Follow Us @soratemplates

Saturday, February 16, 2019

Sekulumit Nostalgia yang Membuat Kami Ingin Kembali ke Yogyakarta

 “Kangen deh sama Yogya, suasana juga masyarakatnya.” Ucap suami saya saat kami sedang duduk menikmati pisang goreng hangat. Wajar aja sih Yogya punya tempat di hatinya. Saya aja yang cuma dua kali mampir ke yogya dalam waktu singkat pengen balik lagi kesana, apalagi dia yang sempat dua tahun jadi warga yogya saat kuliah di Amikom.

Saya jadi terkenang saat pertama kali ke Yogya untuk pelatihan SAR. Ternyata kami datang lebih cepat dari jadwal acara dan tertidur saat bus melewati titik kumpul di kantor Muhammadiyah Jalan KH.Dahlan. Saat itu suasana masih gelap, kami kebingungan hingga dibantu bapak pengayuh becak yang sangat ramah dan santun. Khas orang Yogyakarta. Alhamdulillah akhirnya bisa tiba di kantor Muhammadiyah, sayangnya sih karena wanita saya dan mba Inza nggak boleh nginap di sana. Lalu pimpinan hizbul wathan mencarikan hotel yang tidak jauh dari kantor.

Jalan-Jalan ke Malioboro

Ada hikmahnya datang lebih cepat. Saya bisa memanfaatkan waktu untuk mengitari Yogyakarta sebelum acara dimulai esok harinya. Saya dan mba inza di ajak jalan-jalan oleh Pimpinan Hizbul Wathan ke Malioboro. Katanya tidak ke Yogya kalau belum pernah mampir ke Malioboro.

Mailoboro. (sumber gambar: Traveloka)

Semua serba ada sih disana, kuliner, oleh-oleh dan yang paling rame menurut saya adalah Pasar Beringharjo. Saat masuk saya bingung, kok rame banget. Orang lalu-lalang dan penjual dengan ramah menawarkan produknya. Ada banyak Batik (celana panjang, t-shirt, gaun, gelang dan lain-lain), sandal, blangkon) dan akesoris khas Yogya lainnya yang bisa dibeli. Saya pun membeli sebuah dompet untuk kenang-kenangan.
Oya selain itu kita bisa menonton beberapa paket pertunjukan seni di kawasan Malioboro. Banyak lo musisi yang nongkrong dan menunjukkan bakat mereka. Tambah seru deh jalan-jalan di sana.

Baca juga : Berkunjung ke Festival Bumi Rafflesia

Mencicipi Makanan Yogyakarta

Oya katanya lebih asyik berjalan-jalan Malioboro di malam hari. Malioboro adalah salah satu jalan terbaik untuk mencicipi makanan lokal yang murah. Ada banyak penjual Angkringan / Sego Kucing di sekitar jalan. Sego Kucing diterjemahkan sebagai beras kucing, terdiri dari sebagian kecil dari nasi dengan topping, biasanya saus pedas (sambal), ikan kering, dan tempe, dibungkus daun pisang. Harganya murah banget.

Ada juga pilihan menu lainnya seperti gudeg. Makanan ini unik sekali, terbuat dari nangka mentah muda direbus selama beberapa jam dengan gula aren, dan santan. Biasanya disajikan dengan nasi kukus dan ayam santan (opor ayam) atau telur pindang (telur rebus) dan dengan tahu atau tempe ditambah sambal goreng krecek. Ini enak sekali!

Gudeg (sumber gambar : goodindonesianfood.com)

Saya sempat berpikir, pasti asyik ya tinggal disini, makanan nya murah-murah. Namun, karena baru mencoba makanan yang semuanya cenderung manis saya harus menyiapkan sambal sendiri agar cocok di lidah saya yang terbiasa dengan masakan pedas hehee..

Mampir juga ke 5 Roti Tradisional dari Berbagai Penjuru Dunia

Pelatihan di Gunung Merapi

Tujuan utama saya datang adalah pelatihan di gunung merapi. Sebelumnya kami menginap di mess muhamamdiyah Kali Urang untuk mendapatkan materi dasar tentang SAR. Setelahnya izin selesai, barulah pendakian di mulai. Gunung Merapi memiliki pesonanya yang luar biasa. Hijau dan subur, teduh dan angin yang begitu sejuk.
Selama 3 hari saya dan kawan-kawan berpetualang di sana hingga ke puncak. Luar biasa capeknya namun tetap bahagia karena bisa menjalani pelatihan hingga akhir.

Oya setelahnya kami diajak untuk melihat peninggalan dari lahar merapi. Banyak juga wisatawan yang berkunjung. Bagi yang enggan bersusah-susah mendaki gunung Merapi, kegiatan naik jeep atau lava tour bisa menjadi alternatif untuk menyapa Merapi ketika bertandang ke Jogjakarta. Ada lava tour yang mengajak kita berkeliling daerah yang tertimpa lahar Merapi. Salah satu yang paling menarik adalah kunjungan ke Museum Sisa Hartaku.

Mampir ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Saat menikmati sore di Yogya di sekitaran keraton, ada iring-iringan lewat. Kata teman saya itu ada pihak Kraton mau masuk. Jalanan tiba-tiba jadi rame dan saya pun jadi penasaran mau ngintip. Tapi nggak bisa karena terhadang banyaknya orang.

Oya Keraton ini bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga tempat wisata budaya. Biasanya wisatawan berkunjung untuk melihat berbagai hal yang berbau adat dan bersifat tradisional di sana. Ada yang unik nih dari arsitektur Keraton! seluruh pintu di keraton memiliki warna hijau dengan hiasan lis kuning. Perpaduan warna ini menjadi ciri khas sendiri bagi keraton.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibuka mulai pukul 09.00 pagi. Tarif tiketnya Rp7.000 untuk wisatawan lokal dan Rp12.500 khusus turis asing. Biaya tersebut berlaku hanya untuk melihat paket budaya dan adat di bagian depan keraton. Kalau ingin ke bagian keraton lainnya, wisatawan harus membeli tiket lagi.

Keraton (sumber gambar : kratonjogja.id)

Walau belum masih banyak yang di kunjungi di Yogyakarta saya harus pulang saat itu dan ingin kembali di lain waktu. Selalu bilang sama suami kalo punya rejeki ingin ajak anak-anak sekalian kesana untuk nikmati liburan. Ada banyak destinasi yang menarik dan sangat disayangkan untuk dilewatkan.

Sekarang mau merencanakan liburan ke Yogyakarta lebih mudah. Kita bisa memilih tiket pesawat dan hotel yang sesuai dengan budget dan kebutuhan. Jika tidak ingin repot memesan secara terpisah, bisa manfaatkan paket wisata Yogyakarta yang bisa kalian di cek disini https://www.traveloka.com/packages/indonesia/city/yogyakarta-jogja-107442 . Selain jadi lebih mudah, paket wisata ini juga ternyata lebih hemat dibandingkan harus memesan secara terpisah. Liburan ke Yogyakarta pasti jadi lebih menyenangkan.

No comments:

Post a Comment

seperti hujan yang membawa kehangatan, sampaikanlah rindu untuk sang Penanti :)