkan orang yang sudah bersahabat denganku lebih memilih meninggalkanku.
bersambung

Dempo, A Mountain to Remember

12:52:00 PM 0 Comments
Bengkulu diguyur hujan. Titik air penuh berkah itu tak sengaja jatuh di pipiku, sensasi dingin menjalari. Perlahan kubentangkan tangan, mencoba menampung kesejukannya.
“Kira…  pasti mau mandi hujan lagi kan?” hampir berlari kulihat Mbak Arin keluar dari Radio, menyuruhku untuk menghindar dari guyuran hujan. Hanya kujawab dengan senyum tertahan. “Ayolah ini Cuma masalah cowok  kamu nggak boleh kayak gini. Dimana Kira yang bersemangat?!” aku diam lagi, Mbak Arin benar. Aku harusnya tidak terpuruk.
“Ada yang bisa kita lakukan untuk buat kamu semangat lagi.”
“Apa?” tiba-tiba aku jadi antusias.
“Hicking, Dempo? Gunung tertinggi di sumatera selatan 3.195 mdpl dan menantang. Kamu pasti suka.” Mba Arin terkekeh.
“Boleh, tapi aku mau besok.” Ujarku menantang.
“Oke, siapa takut. Awas kalau kamu besok nggak datang, mbak tunggu di terminal bus Sarana Sakti jam 7 pagi.” Aku hampir tak percaya Mbak Arin seserius itu.

Esoknya aku tiba di terminal bus pukul tujuh, Bus Sarana Sakti sudah mulai parkir dan memanggil penumpang. Di luar ekspektasi ku yang mengharapkan perjalanan yang menyenangkan, namun malah sebaliknya. Kami punya tambahan personil lainnya, Mbak Yasmin yang cerewet dan Mas Rinto yang suka menggombal, serta penumpang bus yang semaunya bawa ayam dan sayuran menyengat. Lengkap sudah!

Setibanya di Pagar Alam pukul 3 sore kami langsung menuju rumah Mba Arin. Mabuk perjalananku langsung hilang ketika disajikan pempek khas Palembang kesukaanku, ditambah dengan segarnya teh asli Pagar Alam.

 “Dek Kira yakin mau tetap naik nih, padahal kan demam.” Tanya mas Rinto mencemaskan kondisiku yang alergi karena perubahan cuaca, badanku memerah dan sedikit lemas.
“Yang bener aja mas udah sejauh ini terus aku nanti ditinggal sendirian”
“Hahaha, ya udah adikku ayo cepat naikkan barang ke mobil keburu siang nanti.” Ujar mba Arin.

Ditemani Gilang dan Ardi sepupu mbak arin kami kami menuju ke Gunung Demp  dengan menggunakan mobil dulu untuk sampai di pos awal yang dikenal dengan Tugu Rimau.Mabukku sedikit berkurang karena perjalanan kali ini aku melihat hamparan kebun teh yang luas. Berwarna hijau cerah, Jalannya berkelok dan sesekali kulihat petani teh tersenyum ramah.

 “Apa yang dilarang di gunung ini Lang,” tanyaku antusias pada gilang.
“Yah seperti layaknya kita mendaki gunung, tidak boleh mengambil apapun selain foto dan tidak boleh meninggalkan apapun selain jejak.” Gilang menjelaskan dengan serius.

setelah melapor di Pos, kami mulai mendaki dengan tidak lupa berdo’a dahulu. Gilang memimpin pendakian. Sepanjang perjalanan menuju shelter 1 kami dikelilingi pepohonan yang masih sangat asri dan jalanan yang cukup terjal. Trek di Gunung Dempo cukup menantang. Jalan setapak penuh dengan akar yang melintang, kemiringan lereng sendiri cukup curam untuk memeras keringat.
Entah kenapa aku ingin melihat kebelakang, namun tiba-tiba kepalaku terasa pusing, ada kabut yang begitu tebal di penglihatanku.
“Kalau mendaki tidak usah melihat kebelakang Kira! Nanti kamu pusing”Aku mengangguk, namun aku tidak tahan lagi dan secara tiba-tiba aku muntah. Mba Yasmin memberikanku teh hangat hingga merasa membaik.

“Tetap tenang ya, jangan pikirkan macam-macam. Ayo kita lanjut lagi, nanti di shelter 1 baru kita akan makan.” Mba Arin merangkulku Hingga aku bisa berjalan sendiri.
Perjalanan menuju Shelter 2 hingga ke puncak agak terasa berat. Jalan setapak yang mulanya tidak terlalu sulit kini dipenuhi dengan kerikil dan bebatuan. Area yang menurutku begitu sulit adalah ketika kemiringan jalan yang kami harus lalui mencapai 90 drajat, yang berarti harus menggunakan tali tambang untuk menaikinya. Dibantu oleh Gilang dan Ardi akhirnya kami bisa melewatinya.

“Allahuakbar, ini benar-benar best adventure mbak,” teriakku bersemangat. Yang lain malah tertawa.  Kami juga menemukan bunga panjang umur yang katanya tidak akan layu jika sudah mati.
Kami terus berjalan Hingga memasuki daerah dengan vegetasi tumbuhan berpohon rendah dan semakin rendah, beberapa daerah agak terbuka, pandangan pun menjadi luas.

“Teman-teman. Kita memasuki daerah yang dipenuhi dengan lumut. Yang berarti sebentar lagi kita akan sampai di top dempo.” Gilang tersenyum misterius. Benar saja, saat melihat semua pepohonan dan bebatuan dihinggapi lumut berwarna coklat kehijauan, kudukku tiba-tiba merinding. Terbayang film-film misteri di kepalaku. Namun langsung kuhilangkan agar tidak mengganggu perjalananku. Tak lama berselang, kami tiba di top dempo. Puncak pertama Dempo ternyata dataran masif, yang itumbuhi tanaman yang rendah mirip perdu. Dari puncak pertama ini kami turun kembali ke lembah yang diapit oleh puncak pertama dan puncak utama.  Ada beberapa pendaki dari Lampung dan Riau yang kesemuanya laki-laki.

“Puncak Dempo memang hanya dataran masif, yang menganggumkan adalah Top merapi disana. Karena sudah sore, kita ke Merapi besok pagi, biasanya kawah terbuka di pagi hari. Sekarang kita bikin perkemahan ya, yang mau bersih-bersih ada mata air di ujung sana.” Ardi menunjuk ke arah 

“Subhanallah airnya membeku,” sorakku pada yang lainnya. Mata air yang disebutkan ardi ini sebagian telah membeku seperti bongkahan es. Airnya sangat jernih dan dingin, namun saat aku meminumnya agak terasa kecut dan asam.“Airnya asam karena rembesan belerang. Tapi semoga kita nggak sakit minumnya. Hehe.. Baca bismillah jangan lupa.” Ucap Mba Arin.

***
Malam harinya kami tidak bisa tidur, angin bertiup kencang diiringi hujan, kami kedinginan di dalam tenda karena tidak bisa membuat api unggun. Syukurlah kami bisa bertahan hingga pagi menjelang.
Pendakian kepuncak utama tidak terlalu sulit. Lerengnya terdiri dari kerikil dan batu-batu dengan kemitingan sekitar 40°, cukup stabil untuk didaki. Puncak utama gunung Dempu Merupakan kawah gunung berapi yang masih bergejolak. Dinding kawah cukup terjal dan tidak mungkin bisa dituruni tanpa batuan tali temali. Pemandangan dari puncak sangat mengasyikan. Selain kawah yang memberikan kesan khusus, tampak juga terhamparan provinsi Bengkulu dengan hamparan lembah yang sunyi dan hening.  Mas Rinto mengambil posisi dan melantunkan adzan dengan merdu, kami mendengarkan dengan khusuk dan setalah itu sujud bersamaan. Begivftu besar keagungan sang Pencipta. Begitu kecilnya kami di hadapan-Nya.

***
Setelah cukup puas mengambil foto, akhirnya kami mulai untuk turun. Ada kejadian yang membuat kami begitu cemas. Di tengah perjalanan, Mba Arin merasa tubuhnya kaku dan lemas. Ia tidak bisa berjalan, sehingga secara bergantian Ardi dan Gilang menggendong.

“Kira dengan Mbak Yasmin tolong bawa tas ini ya, kalian turun dahulu. Ikuti saja tali kuning yang sudah kita pasang” Kami menuruti keinginan Gilang.

Aku dan Mbak Yasmin berusaha secepat mungkin untuk turun. Bahkan kami menggelindingkan tas bawaan agar tidak terlalu berat dan bisa segera tiba. Kecemasan ternyata bertambah saat di tengah perjalanan, tim pendaki dari Lampung berbalik lagi ke atas karena kehilangan dua teman mereka. Syukurlah, kami bisa segera tiba di Tugu Rimau dan melapor ke penjaga sehingga bisa membantu Mbak Arin untuk turun.

“Bagaimana Kira? Kamu masih nggak semangat?” walaupun masih lemas Mba Arin terus menggoda
“Nggak lah, gunung lebih menggiurkan dari laki-laki.” Ucapku sembari tertawa keras.


Petualangan di Gunung Dempo ini benar-benar mengasyikkan. Banyak kejadian yang akhirnya bisa ku ambil hikmah. ada beberapa rahasia yang sengaja tak kutanyakan di perjalanan kepada teman-teman. Diantaranya aku mendengar suara orang membaca Al-Quran saat perjalanan turun, dan aku memperhatikan sepanjang perjalanan kami diikuti oleh lalat . Hingga suatu waktu aku tanyakan pada Gilang. Ia hanya terkekeh. “Kalo lalat itu keponakan, kalau kamu dengar orang mengaji berarti Alhamdulillah, daripada aku dengar suara raungan motor!” kami berdua terkekeh dan berjanji suatu saat nanti akan kembali mendaki Gunung Dempo, a mountain to remember!